OSCM Sesi 07

📺 Video Resources Sesi 07

Capacity Management: Playlist utama + video tambahan untuk Queuing Theory guna pemahaman yang komprehensif.

📺 PLAYLIST UTAMA 4 videos • ~87 menit

Capacity Planning Fundamentals

Tonton playlist ini untuk memahami dasar-dasar capacity planning: pengukuran kapasitas, break-even analysis, dan decision trees.

VIDEO TAMBAHAN Dari Business Decision Modeling

Teori Antrian (Queuing Theory)

Wajib ditonton setelah playlist! Video ini melengkapi materi yang tidak ada di playlist utama. Queuing theory penting untuk mengelola trade-off antara biaya layanan dan biaya menunggu.

📌 Topik yang Dibahas:
  • Waiting line models dan karakteristik antrian
  • Trade-off: Cost of service vs Cost of waiting
  • Single-server dan multi-server systems
  • Applications di service operations (bank, restoran, call center)

🎓 Urutan Menonton yang Direkomendasikan

1️⃣
Playlist Capacity Planning
S07.1 → S07.2 → S07.3 → S07.4
2️⃣
Video Queuing Theory
Waiting line analysis
3️⃣
Baca Materi Tertulis
Capacity strategies & workshop

💡 Tips: Video S07.4 dalam playlist sangat singkat (1:24). Untuk pemahaman mendalam tentang Lead, Lag, dan Match capacity strategies, silakan baca materi tertulis dengan teliti.

OSCM Sesi 07: Capacity Management

⚙️ OSCM – SESI 07

Capacity Management

Operations & Supply Chain Management

🎯 Tujuan Pembelajaran

  • Membedakan design capacity, effective capacity, dan actual output
  • Menghitung utilization dan efficiency sebagai metrik kinerja kapasitas
  • Menganalisis tiga strategi capacity: lead, lag, dan match
  • Menerapkan break-even analysis untuk keputusan kapasitas
  • Mengevaluasi keputusan kapasitas dalam kondisi ketidakpastian (decision theory)
  • Menerapkan waiting line analysis (queuing theory) untuk mengelola antrian
  • Memahami konsep capacity cushion dan economies/diseconomies of scale
  • WORKSHOP Melanjutkan fase Define (Round 02) — finalisasi problem statement

🎥 Video Kuliah: Capacity Management

📝 Panduan Menonton (Playlist):
  • Fokus: Capacity concepts, capacity strategies, break-even analysis, queuing theory, decision theory
  • Poin Kunci: Trade-off antara under-capacity (lost sales) dan over-capacity (idle cost); pentingnya capacity cushion
  • Siapkan kalkulator: untuk mengikuti contoh perhitungan break-even dan queuing
  • Catatan: Playlist berisi beberapa video — pilih yang relevan dengan topik capacity management
1. Fondasi Capacity Management: Mengukur Kemampuan Operasi

Apa itu Capacity?

Capacity adalah kapasitas maksimum suatu sistem operasi untuk menghasilkan output dalam periode waktu tertentu. Ini adalah batasan fundamental yang menentukan seberapa banyak value yang bisa diciptakan oleh sebuah operasi.

Mengapa Capacity Management Penting?
  • Too little capacity: Kehilangan pelanggan, sales turun, competitor ambil market share
  • Too much capacity: Biaya tetap tinggi, equipment menganggur, profit turun
  • Just right capacity: Optimal cost, customer satisfied, profit maximized

Tiga Ukuran Kapasitas

Tiga Level Kapasitas

100 units
Design
Capacity
75 units
Effective
Capacity
60 units
Actual
Output
Design Capacity (teoritis)
Effective Capacity (realistis)
Actual Output (aktual)
Ukuran Definisi Formula Contoh
Design Capacity Output maksimum teoritis dalam kondisi ideal (tanpa henti, tanpa gangguan) Maximum output per time period Pabrik didesain untuk 100 unit/jam (24 jam nonstop)
Effective Capacity Output maksimum yang realistis setelah dikurangi allowance (maintenance, break, setup, delay) Design Capacity − Allowances Setelah maintenance, break, setup = 75 unit/jam
Actual Output Output yang benar-benar diproduksi (dipengaruhi demand, masalah, dll) What is actually produced Karena demand hanya 60 unit/jam, actual = 60

Dua Metrik Kinerja Kapasitas

UTILIZATION = Actual Output / Design Capacity × 100%
EFFICIENCY = Actual Output / Effective Capacity × 100%
📊 Contoh Perhitungan:

Kasus: Pabrik roti
• Design capacity: 200 roti/hari (24 jam)
• Effective capacity: 150 roti/hari (ada maintenance, break, setup)
• Actual output: 120 roti/hari

Utilization: 120 / 200 = 60%
Efficiency: 120 / 150 = 80%

Interpretasi:
• Utilization 60% → masih ada kapasitas menganggur 40% (opportunity untuk marketing atau diversifikasi)
• Efficiency 80% → kinerja operasional baik, hanya 20% loss karena faktor yang bisa dikontrol

Hubungan Utilization dan Efficiency

Situasi Utilization Efficiency Interpretasi Action
Ideal Tinggi (>80%) Tinggi (>90%) Kapasitas terpakai baik, operasi efisien Maintain, pertimbangkan ekspansi
Underutilized Rendah (<60%) Tinggi (>90%) Operasi efisien tapi kapasitas menganggur Tingkatkan demand (marketing) atau kurangi kapasitas
Inefficient Tinggi (>80%) Rendah (<70%) Kapasitas terpakai tapi banyak waste Perbaiki proses, training, maintenance
Bahaya Rendah (<60%) Rendah (<70%) Kapasitas menganggur + tidak efisien Restructuring drastis atau exit

🌍 Contoh Global: Hotel Industry

Design Capacity: 200 kamar × 24 jam = 4,800 room-nights/bulan

Effective Capacity: 4,800 − 10% (maintenance, deep cleaning) = 4,320 room-nights/bulan

Actual Output: Occupancy rate 75% = 3,600 room-nights/bulan

Utilization: 3,600 / 4,800 = 75%

Efficiency: 3,600 / 4,320 = 83.3%

Insight: Hotel biasanya target occupancy 70-80% untuk balance revenue dan service quality. 100% occupancy = overbooking risk, guest complaint.

🇮🇩 Contoh Indonesia: KAI (Kereta Api Indonesia)

Design Capacity: Jumlah kursi × frekuensi perjalanan per hari

Effective Capacity: Design − allowance (maintenance, delay, cleaning)

Actual Output: Penumpang aktual yang terlayani

Challenge: Saat Lebaran, demand naik 300% → KAI harus tambah rangkaian (capacity lead strategy)

Strategy: Kereta tambahan, jadwal ekstra, harga dinamis (yield management)

Result: Occupancy rate naik dari 70% (normal) ke 95% (Lebaran), revenue naik 200%

2. Strategi Kapasitas: Lead, Lag, dan Match

Tiga Pendekatan Capacity Expansion

Keputusan kapan menambah kapasitas adalah strategic decision yang berdampak jangka panjang. Ada tiga pendekatan utama:

Strategi Kapan Tambah Kapasitas Risiko Kapan Dipakai Contoh
Capacity Lead
(tambah SEBELUM demand naik)
Antisipasi pertumbuhan demand Overcapacity jika demand tidak tumbuh sesuai prediksi Demand tumbuh cepat & predictable, biaya ekspansi rendah, competitive pressure tinggi Telco bangun tower sebelum user membludak
Capacity Lag
(tambah SETELAH demand naik)
Tunggu sampai kapasitas penuh Lost sales, customer kecewa, competitor ambil market Demand tidak pasti, biaya ekspansi tinggi, konservatif UMKM tambah karyawan setelah order menumpuk
Match Strategy
(tambah BARENG demand)
Incremental, bertahap sesuai pertumbuhan Moderate — balance antara lead dan lag Demand stabil, pertumbuhan bertahap, risiko moderate Indofood tambah pabrik bertahap sesuai market growth
Trade-off Analysis:
  • Lead strategy: High risk (overcapacity) vs high reward (capture market, no lost sales)
  • Lag strategy: Low risk (no overcapacity) vs low reward (lost sales, customer kecewa)
  • Match strategy: Moderate risk & reward — balance approach

🌍 Contoh Global: Amazon Web Services (AWS)

Strategy: Capacity Lead

Rationale:

  • Cloud computing demand tumbuh eksponensial
  • Customer expect instant availability (no waiting for server provisioning)
  • Competitive pressure dari Microsoft Azure, Google Cloud

Implementation:

  • Bangun data center 2-3 tahun sebelum demand puncak
  • Global footprint: 30+ regions, 90+ availability zones
  • Investment: $50+ billion per tahun untuk infrastructure

Result: Market leader 32% global cloud market, customer satisfaction tinggi

🇮🇩 Contoh Indonesia: PLN (Capacity Lead Strategy)

Strategy: Capacity Lead

Rationale:

  • Listrik adalah kebutuhan dasar — blackout tidak acceptable
  • Demand listrik Indonesia tumbuh 5-7% per tahun
  • Pembangunan pembangkit butuh 3-5 tahun

Implementation:

  • Rencana pembangunan pembangkit 10 tahun ke depan (RUPTL)
  • Diversifikasi: PLTU, PLTA, PLTS, PLTB, PLTG
  • Reserve margin: 20-30% (kapasitas berlebih untuk antisipasi)

Result: Blackout frequency turun drastis, electrification ratio 99%+

Capacity Cushion

Capacity cushion adalah jumlah kapasitas di atas expected demand — sebagai buffer untuk ketidakpastian.

CAPACITY CUSHION = Capacity − Expected Demand
CUSHION % = (Capacity − Expected Demand) / Expected Demand × 100%
Konteks Cushion yang Direkomendasikan Alasan
Demand sangat volatile 20-30% Antisipasi spike demand
Demand stabil 5-10% Cukup untuk variasi normal
Service critical (RS, listrik) 15-25% Tidak boleh ada stockout
Perishable goods (makanan) 5-10% Hindari waste
Custom/low volume 10-15% Antisipasi rush order

Economies & Diseconomies of Scale

Economies of Scale (Skala Ekonomi)

Biaya per unit turun seiring meningkatnya volume produksi.

Sumber Penjelasan Contoh
Fixed cost spreading Biaya tetap dibagi ke lebih banyak unit Pabrik Rp 10M, produksi 10K unit = Rp 1K/unit; 100K unit = Rp 100/unit
Volume discounts Supplier kasih diskon untuk pembelian besar Beli 1 ton bahan = Rp 10K/kg; 10 ton = Rp 8K/kg
Specialized equipment Mesin besar lebih efisien per unit Mesin 1000 unit/jam lebih murah per unit dari 10 mesin 100 unit/jam
Learning curve Pekerja semakin terampil dengan repetisi Setiap doubling output, waktu produksi turun 10-20%

Diseconomies of Scale (Skala Tidak Ekonomi)

Biaya per unit naik setelah volume melewati titik optimal.

Sumber Penjelasan Contoh
Coordination cost Semakin besar organisasi, semakin sulit koordinasi Meeting berjenjang, birokrasi, komunikasi lambat
Complexity Sistem menjadi kompleks, sulit dikelola Supply chain global dengan 1000+ supplier
Worker alienation Pekerja merasa seperti “cog in the machine” Assembly line worker hanya pasang 1 baut berulang
Inventory cost WIP dan finished goods inventory menumpuk Gudang penuh, biaya holding tinggi
Minimum Efficient Scale (MES):
Titik volume minimum di mana economies of scale habis dan diseconomies mulai muncul. Di bawah MES = tidak kompetitif. Di atas MES = biaya naik.

Contoh:
• Pabrik semen: MES = 1 juta ton/tahun
• Pabrik mobil: MES = 200,000 unit/tahun
• Restoran: MES = 100 kursi (di atas itu, service quality turun)

🇮🇩 Contoh Indonesia: Pabrik Semen Indonesia

Economies of Scale:

  • Kiln besar (5,000 ton/hari) lebih efisien dari kiln kecil (500 ton/hari)
  • Volume discount untuk batu bara, clinker
  • Fixed cost (pabrik, tambang) dibagi ke jutaan ton

MES: 1 juta ton/tahun

Result: SIG (Semen Indonesia Group) bangun pabrik 3 juta ton/tahun di Rembang — cost per ton 30% lebih rendah dari pabrik kecil

3. Break-Even Analysis: Menentukan Kelayakan Investasi Kapasitas

Apa itu Break-Even Analysis?

Break-even analysis adalah teknik untuk menentukan volume output di mana total revenue = total cost (laba = 0). Di atas BEP = profit, di bawah BEP = loss.

TOTAL REVENUE = PRICE × QUANTITY
TOTAL COST = FIXED COST + (VARIABLE COST × QUANTITY)
BREAK-EVEN POINT (BEP) = FIXED COST / (PRICE − VARIABLE COST)
BEP (units) = FC / (P − VC)
Komponen:
  • FC (Fixed Cost): Biaya yang tidak berubah dengan volume (sewa, gaji tetap, depresiasi)
  • VC (Variable Cost): Biaya yang berubah proporsional dengan volume (bahan baku, upah langsung, listrik produksi)
  • P (Price): Harga jual per unit
  • (P − VC): Contribution margin — kontribusi setiap unit untuk menutup fixed cost
📊 Contoh: Investasi Mesin Baru

Data:
• Fixed cost (sewa mesin + operator): Rp 50 juta/bulan
• Variable cost per unit: Rp 10,000
• Harga jual per unit: Rp 25,000

BEP:
BEP = 50,000,000 / (25,000 − 10,000)
BEP = 50,000,000 / 15,000
BEP = 3,333 unit/bulan

Interpretasi:
• Jika produksi < 3,333 unit/bulan → LOSS
• Jika produksi = 3,333 unit/bulan → BREAK EVEN
• Jika produksi > 3,333 unit/bulan → PROFIT

Contoh: Produksi 5,000 unit/bulan
• Revenue: 5,000 × 25,000 = Rp 125 juta
• Total cost: 50 juta + (5,000 × 10,000) = Rp 100 juta
Profit: Rp 25 juta/bulan

Break-Even untuk Multiple Alternatives

Seringkali ada beberapa alternatif investasi (misal: mesin A vs mesin B). BEP membantu memilih yang paling ekonomis.

📊 Contoh: Pilih Mesin A atau B?

Mesin AMesin B
Fixed CostRp 100 jutaRp 200 juta
Variable Cost/unitRp 15,000Rp 10,000
Harga JualRp 25,000Rp 25,000
BEP Mesin A: 100,000,000 / (25,000 − 15,000) = 10,000 unit
BEP Mesin B: 200,000,000 / (25,000 − 10,000) = 13,333 unit

Crossover Point: Volume di mana total cost A = total cost B
100M + 15,000Q = 200M + 10,000Q
5,000Q = 100M
Q = 20,000 unit

Keputusan:
• Jika demand < 20,000 unit → pilih Mesin A (FC lebih rendah)
• Jika demand > 20,000 unit → pilih Mesin B (VC lebih rendah, economies of scale)

🇮🇩 Contoh: UMKM Keripik Pertimbangkan Mesin Vacuum Fryer

Current (manual):

  • FC: Rp 5 juta/bulan (sewa tempat, gaji 3 pekerja)
  • VC: Rp 8,000/bungkus (bahan, minyak, kemasan)
  • Price: Rp 15,000/bungkus
  • BEP: 5,000,000 / (15,000 − 8,000) = 714 bungkus/bulan

Option: Mesin Vacuum Fryer (Rp 150 juta):

  • FC: Rp 12 juta/bulan (sewa + cicilan mesin + gaji 2 pekerja)
  • VC: Rp 6,000/bungkus (lebih hemat minyak, tenaga kerja kurang)
  • Price: Rp 15,000/bungkus
  • BEP: 12,000,000 / (15,000 − 6,000) = 1,333 bungkus/bulan

Crossover: 5M + 8,000Q = 12M + 6,000Q → 2,000Q = 7M → Q = 3,500 bungkus

Keputusan:

  • Jika demand < 3,500 bungkus/bulan → tetap manual
  • Jika demand > 3,500 bungkus/bulan → invest mesin vacuum fryer

Limitasi Break-Even Analysis

Limitasi Penjelasan
Asumsi linear FC dan VC dianggap konstan — realita bisa step-function atau kurva
Single product Sulit untuk multi-product (butuh weighted average)
Static Tidak memperhitungkan time value of money, inflasi
Price constant Harga jual bisa turun jika volume naik (discount)
No uncertainty Tidak memperhitungkan risiko demand, supply disruption
4. Decision Theory: Kapasitas dalam Ketidakpastian CORE

Mengapa Decision Theory Penting?

Keputusan kapasitas sering dibuat dalam kondisi ketidakpastian — kita tidak tahu pasti berapa demand di masa depan. Decision theory menyediakan framework untuk memilih alternatif terbaik meskipun ada ketidakpastian.

Payoff Table

Tabel yang menunjukkan profit/loss untuk setiap kombinasi alternatif dan state of nature.

📊 Contoh: Pilih Ukuran Pabrik

AlternatifDemand Rendah (30%)Demand Sedang (50%)Demand Tinggi (20%)
Pabrik KecilRp 100 jutaRp 150 jutaRp 200 juta
Pabrik SedangRp 50 jutaRp 250 jutaRp 400 juta
Pabrik Besar-Rp 50 jutaRp 200 jutaRp 600 juta
Probabilitas: Rendah 30%, Sedang 50%, Tinggi 20%

Kriteria Keputusan (Tanpa Probabilitas)

1. Maximax (Optimist)

Pilih alternatif dengan payoff maksimum tertinggi — untuk optimis.

Pabrik Kecil: max = 200
Pabrik Sedang: max = 400
Pabrik Besar: max = 600 ← PILIH

2. Maximin (Pessimist / Wald Criterion)

Pilih alternatif dengan payoff minimum tertinggi — untuk pesimis.

Pabrik Kecil: min = 100
Pabrik Sedang: min = 50
Pabrik Besar: min = -50
PILIH: Pabrik Kecil (min tertinggi = 100)

3. Minimax Regret (Savage Criterion)

Minimalkan regret maksimum — regret = selisih antara payoff aktual dengan payoff terbaik yang mungkin.

Regret Table:

AlternatifDemand RendahDemand SedangDemand TinggiMax Regret
Pabrik Kecil0100400400
Pabrik Sedang500200200
Pabrik Besar150500150 ← PILIH
Perhitungan Regret:
Demand Rendah: best = 100 (kecil). Regret kecil = 0, sedang = 100-50 = 50, besar = 100-(-50) = 150
Demand Sedang: best = 250 (sedang). Regret kecil = 250-150 = 100, sedang = 0, besar = 250-200 = 50
Demand Tinggi: best = 600 (besar). Regret kecil = 600-200 = 400, sedang = 600-400 = 200, besar = 0

Minimax regret: Pilih Pabrik Besar (max regret terkecil = 150)

4. Laplace Criterion (Equal Likelihood)

Asumsikan semua state of nature equally likely, hitung rata-rata payoff.

Pabrik Kecil: (100 + 150 + 200) / 3 = 150
Pabrik Sedang: (50 + 250 + 400) / 3 = 233.3
Pabrik Besar: (-50 + 200 + 600) / 3 = 250PILIH

5. Hurwicz Criterion (Realism)

Weighted average antara payoff terbaik dan terburuk, dengan koefisien α (0 ≤ α ≤ 1).

H = α × (max payoff) + (1 − α) × (min payoff)

α = 1 → maximax (optimis), α = 0 → maximin (pesimis)

Contoh dengan α = 0.7 (cenderung optimis):

Pabrik Kecil: 0.7(200) + 0.3(100) = 140 + 30 = 170
Pabrik Sedang: 0.7(400) + 0.3(50) = 280 + 15 = 295
Pabrik Besar: 0.7(600) + 0.3(-50) = 420 − 15 = 405PILIH

Kriteria Keputusan (Dengan Probabilitas)

Expected Monetary Value (EMV)

Hitung expected value untuk setiap alternatif berdasarkan probabilitas.

EMV = Σ (Probability × Payoff)
Perhitungan EMV:

Pabrik Kecil: 0.3(100) + 0.5(150) + 0.2(200) = 30 + 75 + 40 = 145
Pabrik Sedang: 0.3(50) + 0.5(250) + 0.2(400) = 15 + 125 + 80 = 220
Pabrik Besar: 0.3(-50) + 0.5(200) + 0.2(600) = -15 + 100 + 120 = 205

PILIH: Pabrik Sedang (EMV tertinggi = 220 juta)

Expected Value of Perfect Information (EVPI)

Berapa nilai informasi sempurna (jika kita tahu pasti demand di masa depan)?

EVPI = Expected Value with Perfect Information (EVwPI) − Maximum EMV
Perhitungan EVPI:

EVwPI: Jika tahu pasti demand, selalu pilih alternatif terbaik
= 0.3(100) + 0.5(250) + 0.2(600)
= 30 + 125 + 120 = 275

Maximum EMV: 220 (Pabrik Sedang)

EVPI: 275 − 220 = 55 juta

Interpretasi: Kita bersedia bayar sampai Rp 55 juta untuk informasi sempurna tentang demand masa depan.

Decision Tree

Visualisasi keputusan berurutan dengan probabilitas dan payoff di setiap cabang.

Kapan pakai Decision Tree:
  • Keputusan berurutan (sequential)
  • Ada keputusan lanjutan setelah uncertainty terungkap
  • Multiple stages (misal: invest sekarang, expand nanti)

🇮🇩 Contoh: Startup E-commerce Putuskan Kapasitas Server

Decision: Sewa server kecil (Rp 50 juta/tahun), sedang (Rp 100 juta), atau besar (Rp 200 juta)?

Uncertainty: User growth 1 juta (30%), 5 juta (50%), 10 juta (20%)

Payoff (profit, juta/tahun):

Server1M user5M user10M user
Kecil100150100 (overload, lost revenue)
Sedang50250300
Besar-50150500

EMV:

  • Kecil: 0.3(100) + 0.5(150) + 0.2(100) = 125
  • Sedang: 0.3(50) + 0.5(250) + 0.2(300) = 200 ← PILIH
  • Besar: 0.3(-50) + 0.5(150) + 0.2(500) = 160

Keputusan: Sewa server sedang (EMV tertinggi)

5. Waiting Line Analysis (Queuing Theory) CORE

Apa itu Queuing Theory?

Queuing theory adalah studi matematis tentang antrian — menganalisis trade-off antara biaya menyediakan layanan dan biaya menunggu.

Trade-off Fundamental:
  • Tambah server → biaya layanan naik, waktu tunggu turun
  • Kurangi server → biaya layanan turun, waktu tunggu naik
  • Optimal: Total cost (service cost + waiting cost) minimum

Komponen Sistem Antrian

Komponen Definisi Contoh
Calling population Sumber kedatangan (customer, job, dll) Nasabah bank, pasien RS, order e-commerce
Arrival rate (λ) Rata-rata kedatangan per waktu 20 nasabah/jam
Queue discipline Aturan antrian FIFO (first in first out), LIFO, priority
Service facility Tempat layanan Teller, kasir, server
Service rate (μ) Rata-rata layanan per waktu 1 teller layani 5 nasabah/jam

Notasi Kendall

Format standar untuk mendeskripsikan sistem antrian: A/B/k

  • A: Distribusi kedatangan (M = Markovian/Poisson, D = Deterministic, G = General)
  • B: Distribusi layanan (M, D, G)
  • k: Jumlah server
Contoh:
  • M/M/1: Poisson arrival, exponential service, 1 server (paling umum)
  • M/M/2: Poisson arrival, exponential service, 2 server
  • M/D/1: Poisson arrival, deterministic service, 1 server

Model M/M/1 (Single Server)

Model paling dasar — 1 server, arrival Poisson, service exponential.

Parameter:

  • λ = arrival rate (rata-rata kedatangan per waktu)
  • μ = service rate (rata-rata layanan per waktu)
  • ρ = utilization = λ / μ (harus < 1 agar stabil)

Metrik Kinerja:

Metrik Formula Arti
L (avg number in system) λ / (μ − λ) Rata-rata customer dalam sistem (antri + dilayani)
Lq (avg number in queue) λ² / [μ(μ − λ)] Rata-rata customer yang antri
W (avg time in system) 1 / (μ − λ) Rata-rata waktu dalam sistem
Wq (avg time in queue) λ / [μ(μ − λ)] Rata-rata waktu menunggu antri
P0 (probability idle) 1 − ρ Probabilitas server menganggur
ρ (utilization) λ / μ Utilisasi server
📊 Contoh: Antrian di Bank BRI

Data:
• Nasabah datang: λ = 20/jam (Poisson)
• Teller melayani: μ = 25/jam (exponential)
• 1 teller

Utilization: ρ = 20/25 = 0.8 (80%)

Metrik:
• L = 20 / (25 − 20) = 4 nasabah (rata-rata dalam sistem)
• Lq = 20² / [25(25 − 20)] = 400 / 125 = 3.2 nasabah (rata-rata antri)
• W = 1 / (25 − 20) = 0.2 jam = 12 menit (rata-rata waktu dalam sistem)
• Wq = 20 / [25(25 − 20)] = 20/125 = 0.16 jam = 9.6 menit (rata-rata waktu antri)
• P0 = 1 − 0.8 = 0.2 (20%) (teller menganggur 20% waktu)

Interpretasi:
• Nasabah rata-rata menunggu 9.6 menit sebelum dilayani
• Total waktu di bank: 12 menit (antri 9.6 menit + dilayani 2.4 menit)
• Rata-rata ada 3.2 nasabah antri, 4 nasabah di sistem
• Teller sibuk 80% waktu

Model M/M/k (Multiple Servers)

Untuk sistem dengan k server paralel (misal: 3 teller).

📊 Contoh: Tambah 1 Teller di Bank BRI

Current (1 teller):
• Wq = 9.6 menit
• Lq = 3.2 nasabah

Option: Tambah 1 teller (jadi 2 teller)
• λ = 20/jam, μ = 25/jam per teller, k = 2
• ρ = λ / (kμ) = 20 / (2×25) = 0.4 (40%)

Setelah hitung M/M/2:
• Wq = 0.53 menit (turun drastis dari 9.6 menit!)
• Lq = 0.18 nasabah (turun dari 3.2)

Trade-off analysis:
• Biaya teller: Rp 5 juta/bulan per teller
• Biaya tunggu nasabah: Rp 50,000/menit (opportunity cost)
• Current total cost: 1(5M) + 3.2(20×60×22)(50,000) = 5M + 422.4M = Rp 427.4 juta
• Option total cost: 2(5M) + 0.18(20×60×22)(50,000) = 10M + 23.76M = Rp 33.76 juta

Keputusan: Tambah 1 teller — total cost turun 92%!

Psychology of Waiting

Selain metrik matematis, ada aspek psikologis yang mempengaruhi persepsi pelanggan:

Prinsip Penjelasan Solusi
Unexplained waits feel longer Tidak tahu kenapa antri = frustrasi Beri informasi: “Estimasi tunggu 10 menit”
Uncertain waits feel longer Tidak tahu berapa lama = cemas Display nomor antrian, progress bar
Unfair waits feel longer Lihat orang lain didahulukan = marah Sistem antrian jelas, FIFO konsisten
Anxious waits feel longer Cemas (RS, airport) = waktu terasa lama Komunikasi proaktif, update berkala
Empty waits feel longer Tidak ada aktivitas = bosan Entertainment: TV, musik, WiFi, majalah
Solo waits feel longer Antri sendiri = lebih terasa lama Group seating, social interaction

🇮🇩 Contoh: Psychology of Waiting di BPJS Kesehatan

Problem: Pasien antri 2-3 jam di RS, banyak komplain

Solusi Teknis: Tambah dokter, perbaiki alur

Solusi Psikologis:

  • Nomor antrian digital: Pasien bisa cek posisi antrian via app
  • Estimasi waktu: “Estimasi dipanggil: 45 menit lagi”
  • Entertainment: TV edukasi kesehatan, WiFi gratis
  • Comfort: Kursi empuk, AC, air minum
  • Transparency: Display “Sedang dilayani: Nomor 45”

Result: Komplain turun 60% meskipun waktu tunggu aktual sama

Managing Queues: Strategies

Strategi Cara Contoh
Determine demand pattern Analisis kapan peak & off-peak Restoran ramai jam makan siang
Adjust capacity Tambah server saat peak Bank buka lebih banyak teller jam lunch
Share resources Cross-train worker untuk multi-task Kasir supermarket bisa jadi stocker
Shift demand Pricing, promotion untuk geser ke off-peak Happy hour, weekday discount
Make wait pleasant Entertainment, comfort, information Disneyland queue dengan entertainment
Encourage customer participation Self-service Self-checkout, ATM, mobile ordering
Take long-term view Investasi kapasitas jangka panjang PLN bangun pembangkit untuk 10 tahun ke depan
6. Workshop DT 06: Problem Definition Round 02 WORKSHOP

🎨 Workshop DT 06: Problem Definition Round 02

Tujuan: Finalisasi problem statement berdasarkan feedback dari Round 01 dan validasi tambahan. Output siap untuk fase Ideate di sesi berikutnya.

Durasi: 90-120 menit

Format: Kelompok 3-5 orang

Transisi dari Define Round 01 ke Round 02

Di sesi 06 (Define Round 01), Anda sudah membuat:

  • POV statement
  • 5 Whys analysis
  • HMW questions
  • Constraints & assumptions

Sekarang di Round 02, kita akan:

  1. Review & refine berdasarkan feedback dosen & teman
  2. Validasi assumptions dengan data tambahan
  3. Prioritize HMW questions
  4. Finalize problem statement untuk Ideate phase
Prinsip Finalisasi Problem Statement:
  • “Good enough, not perfect” — jangan terjebak perfectionism
  • Testable — bisa divalidasi dengan prototype di fase berikutnya
  • Inspiring — memotivasi tim untuk cari solusi kreatif
  • Measurable — bisa diukur keberhasilannya

Evolusi Design Thinking Rounds

✓ Sesi 02-05: Empathize Rounds 01-04

Fokus: Operasi, Customer, Supply Chain, Worker

✓ Sesi 06: Define Round 01

Fokus: Sintesis insights → Problem statement awal

🎯 Sesi 07: Define Round 02 — Finalisasi

Fokus: Refine, validate, prioritize, finalize problem statement

Langkah-Langkah Define Round 02

Langkah 1: Review Feedback Round 01 (15 menit)

Kumpulkan feedback dari presentasi sesi 06:

  • Apa kritik dari dosen & teman?
  • Apa yang kurang jelas atau perlu diperdalam?
  • Apakah ada insights baru yang terlewat?

Langkah 2: Refine POV Statement (20 menit)

Perbaiki POV statement berdasarkan feedback:

  • Apakah user-nya sudah spesifik?
  • Apakah verb-nya actionable?
  • Apakah insight-nya supported by data?

Template: [Specific user] needs to [actionable verb] because [data-backed insight].

Langkah 3: Validate Assumptions (25 menit)

Untuk setiap assumption di Round 01, lakukan validasi:

  • Data validation: Cari data sekunder (laporan, statistik, riset)
  • Quick interview: Tanya 2-3 orang untuk konfirmasi
  • Observation: Observasi langsung untuk verifikasi

Output: Assumption yang validated vs invalidated. Jika invalidated, revisit POV.

Langkah 4: Prioritize HMW Questions (20 menit)

Dari 5-10 HMW di Round 01, pilih 3 teratas berdasarkan:

KriteriaBobotPenjelasan
Impact30%Seberapa besar dampak jika berhasil?
Feasibility25%Seberapa mungkin direalisasikan?
Alignment20%Seberapa selaras dengan insight dari Empathize?
Inspiration15%Seberapa memotivasi untuk tim?
Measurability10%Seberapa mudah diukur keberhasilannya?

Voting dengan scoring matrix, pilih 3 HMW dengan skor tertinggi.

Langkah 5: Define Success Metrics (15 menit)

Untuk setiap HMW terpilih, tentukan:

  • Success criteria: Apa yang menandakan solusi berhasil?
  • KPIs: Metrik apa yang akan diukur?
  • Target: Berapa target pencapaian?
  • Timeline: Kapan harus tercapai?

Contoh:

  • HMW: “How might we reduce waiting time at kantin?”
  • Success: Customer served in < 10 minutes
  • KPI: Average waiting time, customer satisfaction score
  • Target: Reduce waiting time by 50% in 1 month

Langkah 6: Finalize Problem Statement Package (20 menit)

Susun paket final untuk Ideate phase:

  1. Final POV Statement (1 kalimat)
  2. Root Cause Analysis (5 Whys chain)
  3. Top 3 HMW Questions (dengan scoring rationale)
  4. Validated Assumptions (dengan evidence)
  5. Constraints (batasan yang harus dihormati)
  6. Success Metrics (KPIs & targets)

Langkah 7: Final Presentation (25 menit)

Setiap kelompok presentasi 7 menit + 3 menit Q&A. Struktur:

  1. POV statement (30 detik)
  2. Root cause dari 5 Whys (1 menit)
  3. Top 3 HMW dengan justifikasi (2 menit)
  4. Validated assumptions (1 menit)
  5. Success metrics (1 menit)
  6. Next steps untuk Ideate phase (30 detik)

Template Final Problem Statement Package

1. Final POV Statement:
[Specific user] needs to [actionable verb] because [data-backed insight].

2. Root Cause (5 Whys):
Problem → Why 1 → Why 2 → Why 3 → Why 4 → Why 5 (root cause)

3. Top 3 HMW Questions (dengan scoring):
1. How might we…? (Score: Impact 8, Feasibility 7, Alignment 9, Inspiration 7, Measurability 8 = 39)
2. How might we…? (Score: … = 36)
3. How might we…? (Score: … = 34)

4. Validated Assumptions:
• Assumption 1: [validated/invalidated] — Evidence: …
• Assumption 2: [validated/invalidated] — Evidence: …

5. Constraints:
• Budget: max Rp X
• Timeline: Y weeks
• Regulation: …
• Technology: …

6. Success Metrics:
• KPI 1: [metric] → Target: [number] by [date]
• KPI 2: [metric] → Target: [number] by [date]
• KPI 3: [metric] → Target: [number] by [date]
💡 Kriteria Final Problem Statement yang Baik:
  • Specific: Jelas siapa user, apa masalah, kenapa penting
  • Validated: Assumptions sudah dicek dengan data/observasi
  • Actionable: Tim bisa mulai generate solusi
  • Measurable: Ada KPI & target yang jelas
  • Constrained: Batasan sudah didefinisikan (budget, time, dll)
  • Inspiring: Memotivasi tim untuk cari solusi kreatif
💡 Apa Selanjutnya?

Output dari Define Round 02 ini akan jadi input untuk Ideate phase di sesi 08, di mana Anda akan generate banyak ide solusi (divergent thinking) untuk HMW questions yang sudah difinalisasi.

Persiapan untuk Ideate:

  • Baca tentang brainstorming techniques (SCAMPER, mind mapping, dll)
  • Siapkan mentalitas “yes, and…” — terima semua ide dulu, evaluasi nanti
  • Bawa referensi solusi dari industri lain (analogical thinking)

🔑 Key Takeaways Sesi 07

  1. Capacity management adalah fondasi keputusan operasi — terlalu sedikit = lost sales, terlalu banyak = idle cost.
  2. Tiga ukuran kapasitas: Design (teoritis), Effective (realistis), Actual (aktual).
  3. Utilization = Actual / Design; Efficiency = Actual / Effective — keduanya penting untuk evaluasi.
  4. Tiga strategi capacity: Lead (tambah sebelum demand), Lag (tambah setelah demand), Match (bertahap).
  5. Capacity cushion = buffer untuk antisipasi ketidakpastian — 5-30% tergantung konteks.
  6. Economies of scale = biaya per unit turun dengan volume; Diseconomies = biaya naik setelah MES.
  7. Break-even analysis menentukan volume minimum untuk profit — alat fundamental untuk keputusan investasi.
  8. Decision theory membantu pilih alternatif dalam ketidakpastian: Maximax, Maximin, Minimax Regret, EMV, EVPI.
  9. Queuing theory menganalisis trade-off service cost vs waiting cost — M/M/1 dan M/M/k adalah model dasar.
  10. Psychology of waiting sama pentingnya dengan metrik matematis — kelola persepsi, bukan hanya waktu aktual.
  11. Define Round 02 memfinalisasi problem statement: refine POV, validate assumptions, prioritize HMW, define success metrics.
  12. Output Define Round 02 siap untuk Ideate phase — generate solusi kreatif di sesi berikutnya.

💬 Diskusi & Tugas Kelompok

Tugas 1: Capacity Analysis

Pilih satu bisnis (hotel, RS, restoran, pabrik). Hitung:

  • Design capacity, effective capacity, actual output
  • Utilization dan efficiency
  • Capacity cushion
  • Rekomendasi: lead, lag, atau match strategy?

Tugas 2: Break-Even Analysis

Sebuah UMKM pertimbangkan investasi mesin baru:

  • Fixed cost: Rp X, Variable cost: Rp Y/unit, Price: Rp Z/unit
  • Hitung BEP dalam unit dan rupiah
  • Jika demand forecast 1,000 unit/bulan, apakah layak investasi?
  • Berapa profit/loss?

Tugas 3: Decision Theory

Diberikan payoff table dengan 3 alternatif dan 3 states of nature. Hitung:

  • Maximax, Maximin, Minimax Regret, Laplace
  • EMV dengan probabilitas yang diberikan
  • EVPI
  • Rekomendasi keputusan

Tugas 4: Queuing Analysis

Analisis antrian di satu layanan (bank, RS, supermarket):

  • Ukur arrival rate (λ) dan service rate (μ)
  • Hitung metrik: L, Lq, W, Wq, ρ
  • Evaluasi: apakah perlu tambah server?
  • Hitung trade-off: biaya server vs biaya tunggu

Tugas 5: Workshop Output Submission

Kumpulkan Final Problem Statement Package dari Workshop DT 06:

  • Final POV Statement
  • 5 Whys Analysis
  • Top 3 HMW Questions (dengan scoring)
  • Validated Assumptions
  • Constraints
  • Success Metrics

Tugas 6: Indonesian Context

Analisis tantangan capacity management khusus di Indonesia:

  • Bagaimana mengelola capacity dengan demand yang sangat musiman (Lebaran, Natal, tahun ajaran)?
  • Bagaimana dampak infrastruktur yang tidak merata terhadap capacity planning?
  • Studi kasus: PLN mengelola kapasitas listrik di Papua vs Jawa
  • Studi kasus: KAI mengelola kapasitas kereta saat mudik Lebaran

📚 Referensi

  • Russell, R. S. & Taylor, B. W. Operations and Supply Chain ManagementChapter 10 (Capacity Management)
  • Heizer, J., Render, B., & Munson, C. (2020). Operations Management: Sustainability and Supply Chain Management. Pearson. (Chapter: Capacity and Constraint Management)
  • Render, B., Stair, R. M., & Hanna, M. E. (2017). Quantitative Analysis for Management. Pearson. (Decision Theory & Queuing Theory)
  • Maister, D. H. (1985). The Psychology of Waiting Lines. Harvard Business Review.
  • Grossman, E. (2014). The Economics of Capacity Management. MIT Sloan Management Review.
  • Banker, R. D., & Datar, S. M. (1989). The Measurement of Capacity and Utilization. Management Science.

🌐 Open Educational Resource (OER)

Materi ini disusun sebagai sumber belajar terbuka untuk mahasiswa, dosen, dan praktisi Operations & Supply Chain Management di Indonesia dan negara berkembang lainnya.

📜 Lisensi: CC BY-NC-SA 4.0 (Atribusi – NonKomersial – BerbagiSerupa)

🎓 Selamat Belajar!

Capacity is not just about how much you can produce — it’s about how well you match capability to opportunity.

Manajemen Kapasitas (Capacity Management)

capacity planning
non optimal cap util
lead cap

4


1. Tujuan Sesi

Sesi ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman bahwa kapasitas adalah komitmen strategis yang menentukan kemampuan organisasi memenuhi permintaan pelanggan. Mahasiswa diarahkan melihat manajemen kapasitas sebagai keputusan yang menyeimbangkan biaya, tingkat layanan, dan fleksibilitas.

Fokus sesi adalah bagaimana kapasitas direncanakan dan dikelola secara manajerial, bukan sekadar dihitung.


2. Konsep Dasar Kapasitas dalam Operasi

Kapasitas menggambarkan kemampuan maksimum sistem operasi untuk menghasilkan output dalam periode tertentu. Dalam praktik, dikenal kapasitas desain, kapasitas efektif, dan kapasitas aktual—yang jarang sama karena adanya pembatas proses, variasi, dan gangguan.

Memahami perbedaan ini membantu manajer mengidentifikasi celah kinerja dan peluang perbaikan.


3. Utilisasi dan Bottleneck

Utilisasi menunjukkan seberapa besar kapasitas digunakan. Namun, utilisasi tinggi tidak selalu baik jika menyebabkan antrian, kelelahan, atau penurunan kualitas. Bottleneck adalah titik proses yang membatasi output sistem secara keseluruhan.

Sesi ini menekankan prinsip bahwa peningkatan di luar bottleneck tidak meningkatkan kinerja sistem.


4. Strategi Kapasitas: Lead, Lag, dan Match

Organisasi dapat memilih strategi lead (kapasitas mendahului permintaan), lag (kapasitas mengikuti permintaan), atau match (penyesuaian bertahap). Setiap strategi memiliki risiko dan implikasi biaya yang berbeda.

Pemilihan strategi harus diselaraskan dengan ketidakpastian permintaan dan toleransi risiko organisasi.


5. Fleksibilitas Kapasitas

Fleksibilitas kapasitas memungkinkan organisasi merespons fluktuasi permintaan melalui lembur, penjadwalan ulang, outsourcing, atau pemanfaatan teknologi. Fleksibilitas meningkatkan responsivitas, tetapi juga membawa konsekuensi biaya dan kompleksitas.

Mahasiswa belajar bahwa fleksibilitas perlu dirancang, bukan diimprovisasi.


6. Risiko Overcapacity dan Undercapacity

Overcapacity meningkatkan biaya tetap dan menurunkan efisiensi, sementara undercapacity menyebabkan keterlambatan, kehilangan penjualan, dan ketidakpuasan pelanggan. Keduanya merupakan risiko strategis yang harus dikelola.

Sesi ini menekankan pentingnya trade-off manajerial dalam keputusan kapasitas.


7. Contoh Aplikasi Manajemen Kapasitas

Manajemen kapasitas terlihat jelas pada rumah sakit, maskapai penerbangan, dan industri jasa lainnya yang menghadapi permintaan berfluktuasi. Keputusan kapasitas di sektor ini berdampak langsung pada kualitas layanan dan biaya.

Contoh ini membantu mahasiswa memahami relevansi kapasitas dalam konteks nyata.


8. 🎥 Video Pendukung

Tambahkan video pengantar tentang:
Capacity Management and Bottleneck Analysis in Operations

🔔 Catatan:
Video digunakan untuk memvisualisasikan hubungan antara kapasitas, utilisasi, dan bottleneck, bukan untuk menggantikan diskusi konseptual.


Key Takeaway

Kapasitas bukan sekadar angka, melainkan keputusan strategis yang menentukan kemampuan organisasi melayani pelanggan secara berkelanjutan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *