๐ญ OSCM – SESI 05
Process, Facility & Work Design
Operations & Supply Chain Management
๐ฏ Tujuan Pembelajaran
- Menganalisis berbagai tipe proses (job shop, batch, assembly line, continuous flow)
- Mengevaluasi strategi facility layout (process, product, cellular, fixed-position)
- Menerapkan line balancing untuk assembly line
- Merancang kapasitas yang sesuai dengan demand
- Menerapkan work measurement (time study, work sampling)
- Menganalisis aspek ergonomi dan human factors dalam work design
- WORKSHOP Melanjutkan fase Empathize (Round 04) dengan fokus pada perspektif pekerja
๐ฅ Video Kuliah: Process, Facility & Work Design
- Fokus: Process types, facility layout strategies, capacity planning, work measurement, ergonomi
- Poin Kunci: Trade-off antara flexibility dan efficiency dalam pemilihan proses; pentingnya line balancing; peran ergonomi dalam produktivitas
- Siapkan catatan: untuk diskusi & workshop setelah menonton
1. Process Design: Memilih Tipe Proses yang Tepat
Apa itu Process Design?
Process Design adalah keputusan tentang bagaimana suatu produk atau jasa akan diproduksi โ mulai dari pemilihan tipe proses, aliran kerja, hingga teknologi yang digunakan. Ini adalah fondasi dari semua keputusan operasi lainnya.
- Apakah kita membuat produk custom atau standar?
- Berapa volume yang akan diproduksi?
- Seberapa sering produk berubah (varietas)?
- Apa trade-off antara flexibility dan efficiency yang kita pilih?
Empat Tipe Proses Utama
Proses manufaktur/jasa dikategorikan berdasarkan volume dan varietas:
| Tipe Proses | Volume | Varietas | Karakteristik | Contoh |
|---|---|---|---|---|
| Job Shop | Rendah | Tinggi (custom) | General purpose equipment, skilled workers, flexible routing | Custom furniture, tailor, konsultan, bengkel custom |
| Batch | Menengah | Menengah | Moderate standardization, produced in batches/lots | Roti bakery, obat farmasi, cat warna berbeda |
| Assembly Line (Repetitive) | Tinggi | Rendah | Standardized product, modular design, dedicated equipment | Mobil, smartphone, TV, Indomie |
| Continuous Flow | Sangat Tinggi | Sangat Rendah | Highly automated, 24/7 operation, very standardized | Oil refinery, semen, listrik, air minum |
Ada kesesuaian alami antara tipe produk dan tipe proses. Produk custom cocok dengan job shop, produk massal cocok dengan assembly line. Memaksakan ketidaksesuaian = inefisiensi.
๐ Contoh Global: Boeing vs Toyota
Boeing (Job Shop / Fixed Position):
- Volume: 40-50 pesawat/bulan (rendah)
- Varietas: High (737, 777, 787 โ custom per airline)
- Proses: Pesawat tetap di hangar, pekerja & komponen datang
- Waktu produksi: 6-12 bulan per pesawat
Toyota (Assembly Line):
- Volume: 10+ juta mobil/tahun (sangat tinggi)
- Varietas: Low-Medium (beberapa model, banyak opsi)
- Proses: Assembly line dengan cycle time 45-60 detik
- Waktu produksi: 17 jam per mobil (Toyota Global Production)
๐ฎ๐ฉ Contoh Indonesia: Spektrum Proses di Indonesia
Job Shop: Konveksi custom di Bandung (terima order 50 pcs dengan desain sendiri)
Batch: Pabrik roti Sari Roti (produksi per batch rasa berbeda)
Assembly Line: Pabrik Indomie di 14 lokasi (40 juta bungkus/hari)
Continuous Flow: Pabrik Semen Indonesia (24/7 operation, highly automated)
Process Analysis: Flow & Bottleneck
Setiap proses memiliki bottleneck โ tahap dengan kapasitas terendah yang membatasi keseluruhan output.
“A chain is no stronger than its weakest link.” Untuk meningkatkan throughput, fokus perbaiki bottleneck โ bukan tahap lain.
Langkah Analisis Proses:
- Identifikasi semua tahap dalam proses
- Ukur kapasitas setiap tahap (units/time)
- Temukan bottleneck โ tahap dengan kapasitas terendah
- Elevate bottleneck โ tingkatkan kapasitasnya
- Repeat โ bottleneck akan pindah ke tahap lain
๐ฎ๐ฉ Contoh: Bottleneck di Warung Nasi Goreng (Lanjutan Sesi 01)
Proses: Order (1 min) โ Prep (2 min) โ Cook (5 min) โ Serve (1 min) โ Pay (2 min)
Kapasitas per tahap:
- Order: 60/jam
- Prep: 30/jam
- Cook: 12/jam โ BOTTLENECK
- Serve: 60/jam
- Pay: 30/jam
Throughput: 12 porsi/jam (dibatasi cook)
Solusi: Tambah 1 wajan, atau pre-portion bahan untuk reduce cook time dari 5 โ 3 menit
2. Facility Layout: Mengatur Aliran yang Efisien
Apa itu Facility Layout?
Facility Layout adalah pengaturan fisik dari mesin, peralatan, workstation, dan area penyimpanan dalam suatu fasilitas. Layout yang baik meminimalkan biaya material handling, memaksimalkan utilitas ruang, dan menciptakan lingkungan kerja yang aman.
Empat Tipe Layout Utama
1. Process Layout (Functional Layout)
Mengelompokkan mesin/fungsi serupa bersama. Cocok untuk job shop & batch production.
Process Layout: Similar Machines Grouped Together
โ Fleksibel untuk berbagai produk | โ Material handling tinggi, routing kompleks
2. Product Layout (Assembly Line)
Mengatur workstation sesuai urutan produksi. Cocok untuk assembly line & continuous flow.
Product Layout: Sequential Flow
โ Flow efisien, low WIP | โ Tidak fleksibel, bottleneck = masalah besar
3. Cellular Layout (Group Technology)
Mengelompokkan mesin berbeda yang dibutuhkan untuk memproduksi keluarga produk serupa (hybrid).
Cellular Layout: Product Families in Cells
โ Balance of flexibility & efficiency | โ Butuh analisis part family
4. Fixed-Position Layout
Produk tetap di satu lokasi, pekerja & material datang ke sana. Untuk produk besar/sulit dipindah.
Fixed-Position Layout: Product Stays Put
โ Cocok untuk produk besar | โ Equipment duplication, scheduling complex
Perbandingan Layout
| Aspek | Process Layout | Product Layout | Cellular Layout | Fixed-Position |
|---|---|---|---|---|
| Flexibility | โ Tinggi | โ Rendah | โ๏ธ Menengah | โ Tinggi |
| Volume | Rendah | Tinggi | Menengah | Sangat rendah |
| Equipment | General purpose | Special purpose | Mixed | Mobile equipment |
| Workers | Skilled, versatile | Semi-skilled, specialized | Team-based | Highly skilled |
| Material Handling | โ Tinggi, complex routing | โ Rendah, straight flow | โ๏ธ Moderate | โ Tinggi |
| WIP Inventory | Tinggi | Rendah | Moderate | Tinggi |
| Contoh | Hospital, machine shop | Car factory, Indomie | Garment manufacturing | Shipbuilding, construction |
๐ Contoh Global: IKEA Store Layout
Hybrid Layout:
- Product Layout: “Forced path” (IKEA maze) โ customer mengikuti alur tertentu
- Process Layout: Showroom area dikelompokkan by room type (bedroom, kitchen, living room)
- Self-service warehouse: Flat-pack products in bins, customer pick sendiri
Result: Average customer spend 2-3 hours, impulse buying tinggi, efficient picking
๐ฎ๐ฉ Contoh Indonesia: Layout Pabrik Astra (Toyota)
Product Layout (Assembly Line):
- Body shop โ Paint shop โ Assembly โ Inspection โ Delivery
- Cycle time: 2-3 menit per mobil
- U-shaped line untuk memudahkan komunikasi antar worker
Cellular Layout (Sub-assembly):
- Engine assembly cell, dashboard cell, door assembly cell
- Setiap cell punya tim multi-skill (5-8 orang)
Result: High quality, low defect, flexible untuk beberapa model (Avanza, Fortuner, Innova)
Line Balancing
Line balancing adalah proses mendistribusikan pekerjaan secara merata ke semua workstation agar cycle time sama dan idle time minimal.
Task: A (3 min), B (2 min), C (4 min), D (2 min), E (3 min), F (2 min) โ Total: 16 min
Required output: 96 units per 8-hour shift (480 min)
Cycle time: 480 / 96 = 5 min/unit
Minimum workstation: 16 / 5 = 3.2 โ 4 workstation
Assignment:
WS 1: A (3) + B (2) = 5 min โ
WS 2: C (4) + idle 1 min = 5 min โ
WS 3: D (2) + E (3) = 5 min โ
WS 4: F (2) + idle 3 min = 5 min โ
Efficiency: 16 / (4 ร 5) = 80%
๐ฎ๐ฉ Contoh: Line Balancing di UMKM Keripik
Proses: Kupas (3 min) โ Iris (2 min) โ Goreng (5 min) โ Bumbui (2 min) โ Pack (3 min) = Total 15 min
Demand: 60 bungkus/jam โ Cycle time = 60/60 = 1 min/unit
Problem: Total task 15 min, tapi cycle time 1 min โ butuh 15 workstation paralel!
Solusi: Buat 15 jalur paralel, masing-masing 1 worker melakukan 1 task. Atau: automate goreng & pack.
3. Capacity Planning: Menyeimbangkan Supply & Demand
Apa itu Capacity?
Capacity adalah kemampuan maksimum suatu sistem operasi untuk menghasilkan output dalam periode waktu tertentu. Ini adalah batasan fundamental dari setiap operasi.
Warung kopi:
โข Design capacity: 100 cups/hari (24 jam nonstop)
โข Effective capacity: 70 cups/hari (ada jam tutup, maintenance)
โข Actual output: 56 cups/hari
Utilization: 56 / 100 = 56%
Efficiency: 56 / 70 = 80%
Insight: Efficiency tinggi (80%) tapi utilization rendah (56%). Artinya warung bekerja baik, tapi punya kapasitas menganggur besar. Opportunity untuk marketing!
Tiga Strategi Capacity Management
| Strategi | Deskripsi | Kapan Dipakai | Contoh |
|---|---|---|---|
| Capacity Lead (tambah kapasitas SEBELUM demand naik) |
Agresif, siap sambut pertumbuhan | Demand tumbuh cepat, biaya ekspansi rendah | Telco bangun tower sebelum user membludak |
| Capacity Lag (tambah kapasitas SETELAH demand naik) |
Konservatif, tunggu sampai kapasitas penuh | Demand tidak pasti, biaya ekspansi tinggi | UMKM tambah karyawan setelah order menumpuk |
| Match Strategy (tambah kapasitas BARENG demand) |
Moderate, incremental | Demand stabil, pertumbuhan bertahap | Indofood tambah pabrik bertahap sesuai market |
Demand Management Strategies
Jika kapasitas tidak bisa ditambah, kita bisa mengatur demand:
| Strategi | Cara | Contoh |
|---|---|---|
| Pricing | Diskon saat sepi, premium saat ramai | Gojek surge pricing, hotel weekend vs weekday |
| Promotion | Push demand ke saat sepi | Promo Senin-Jumat di restoran |
| Reservation | Atur kedatangan pelanggan | RS booking jadwal, restoran reservasi |
| Yield Management | Sell right inventory to right customer at right price | Airlines, hotels, car rental |
| Backlog/Queue | Biarkan pelanggan menunggu | Tailor custom, bengkel |
๐ Contoh Global: Airlines Yield Management
Problem: Kursi pesawat perishable (jika kosong saat takeoff, revenue hilang)
Solution:
- Early booking: murah (fill capacity)
- Last minute: mahal (capture high-value business travelers)
- No-show overbooking: jual 105 kursi untuk 100 seat (statistik 5% no-show)
Result: Revenue per seat naik 5-7% โ miliaran dollar tambahan untuk airlines besar
๐ฎ๐ฉ Contoh Indonesia: PLN Capacity Planning
Challenge: Demand listrik Indonesia tumbuh 5-7% per tahun, harus siap 24/7
Strategy: Capacity lead โ bangun pembangkit 2-3 tahun sebelum demand puncak
Tactics:
- Power plant diversification (PLTU, PLTA, PLTS, PLTB)
- Demand management: tarif listrik berbeda per waktu (WBP/LWBP)
- Grid interconnection: Jawa-Bali-Sumatera saling support
Result: Reserve margin 20-30%, blackouts berkurang signifikan
Waiting Line Analysis (Queuing Theory)
Ketika demand melebihi capacity sesaat, terbentuk antrian. Queuing theory membantu menemukan keseimbangan antara biaya menunggu dan biaya layanan.
โข Tambah server โ biaya layanan naik, waktu tunggu turun
โข Kurangi server โ biaya layanan turun, waktu tunggu naik
โข Optimal: Total cost (service + waiting) minimum
๐ฎ๐ฉ Contoh: Antrian di Bank BRI
Situation: Nasabah datang rata-rata 20/jam, teller melayani 5 nasabah/jam
Current: 4 teller โ utilization 100% โ antrian panjang
Analysis: Tambah 1 teller โ utilization 80% โ antrian turun drastis
Alternative: Self-service ATM/mobile banking โ reduce arrival rate
Result: BRI sukses dengan BRImo (mobile app) โ 50%+ transaksi pindah ke digital, antrian di cabang berkurang
4. Work Design: Mengukur & Merancang Pekerjaan NEW
Apa itu Work Design?
Work Design adalah proses merinci isi, metode, dan hubungan pekerjaan dengan kebutuhan teknis, organisasi, serta personal pekerja. Ini mencakup work measurement (berapa lama pekerjaan seharusnya) dan human factors (bagaimana pekerjaan disesuaikan dengan manusia).
A. Work Measurement
Teknik untuk menentukan waktu standar yang dibutuhkan pekerja terlatih untuk menyelesaikan tugas pada tingkat kinerja normal.
1. Time Study (Stopwatch Study)
Mengukur waktu siklus dengan stopwatch untuk beberapa siklus, lalu hitung normal time & standard time.
Task: Packing keripik
Observasi (5 siklus): 2.1, 2.3, 2.2, 2.0, 2.4 menit
Average: 2.2 menit
Performance rating: 110% (pekerja lebih cepat dari normal)
Allowance: 15% (fatigue, personal needs, delay)
Normal time: 2.2 ร 1.10 = 2.42 menit
Standard time: 2.42 / (1 – 0.15) = 2.42 / 0.85 = 2.85 menit/pack
2. Work Sampling
Observasi acak dalam periode waktu untuk estimasi proporsi waktu untuk berbagai aktivitas.
๐ฎ๐ฉ Contoh: Work Sampling di Bengkel
Problem: Owner curiga mekanik banyak waktu menganggur
Method: 100 observasi acak selama 2 minggu
Result:
- Mengerjakan mobil: 45%
- Menunggu sparepart: 20%
- Bersih-bersih: 15%
- Istirahat/ngobrol: 15%
- Personal: 5%
Insight: 20% waktu hilang karena sparepart delay โ perlu improve supplier management
3. Predetermined Motion Time Systems (PMTS)
Menggunakan data waktu standar untuk gerakan dasar (reach, grasp, move, position) โ tidak perlu stopwatch.
| Gerakan Dasar | Simbol | Waktu (TMU)* |
|---|---|---|
| Reach (menjangkau) | R | 2-15 |
| Grasp (menggenggam) | G | 2-15 |
| Move (memindahkan) | M | 2-20 |
| Position (menempatkan) | P | 3-20 |
| Release (melepas) | RL | 2 |
*TMU = Time Measurement Unit; 1 TMU = 0.00001 jam = 0.036 detik
B. Human Factors & Ergonomi
Ergonomi adalah ilmu merancang pekerjaan agar sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia โ bukan memaksa manusia menyesuaikan dengan pekerjaan.
- Physical Ergonomi: Postur, gerakan berulang, angkat beban, layout workstation
- Cognitive Ergonomi: Mental workload, decision making, human-computer interaction
- Organizational Ergonomi: Shift work, teamwork, komunikasi, work-life balance
Mengapa Ergonomi Penting?
| Manfaat | Dampak |
|---|---|
| Reduce Musculoskeletal Disorders (MSDs) | Cedera punggung, carpal tunnel, tendonitis turun 50-70% |
| Increase Productivity | Output naik 10-25% dengan workstation yang baik |
| Reduce Absenteeism | Karyawan jarang sakit, turnover turun |
| Improve Quality | Less fatigue = fewer errors |
| Lower Cost | ROI 1:3 sampai 1:10 (setiap Rp 1 invest hemat Rp 3-10 biaya cedera) |
๐ Contoh Global: Toyota Ergonomi
Prinsip: “Manusia adalah aset, bukan mesin”
Praktik:
- Adjustable workstation: Ketinggian meja bisa disesuaikan per worker
- Job rotation: Worker pindah tugas tiap 2 jam untuk reduce repetitive strain
- Assist devices: Exoskeleton untuk angkat berat, vacuum lifter
- Stretching breaks: Peregangan bersama tiap 2 jam
- Andon cord: Worker bisa stop line jika ada masalah ergonomi
Result: Injury rate 1/10 dari industri otomotif US, productivity tetap tinggi
๐ฎ๐ฉ Contoh Indonesia: Ergonomi di UMKM Konveksi Bandung
Problem: Penjahit kerja 10 jam/hari, banyak yang sakit punggung & mata lelah
Intervensi Sederhana:
- Kursi ergonomis: Ganti bangku kayu dengan kursi adjustable (Rp 500K)
- Pencahayaan: Tambah lampu LED 10W per mesin (Rp 100K)
- Meja adjustable: Ketinggian sesuai postur (modifikasi Rp 200K)
- Break schedule: 10 menit tiap 2 jam untuk stretch
Investasi: Rp 800K per worker
Result:
- Output naik 15% (kurang fatigue)
- Defect rate turun 30% (fokus lebih baik)
- Absenteeism turun 50%
- ROI: < 3 bulan
C. Job Design Approaches
Bagaimana merancang isi pekerjaan agar produktif DAN memuaskan pekerja:
| Pendekatan | Definisi | Contoh |
|---|---|---|
| Job Simplification | Spesialisasi tugas sempit, repetitive | Assembly line workerๅชๅ satu task |
| Job Expansion | Tambah variasi tugas | Job rotation, job enlargement |
| Job Enrichment | Tambah otonomi, tanggung jawab, control | Worker bisa stop line (Andon), decide quality |
| Team-based Work | Self-managed teams | Volvo Uddevalla plant, Toyota cells |
5 dimensi pekerjaan yang mempengaruhi motivasi:
1. Skill Variety โ variasi skill yang digunakan
2. Task Identity โ mengerjakan tugas dari awal sampai akhir
3. Task Significance โ dampak pekerjaan pada orang lain
4. Autonomy โ kebebasan & independensi
5. Feedback โ informasi langsung tentang kinerja
5. Workshop DT 03: Empathy Round 04 WORKSHOP
๐จ Workshop DT 03: Empathy Round 04
Tujuan: Mendalami fase Empathize dengan fokus pada perspektif pekerja โ bagaimana process, facility, dan work design mempengaruhi mereka yang menjalankan operasi setiap hari.
Durasi: 90-120 menit
Format: Kelompok 3-5 orang
Fokus Empathy Round 04: Worker Perspective
Di Round 01-03, Anda sudah memahami masalah operasi, customer experience, dan supply chain stakeholders. Sekarang di Round 04, kita fokus pada perspektif pekerja โ mereka yang menjalankan proses setiap hari.
- Bagaimana process design mempengaruhi pekerjaan mereka?
- Apakah facility layout memudahkan atau menyulitkan?
- Apakah workstation dirancang dengan memperhatikan ergonomi?
- Apa pain points fisik yang mereka alami (sakit punggung, mata lelah, dll)?
- Apa workaround yang mereka buat karena sistem tidak memadai?
- Apakah mereka merasa pekerjaan mereka bermakna?
Teknik Empathy untuk Process & Work Design
1. Shadowing (Mengikuti Pekerja)
Ikuti satu pekerja selama beberapa jam โ lihat apa yang mereka lakukan, alami, dan rasakan.
๐ฎ๐ฉ Contoh: Shadowing Driver Gojek
Method: Jadi driver Gojek selama 1 hari (atau ikut driver)
Yang diamati:
- Berapa jam kerja? Berapa order diterima?
- Bagaimana postur duduk di motor? (ergonomi)
- Di mana nunggu order? (facility โ ada shelter atau tidak?)
- Bagaimana interaksi dengan app? (cognitive ergonomi)
- Kapan istirahat? Makan di mana? Toilet di mana?
- Apa keluhan fisik? (punggung, pinggang, mata)
Insight: Driver sering sakit punggung karena duduk 10+ jam, tidak ada shelter nyaman untuk nunggu โ opportunity: partnership dengan warung untuk “driver lounge”
2. Worker Interview (Deep Dive)
Interview mendalam dengan pekerja tentang pengalaman mereka.
- “Ceritakan rutinitas kerja Anda dari datang sampai pulang…”
- “Bagian mana dari pekerjaan yang paling melelahkan secara fisik?”
- “Bagian mana yang paling membuat stres/frustrasi?”
- “Apakah ada gerakan yang Anda lakukan berulang-ulang? Apakah sakit?”
- “Apakah workstation Anda nyaman? Apa yang perlu diperbaiki?”
- “Apakah Anda punya ‘jalan tikus’ untuk mempercepat pekerjaan?”
- “Jika bisa mengubah satu hal dari pekerjaan Anda, apa itu?”
- “Apakah Anda merasa pekerjaan Anda bermakna? Mengapa?”
3. Ergonomic Assessment
Evaluasi cepat aspek ergonomi di workstation.
| Aspek | Yang Diamati | Red Flag |
|---|---|---|
| Postur | Duduk/berdiri/bungkuk? | Bungkuk > 2 jam, berdiri > 4 jam |
| Repetitive Motion | Gerakan sama berulang? | Sama > 10,000x/hari |
| Lifting | Angkat beban? | > 23 kg, > 100x/hari |
| Lighting | Pencahayaan cukup? | < 300 lux untuk kerja detail |
| Noise | Suara bising? | > 85 dB selama 8 jam |
| Temperature | Suhu nyaman? | < 18ยฐC atau > 30ยฐC |
| Break Schedule | Istirahat cukup? | Tidak ada break 10 menit/2 jam |
๐ Panduan Pelaksanaan Workshop Round 04
Langkah 1: Pilih Target Pekerja (10 menit)
Pilih pekerja yang mudah diakses:
- ๐จโ๐ณ Karyawan kantin kampus
- ๐ Staf perpustakaan
- ๐งน Petugas kebersihan
- ๐ Kasir minimarket
- ๐จโ๐ง Teknisi/mekanik
- ๐ท Pekerja konstruksi di kampus
- ๐ฆ Staf gudang/logistik
Langkah 2: Shadowing & Observation (45 menit)
Ikuti pekerja selama 1-2 jam. Catat:
- Aktivitas apa yang dilakukan? Berapa lama?
- Postur tubuh? Gerakan berulang?
- Interaksi dengan peralatan/fasilitas?
- Break pattern?
- Ekspresi wajah (frustrasi, bosan, fokus)?
- Workaround yang dibuat?
Tools: Checklist ergonomi, stopwatch, kamera (dengan izin), field notes
Langkah 3: Worker Interview (30 menit)
Interview 2-3 pekerja dengan pertanyaan deep dive. Rekam (dengan izin) atau catat detail.
Fokus: Pengalaman subjektif, keluhan, harapan, makna pekerjaan
Langkah 4: Ergonomic Assessment (15 menit)
Gunakan checklist ergonomi untuk evaluasi workstation. Foto (dengan izin) untuk dokumentasi.
Langkah 5: Synthesis (30 menit)
Buat:
- Worker Persona (profil pekerja tipikal)
- Worker Journey Map (pengalaman dari datang sampai pulang)
- Ergonomic Pain Points (masalah fisik & mental)
- Process & Layout Issues (yang membuat pekerjaan sulit)
- 5-7 Key Insights
- 3-5 “How Might We…” questions
Langkah 6: Presentasi (20 menit)
Setiap kelompok presentasi 5 menit + 1 menit Q&A. Fokus pada:
- Insight paling mengejutkan tentang pekerjaan
- Pain point ergonomi terbesar
- Opportunity untuk redesign process/facility/work
- โ Minta izin ke manajemen DAN pekerja
- โ Jelaskan tujuan riset (untuk pembelajaran, bukan audit)
- โ Jaga kerahasiaan identitas pekerja
- โ Jangan mengganggu pekerjaan mereka
- โ Berikan apresiasi (snack/minuman) untuk partisipasi
- โ Jangan memfoto wajah tanpa izin
- โ Jangan membuat pekerja merasa di-“inspeksi”
| Round 01 (Sesi 02): | Fokus pada masalah operasi (bottleneck, inefisiensi) |
| Round 02 (Sesi 03): | Fokus pada customer experience (journey, emosi, kebutuhan) |
| Round 03 (Sesi 04): | Fokus pada supply chain ecosystem (multi-stakeholder) |
| Round 04 (Sesi 05): | Fokus pada worker perspective (ergonomi, makna pekerjaan) |
Output Round 04 akan jadi input untuk Define & Ideate di sesi berikutnya.
๐ Key Takeaways Sesi 05
- Process design memilih tipe proses yang sesuai dengan volume & varietas produk (job shop, batch, assembly line, continuous).
- Product-Process Matrix: Ada kesesuaian alami antara tipe produk dan tipe proses โ ketidaksesuaian = inefisiensi.
- Bottleneck menentukan throughput โ fokus perbaiki bottleneck, bukan tahap lain (Theory of Constraints).
- Facility layout ada 4 tipe: process, product, cellular, fixed-position โ pilih sesuai karakteristik produksi.
- Line balancing mendistribusikan pekerjaan merata ke workstation untuk minimize idle time.
- Capacity memiliki 3 ukuran: design, effective, actual โ utilization & efficiency adalah metrik kunci.
- Capacity strategies: Lead (agresif), Lag (konservatif), Match (moderate).
- Demand management: Pricing, promotion, reservation, yield management, backlog.
- Work measurement: Time study, work sampling, PMTS โ untuk menentukan standard time.
- Ergonomi bukan kemewahan โ investasi ergonomi ROI 1:3 sampai 1:10.
- Job design: Simplification, expansion, enrichment, team-based โ pilih sesuai konteks.
- Empathy Round 04: Pahami perspektif pekerja โ mereka yang menjalankan operasi setiap hari.
๐ฌ Diskusi & Tugas Kelompok
Tugas 1: Process Type Analysis
Pilih 3 bisnis berbeda (misal: tailor, bakery, pabrik roti, pabrik semen). Identifikasi tipe proses masing-masing. Jelaskan mengapa tipe proses itu cocok (atau tidak) untuk bisnis tersebut.
Tugas 2: Layout Redesign
Observasi layout kantin kampus/minimarket. Buat usulan redesign layout dengan justifikasi:
- Apa masalah layout saat ini?
- Tipe layout apa yang diusulkan?
- Bagaimana expected improvement?
Tugas 3: Line Balancing Exercise
Diberikan task times: A (2), B (3), C (4), D (2), E (3), F (5), G (2) menit. Required output: 80 units per 8-hour shift.
- Hitung cycle time
- Hitung minimum workstation
- Assign tasks ke workstation
- Hitung efficiency
Tugas 4: Ergonomic Assessment
Pilih satu workstation (kantor, lab, kasir, dapur). Lakukan ergonomic assessment menggunakan checklist. Buat rekomendasi perbaikan dengan estimasi biaya & ROI.
Tugas 5: Workshop Output Submission
Kumpulkan output Workshop DT 03 – Empathy Round 04:
- Worker Persona
- Worker Journey Map
- Ergonomic Pain Points Analysis
- Process & Layout Issues
- 5-7 Key Insights
- 3-5 “How Might We” questions
๐ Referensi
- Russell, R. S. & Taylor, B. W. Operations and Supply Chain Management โ Chapter 07 (Process, Facility & Work Design) & Chapter 08 (Capacity Planning)
- Heizer, J., Render, B., & Munson, C. (2020). Operations Management: Sustainability and Supply Chain Management. Pearson.
- Goldratt, E. M., & Cox, J. (1984). The Goal: A Process of Ongoing Improvement. North River Press.
- Hayes, R. H., & Wheelwright, S. C. (1979). Link Manufacturing Process and Product Life Cycles. Harvard Business Review.
- Kroemer, K. H. E., & Grandjean, E. (2017). Fitting the Task to the Human: Ergonomic Principles. CRC Press.
- Hackman, J. R., & Oldham, G. R. (1976). Motivation through the Design of Work. Organizational Behavior and Human Performance.
๐ Open Educational Resource (OER)
Materi ini disusun sebagai sumber belajar terbuka untuk mahasiswa, dosen, dan praktisi Operations & Supply Chain Management di Indonesia dan negara berkembang lainnya.
๐ Selamat Belajar!
Great operations design is invisible โ workers don’t feel the strain, customers don’t see the complexity, and value flows effortlessly.
Desain Proses, Fasilitas, dan Pekerjaan (Process, Facility, and Work Design)


4
1. Tujuan Sesi
Sesi ini bertujuan membangun pemahaman bahwa keunggulan operasional sangat ditentukan oleh bagaimana proses, fasilitas, dan pekerjaan dirancang sejak awal. Mahasiswa diarahkan untuk melihat bahwa banyak masalah operasional (biaya tinggi, keterlambatan, kualitas buruk) sebenarnya bersumber dari desain sistem, bukan dari kesalahan individu.
Sesi ini menjadi jembatan antara desain strategis (Sesi 03โ04) dan pengelolaan operasional sehari-hari.
2. Konsep Dasar Desain Proses Operasi
Desain proses adalah penentuan alur aktivitas, urutan kerja, dan metode yang digunakan untuk mengubah input menjadi output. Proses yang dirancang dengan baik akan meminimalkan pemborosan, mengurangi variasi, dan meningkatkan konsistensi kinerja.
Dalam konteks manajerial, proses harus dipahami sebagai sistem end-to-end, bukan kumpulan tugas terpisah.
3. Jenis-Jenis Proses dalam Operasi
Terdapat beberapa tipe proses utama seperti job shop, batch process, assembly line, dan continuous process. Pemilihan jenis proses harus disesuaikan dengan volume, variasi, dan karakteristik permintaan.
Mahasiswa belajar bahwa ketidaksesuaian antara jenis proses dan kebutuhan pasar akan menciptakan inefisiensi struktural yang sulit diperbaiki.
4. Desain Fasilitas dan Tata Letak (Facility Layout)
Desain fasilitas berkaitan dengan bagaimana mesin, peralatan, manusia, dan aliran material diatur secara fisik. Tata letak fasilitas memengaruhi waktu proses, biaya pemindahan material, keselamatan kerja, dan koordinasi aktivitas.
Pilihan seperti process layout, product layout, cellular layout, atau fixed-position layout merupakan keputusan strategis, bukan sekadar teknis.
5. Desain Pekerjaan (Work Design)
Desain pekerjaan menentukan bagaimana tugas dibagi, distandarkan, dan dilaksanakan oleh manusia. Work design yang baik mempertimbangkan produktivitas, kualitas, ergonomi, serta kesejahteraan pekerja.
Dalam operasi modern, desain pekerjaan juga berkaitan dengan otomasi, pelatihan, dan pembagian peran manusiaโmesin.
6. Faktor Manusia dalam Sistem Operasi
Manusia merupakan bagian integral dari sistem operasi. Proses dan fasilitas yang dirancang tanpa mempertimbangkan faktor manusia akan menghasilkan kelelahan, kesalahan, dan resistensi terhadap perubahan.
Sesi ini menekankan pentingnya ergonomi, komunikasi kerja, dan keterlibatan karyawan dalam mencapai kinerja operasi yang berkelanjutan.
7. Implikasi Manajerial dari Desain Proses dan Fasilitas
Desain proses, fasilitas, dan pekerjaan yang baik akan:
- menyederhanakan pengendalian operasi,
- meningkatkan kualitas secara konsisten,
- menurunkan biaya jangka panjang,
- serta mempermudah perbaikan berkelanjutan.
Sebaliknya, desain yang buruk menciptakan masalah kronis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pengawasan atau teknologi.
8. ๐ฅ Video Pendukung
Tambahkan video pengantar tentang:
Process Design and Facility Layout in Operations
atau
Work Design and Ergonomics in Operations
๐ Catatan:
Video digunakan untuk membantu visualisasi hubungan antara alur proses, tata letak fasilitas, dan desain pekerjaan, bukan sebagai pengganti materi utama.
Key Takeaway
Kinerja operasi jarang ditentukan oleh โsiapa yang bekerjaโ, tetapi hampir selalu ditentukan oleh bagaimana sistem kerja dirancang.