📚 Riset Bisnis Sesi 03
Learning from Past Researches
“Jangan mulai dari nol. Berdirilah di atas pundak raksasa — peneliti-peneliti sebelum Anda sudah membuka jalan!”
👋 Mengapa Kita Belajar dari Riset Orang Lain?
Pernahkah Anda bertanya: “Kenapa harus baca jurnal orang lain? Saya punya ide sendiri, dong!”
Jawabannya sederhana: supaya Anda tidak “menemukan kembali roda”. Riset yang baik adalah percakapan ilmiah — Anda masuk ke dalam percakapan yang sudah berlangsung puluhan tahun, menyumbangkan suara Anda, lalu melanjutkan percakapan itu untuk peneliti berikutnya.
Di sesi ini, kita akan belajar 4 hal krusial: mengapa belajar dari masa lalu, cara menelaah literatur, memanfaatkan data sekunder di era digital, dan — yang paling penting — bagaimana tidak mencuri ide orang lain (plagiarisme).
🎯 Capaian Pembelajaran
- Understand mengapa dan bagaimana memanfaatkan hasil riset masa lalu.
- Understand peran secondary data dalam riset bisnis modern.
- Demonstrate mastery dalam menghadapi isu etika & plagiarisme.
📖 Glosarium Mini Sesi Ini
Istilah-istilah kunci yang akan sering muncul di sesi ini:
- Literature Review (Tinjauan Pustaka)
- Proses sistematis mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis karya tulis ilmiah yang sudah ada tentang topik tertentu.
- Secondary Data (Data Sekunder)
- Data yang sudah dikumpulkan oleh pihak lain untuk tujuan berbeda, tapi bisa kita pakai ulang.
- Primary Data (Data Primer)
- Data yang Anda kumpulkan sendiri langsung dari sumbernya (survei, wawancara, observasi).
- Plagiarism (Plagiarisme)
- Mengambil ide, kata-kata, atau karya orang lain tanpa memberikan kredit yang layak.
- Paraphrasing (Parafrasa)
- Menulis ulang ide orang lain dengan kata-kata Anda sendiri, TETAP dengan mencantumkan sumber.
- Citation (Sitasi)
- Cara merujuk sumber yang Anda gunakan dalam teks (misal: APA, MLA, Harvard).
- Synthesis (Sintesis)
- Menggabungkan temuan dari berbagai sumber untuk membangun pemahaman baru, bukan sekadar “daftar ringkasan”.
- Research Gap (Celah Riset)
- Kekosongan pengetahuan yang belum dijawab oleh riset-riset sebelumnya — inilah yang akan Anda isi!
1. Why Learning from Past Researches?
🏗️ Metafora: Riset itu Seperti Membangun Rumah
Bayangkan Anda ingin membangun rumah. Apakah Anda akan:
- Opsi A: Mulai dari nol — tebang pohon, bakar bata, tempa paku sendiri?
- Opsi B: Pakai fondasi yang sudah ada, pelajari arsitektur rumah-rumah di sekitar, lalu tambahkan sentuhan unik Anda?
Tentu Opsi B, kan? Nah, riset yang baik bekerja persis seperti itu. Anda tidak mulai dari ruang hampa.
Sebelum buka warung nasi goreng baru, owner yang cerdas akan:
✅ Cek warung nasi goreng lain di sekitar (rasa, harga, jam buka)
✅ Baca review di Google Maps
✅ Tanya tetangga: “Nasi goreng mana yang paling laku di sini?”
✅ Pelajari apa yang SUKSES dan apa yang GAGAL dari mereka
Itulah literature review dalam bentuk paling sederhana!
🎯 6 Alasan Mengapa Kita Harus Belajar dari Riset Masa Lalu
Menurut Creswell (2014) dan Sekaran & Bougie (2016), ada beberapa alasan fundamental:
| No | Alasan | Penjelasan | Contoh UMKM |
|---|---|---|---|
| 1 | Mencegah Duplikasi | Supaya tidak meneliti hal yang sudah dijawab. | Tidak perlu riset ulang “Apakah diskon meningkatkan penjualan?” (sudah jelas iya). |
| 2 | Membangun Landasan Teori | Memberi “rumah” bagi riset Anda. | Pakai teori TAM (Technology Acceptance Model) untuk riset adopsi e-wallet. |
| 3 | Menemukan Research Gap | Melihat apa yang BELUM diteliti. | Riset banyak bahas Gen Z & Shopee, tapi belum ada yang bahas Gen X & TikTok Shop. |
| 4 | Menyempurnakan Metodologi | Belajar dari keberhasilan & kesalahan metode riset sebelumnya. | Riset A gagal karena kuesioner terlalu panjang. Anda buat lebih singkat. |
| 5 | Menyediakan Baseline Perbandingan | Anda bisa bandingkan hasil Anda dengan hasil sebelumnya. | “Riset 2020 bilang 60% UMKM pakai Instagram. Bagaimana di 2026?” |
| 6 | Meningkatkan Kredibilitas | Riset yang didukung literatur kuat lebih dipercaya. | Investor lebih percaya proposal bisnis yang didukung data riset, bukan sekadar “firasat”. |
🔍 Di Mana Mencari Riset Masa Lalu?
Berikut sumber-sumber yang bisa Anda akses (dari global sampai lokal Indonesia):
🌍 Google Scholar
Mesin pencari jurnal gratis. Paling mudah untuk pemula.
🇮🇩 SINTA
Science & Technology Index Indonesia. Jurnal nasional terakreditasi.
🇮🇩 Garuda
Garba Rujukan Digital — portal jurnal & prosiding Indonesia.
📚 Scopus / WoS
Database jurnal internasional bereputasi (biasanya via kampus).
📊 Statista
Data statistik bisnis global & Indonesia.
📈 BPS / Katadata
Data resmi Indonesia & analisis bisnis kontekstual.
🏦 Bank Indonesia
Data makroekonomi, inflasi, nilai tukar, dll.
📱 DOAJ / DOAB
Directory of Open Access Journals — jurnal gratis legal.
Tidak semua jurnal harus berbayar! Gunakan Google Scholar + filter “since 2021” untuk dapat riset terbaru. Banyak jurnal Indonesia terakreditasi SINTA yang GRATIS diakses (misal: Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Petra, Jurnal Bisnis Indonesia UI, dll).
2. How to Approach the Literature Review
📚 Apa Itu Literature Review? (Bukan Sekadar “Daftar Bacaan”)
Banyak pemula mengira literature review = daftar ringkasan buku/jurnal. Ini SALAH BESAR!
“Menurut A (2020), harga berpengaruh. Menurut B (2021), harga berpengaruh. Menurut C (2022), harga berpengaruh.”
(Ini cuma daftar belanjaan kutipan — tidak ada nilai tambahnya!)
Daftar ringkasan itu seperti gado-gado — semua bahan ditumpuk di piring, tapi tidak tercampur.
Literature review yang baik itu seperti rujak — semua bahan dicampur, diulek jadi satu kesatuan rasa baru yang lebih kaya.
🔄 5 Tahapan Literature Review (Menurut Ridley, 2012)
Tahap 1: Pencarian Sistematis (Search)
Gunakan keyword yang tepat. Contoh:
Keywords yang efektif:
✅ “live shopping” AND “purchase decision” AND “Gen Z”
✅ “TikTok Shop” AND “impulsive buying” Indonesia
✅ “social commerce” AND “live streaming” AND consumer behavior
❌ Keywords yang buruk: “TikTok Shop bagus tidak” (terlalu informal, tidak akademis)
Tahap 2: Evaluasi Kualitas Sumber
Tidak semua sumber setara! Gunakan Piramida Bukti (Evidence Pyramid):
Untuk skripsi/tesis: Utamakan jurnal ilmiah peer-reviewed. Blog dan artikel berita boleh jadi pelengkap, tapi bukan sumber utama.
Tahap 3: Analisis Kritis
Baca dengan pertanyaan kritis:
- Apa pertanyaan riset utama penulis?
- Teori apa yang dipakai? Cocok dengan konteks saya?
- Metode apa yang digunakan? Sampelnya siapa?
- Apa temuan utamanya?
- Apa keterbatasan riset ini?
- Bagaimana relevansinya dengan riset SAYA?
Tahap 4: Sintesis (KUNCI UTAMA!)
Inilah yang membedakan literature review dengan daftar ringkasan. Gunakan Matriks Sintesis:
| Penulis (Tahun) | Teori | Metode | Sampel | Temuan Utama | Keterbatasan | Relevansi dg Riset Saya |
|—————–|——-|——–|——–|————–|————–|————————-|
| Sari (2023) | TAM | Survei | 200 Gen Z Jakarta | Live shopping ↑ impulse buying 35% | Hanya di Jakarta | Dasar hipotesis saya |
| Chen (2024) | SOR | Eksperimen | 150 mahasiswa China | Host menarik ↑ trust ↑ purchase | Konteks China | Bandingkan dg Indonesia |
| Pratama (2025) | UTAUT | Survei | 300 UMKM seller | Live shopping ↑ omzet 2x | Hanya UMKM fashion | Perlu perluasan ke F&B |
Dari matriks ini, Anda bisa menulis:
“Beberapa studi menunjukkan live shopping berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian (Sari, 2023; Chen, 2024; Pratama, 2025). Namun, sebagian besar riset dilakukan di konteks urban (Jakarta) atau negara lain (China), sehingga masih perlu dikaji di konteks kota tier-2 Indonesia seperti Surabaya atau Bandung.”
Tahap 5: Menulis dengan Struktur yang Baik
Menurut Booth et al. (2016) dalam The Craft of Research, struktur literature review yang baik:
- Pendahuluan: Jelaskan ruang lingkup & tujuan tinjauan.
- Tema 1: Kelompokkan riset berdasarkan tema (bukan per penulis!).
- Tema 2: Bandingkan & kontraskan temuan.
- Tema 3: Identifikasi research gap.
- Kesimpulan: Hubungkan dengan riset Anda.
Mulai dari yang umum (tren global e-commerce) ➔ ke spesifik (live shopping di Asia Tenggara) ➔ ke sangat spesifik (TikTok Shop & Gen Z Indonesia) ➔ ke research gap Anda.
🛠️ Tools untuk Literature Review
📚 Mendeley
Manajemen referensi GRATIS. Bisa auto-generate sitasi.
📚 Zotero
Alternatif Mendeley, open-source, ringan.
🔍 Connected Papers
Visualisasi jaringan sitasi antar jurnal.
🤖 Elicit / Consensus
AI untuk sintesis literatur otomatis.
3. Secondary Data Research in Digital Era
📊 Apa Itu Data Sekunder?
Data sekunder = data yang sudah dikumpulkan oleh pihak lain untuk tujuan yang mungkin berbeda dari riset Anda, tapi bisa Anda manfaatkan.
Anda mau buka warung baru. Daripada survei satu-satu pelanggan (mahal, lama), Anda bisa:
✅ Baca data BPS tentang jumlah penduduk per kecamatan
✅ Cek Google Trends: “nasi goreng” paling dicari di daerah mana
✅ Lihat data GoFood/GrabFood tentang area paling ramai order
✅ Baca laporan Katadata tentang tren kuliner 2025
Semua itu data sekunder! Murah, cepat, dan seringkali sudah valid.
⚖️ Data Primer vs Data Sekunder
| Aspek | Data Primer | Data Sekunder |
|---|---|---|
| Pengumpulan | Anda sendiri (survei, wawancara) | Sudah ada (BPS, jurnal, laporan) |
| Biaya | Mahal | Murah atau gratis |
| Waktu | Lama (minggu-bulan) | Cepat (jam-hari) |
| Spesifisitas | Sangat sesuai kebutuhan Anda | Mungkin tidak 100% pas |
| Kontrol Kualitas | Anda yang kontrol | Tergantung sumber |
🌐 Sumber Data Sekunder di Era Digital
Di era 2026, data sekunder melimpah ruah. Berikut kategorinya:
A. Data Resmi Pemerintah (Sangat Dipercaya)
- BPS (bps.go.id): Data kependudukan, inflasi, PDB, UMKM.
- Bank Indonesia: Suku bunga, nilai tukar, transaksi digital.
- Kemenkop UKM: Data jumlah UMKM, sektor, persebaran.
- BKPM: Data investasi masuk ke Indonesia.
B. Data Industri & Riset Pasar
- Statista: Statistik global & Indonesia (freemium).
- Katadata: Analisis data kontekstual Indonesia.
- e-Conomy SEA Report (Google-Temasek-Bain): Laporan tahunan ekonomi digital Asia Tenggara.
- APJII: Data penetrasi internet Indonesia.
- Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA): Data pelaku e-commerce.
C. Data Digital (Baru & Kaya)
- Google Trends: Tren pencarian kata kunci per wilayah.
- Social Media Analytics: Instagram Insights, TikTok Analytics, YouTube Analytics.
- Marketplace Data: Shopee, Tokopedia (via tools seperti Compas.co.id).
- Review & Rating Data: Google Maps, TripAdvisor, review produk.
D. Data Akademik
- ICPSR: Repositori data riset sosial global.
- World Bank Open Data: Data pembangunan global.
- Data Indonesia (data.go.id): Portal data terbuka pemerintah.
⚠️ Evaluasi Kualitas Data Sekunder
Tidak semua data sekunder bisa dipercaya! Gunakan kriteria AAA:
| Kriteria | Pertanyaan Kunci | Contoh |
|---|---|---|
| A – Accuracy (Akurasi) | Apakah metodenya jelas? Siapa yang kumpulkan? | Data BPS ✅ (metodologi jelas). Blog pribadi ❌ (tidak jelas). |
| A – Appropriateness (Kesesuaian) | Apakah cocok dengan masalah riset saya? | Data UMKM 2015 mungkin tidak relevan untuk riset 2026. |
| A – Availability (Ketersediaan) | Apakah bisa diakses lengkap? | Data berbayar mahal mungkin tidak feasible untuk skripsi. |
🇮🇩 Contoh Kasus: Riset UMKM Kopi dengan Data Sekunder
Langkah 1: BPS → Data PDB per kapita kota-kota tier-2 (Yogya, Malang, Solo, Medan).
Langkah 2: APJII → Data penetrasi internet & media sosial per kota.
Langkah 3: Google Trends → Bandingkan pencarian “kopi susu” di 10 kota.
Langkah 4: Katadata → Laporan pertumbuhan F&B 2024-2025.
Langkah 5: Google Maps → Hitung jumlah coffee shop di tiap kota (analisis kompetitor).
Langkah 6: Jurnal SINTA → Cari riset terdahulu tentang perilaku konsumen kopi di Indonesia.
Hasil: Anda sudah punya landasan data yang kaya sebelum turun ke lapangan!
Di era digital, banyak data yang tidak valid beredar. Contoh:
❌ Statistik dari blog tanpa sumber jelas
❌ Infografis viral yang tidak mencantumkan metodologi
❌ Data survei online yang sampelnya bias (hanya followers akun tertentu)
Prinsip: Jika Anda tidak bisa melacak ke sumber aslinya, JANGAN PAKAI.
4. Ethical Issues & Plagiarism
⚖️ Mengapa Etika Riset itu Krusial?
Riset bisnis melibatkan manusia, data, dan keputusan. Ketiganya punya dimensi etika yang tidak bisa ditawar.
Etika riset itu seperti lampu merah. Anda bisa saja menerobosnya saat sepi (tidak ada yang lihat), tapi itu BERBAHAYA bagi diri sendiri dan orang lain. Peneliti yang etis berhenti di lampu merah, bahkan saat tidak ada polisi.
🛡️ 5 Prinsip Etika Riset (Menurut Bryman & Bell, 2015)
- 1. Tidak Merugikan (No Harm): Riset tidak boleh membahayakan responden (fisik, psikologis, finansial, reputasi).
- 2. Informed Consent: Responden harus tahu tujuan riset dan setuju secara sadar.
- 3. Privasi & Anonimitas: Identitas responden dilindungi. Data tidak disebar sembarangan.
- 4. Kejujuran Intelektual: Tidak memalsukan data, tidak plagiat, tidak memanipulasi hasil.
- 5. Transparansi Metodologi: Jujur tentang cara riset dilakukan, termasuk keterbatasannya.
🇮🇩 Konteks Etika di Indonesia
Di Indonesia, etika riset juga diatur oleh:
- Kode Etik Peneliti Indonesia (dari LIPI/BRIN).
- Pedoman Etika Penelitian dari masing-masing universitas.
- UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) No. 27/2022 — sangat relevan untuk riset digital!
Beberapa tahun lalu, ada peneliti yang mengambil data pelanggan e-commerce tanpa izin untuk riset akademis. Data itu kemudian “bocor” dan dipakai untuk spam marketing. Peneliti tersebut diproses hukum karena melanggar privasi, meskipun niatnya “untuk ilmu pengetahuan”.
Pelajaran: Niat baik TIDAK membenarkan cara yang salah.
🚫 Plagiarisme: Musuh Utama Peneliti
Plagiarisme adalah pencurian intelektual. Ini bukan hanya masalah etika, tapi juga hukum (UU Hak Cipta No. 28/2014).
7 Jenis Plagiarisme yang Harus Anda Hindari
| Jenis | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|
| 1. Verbatim (Kata per Kata) | Menyalin persis tanpa tanda kutip & sitasi. | Copy-paste paragraf jurnal ke skripsi tanpa kredit. |
| 2. Mosaic (Patchwriting) | Mengganti beberapa kata, tapi struktur kalimat sama. | “Harga berpengaruh positif” → “Harga memiliki dampak positif” (tanpa sitasi). |
| 3. Paraphrasing tanpa Sitasi | Menulis ulang dengan bahasa sendiri, tapi tidak menyebut sumber. | Membaca ide orang, menulis ulang, tapi lupa mencantumkan nama penulis asli. |
| 4. Self-Plagiarism | Memakai karya sendiri yang sudah dipublikasikan sebelumnya tanpa sitasi. | Menggunakan bab skripsi yang sama untuk 2 jurnal berbeda. |
| 5. Plagiarisme Sumber | Mengutip dari sumber sekunder tanpa menyebut sumber asli. | Menulis “Menurut Porter (dalam Sari, 2020)” padahal Anda tidak baca Porter langsung. |
| 6. Plagiarisme Ide | Mengambil ide/gagasan orang tanpa kredit. | Mendengar ide teman di seminar, lalu menjadikannya riset sendiri. |
| 7. Plagiarisme Terjemahan | Menerjemahkan teks asing tanpa sitasi. | Menerjemahkan jurnal Inggris ke Indonesia, lalu mengklaim sebagai karya sendiri. |
❌ “Kalau saya ubah kata-katanya, bukan plagiat.”
❌ “Kalau saya sebut nama penulisnya di awal, tidak perlu sitasi.”
❌ “Kalau cuma 1-2 kalimat, tidak apa-apa.”
❌ “Kalau dari internet, bebas dikutip.”
SEMUA INI SALAH! Ide orang lain TETAP milik mereka, apapun bentuknya.
✅ Cara Menghindari Plagiarisme: Teknik Parafrasa yang Benar
Parafrasa = menulis ulang ide orang lain dengan gaya bahasa Anda sendiri + tetap mencantumkan sumber.
“Live shopping telah mengubah pola konsumsi Gen Z secara signifikan, dengan peningkatan impulse buying sebesar 35% dibandingkan metode e-commerce konvensional.”
❌ Parafrasa BURUK (mosaic/plagiat):
“Live shopping telah mengubah pola konsumsi Gen Z secara signifikan, dengan kenaikan impulse buying sebesar 35% dibanding e-commerce biasa.”
(Hanya ganti beberapa kata, struktur sama)
❌ Parafrasa BURUK (tanpa sitasi):
“Gen Z sekarang lebih sering beli impulsif saat nonton live shopping, naik 35% dari cara belanja online biasa.”
(Bahasa sendiri, tapi tidak menyebut sumber!)
✅ Parafrasa BAIK:
“Menurut Sari (2023), fenomena live shopping mendorong perilaku pembelian impulsif di kalangan Gen Z — meningkat hingga 35% dibandingkan pola belanja online tradisional. Hal ini menunjukkan perlunya strategi pemasaran yang berbeda untuk generasi digital native.”
(Bahasa sendiri + sitasi + interpretasi + nilai tambah)
🛠️ Tools Anti-Plagiarisme
🔍 Turnitin
Standar emas cek plagiarisme. Biasanya disediakan kampus.
🔍 iThenticate
Versi Turnitin untuk publikasi jurnal.
🔍 Grammarly
Cek plagiarisme + tata bahasa Inggris.
🔍 SmallSEOTools
Cek plagiarisme gratis (untuk cek cepat).
📝 Teknik Sitasi yang Benar
Ada banyak gaya sitasi. Yang paling umum di bisnis:
| Gaya | Contoh In-Text | Bidang |
|---|---|---|
| APA (7th ed.) | (Sari, 2023) atau Sari (2023) menyatakan… | Psikologi, Bisnis, Pendidikan |
| Harvard | (Sari 2023) atau Sari (2023) | Ekonomi, Sosial |
| IEEE | [1], [2], [3] | Teknik, IT |
| Chicago | Footnote di bawah halaman | Sejarah, Humaniora |
🎭 Dilema Etika: Latihan Berpikir Kritis
Situasi 2: Anda menemukan fakta bahwa produk klien (yang membiayai riset Anda) ternyata berbahaya bagi konsumen. Klien minta Anda “menyembunyikan” fakta itu di laporan. Apa yang Anda lakukan?
Situasi 3: Anda meng-copy 1 paragraf dari jurnal untuk draft pribadi (tidak untuk dikumpulkan). Apakah ini plagiat?
Diskusikan di kelas! Tidak ada jawaban hitam-putih, tapi yang penting adalah ALASAN di balik keputusan Anda.
📚 Studi Kasus Lengkap: Riset UMKM Keripik Maicih
🥔 Kasus: UMKM Keripik Singkong “Maicih 2.0”
Maicih adalah UMKM keripik singkong pedas legendaris dari Bandung. Di 2026, mereka ingin ekspansi ke marketplace online. Owner minta Anda melakukan riset pasar.
📚 Langkah 1: Literature Review
Jurnal 1 (SINTA 2): Wijaya (2022) — “Pengaruh level pedas terhadap repeat order snack online di Jawa Barat”. Temuan: level 5 paling populer.
Jurnal 2 (Scopus): Tanaka (2023) — “Spicy food consumption & social media virality in Southeast Asia”. Temuan: konten “mukbang pedas” di TikTok ↑ penjualan 40%.
Laporan Industri: Katadata (2025) — “Tren Snack Lokal 2025”. Data: pasar snack lokal tumbuh 18% per tahun.
Data BPS: Konsumsi singkong per kapita di Jawa Barat = tertinggi di Indonesia.
Research Gap yang Anda temukan:
“Belum ada riset yang mengkaji kombinasi strategi level pedas + TikTok marketing untuk UMKM snack di era pasca-pandemi.”
📊 Langkah 2: Secondary Data Collection
- Google Trends: “keripik pedas” paling dicari di Bandung, Jakarta, Surabaya.
- Shopee Data: Top 10 keripik pedas terlaris — harga rata-rata Rp 15.000-25.000.
- Instagram Insights: Kompetitor dengan konten video pedas dapat engagement 3x lebih tinggi.
- APJII: 78% target pasar (usia 18-30) aktif di TikTok.
🔬 Langkah 3: Primary Data (Baru dikumpulkan setelah secondary data)
Setelah tahu “medan perang” dari data sekunder, Anda baru survei 200 calon konsumen dengan pertanyaan yang lebih tajam.
✅ Hasil: Riset Efisien & Berkualitas
✅ Hemat waktu 2 minggu karena sudah tahu peta kompetitor dari data sekunder
✅ Kuesioner survei lebih fokus karena sudah baca literatur
✅ Rekomendasi berbasis data, bukan “firasat”
✅ Owner Maicih percaya karena riset didukung sumber kredibel
Rekomendasi Final:
1. Fokus di 3 kota: Bandung, Jakarta, Surabaya (data Google Trends)
2. Harga Rp 18.000 (sesuai benchmark Shopee)
3. Level pedas 1-10 (data Wijaya: level 5 paling laku, tapi tawarkan variasi)
4. Strategi TikTok: kolaborasi dengan 10 mikro-influencer mukbang (data Tanaka)
⏱️ Rundown Sesi: Lecture & Discussion (150 Menit)
Struktur kelas yang seimbang antara teori dan praktik:
| Waktu | Aktivitas | Fokus |
|---|---|---|
| 00-15′ | Ice Breaking & Review | Review Sesi 02. Tanya: “Siapa yang pernah copy-paste tugas dari internet? Jujur!” (Pengantar plagiat). |
| 15-35′ | Lecture: Why Past Research | 6 alasan + sumber-sumber literatur (global & Indonesia). |
| 35-60′ | Lecture: Literature Review | 5 tahap Ridley. Matriks sintesis. Teknik funnel. Demo Mendeley. |
| 60-80′ | Lecture: Secondary Data | Jenis-jenis data sekunder. Demo Google Trends & BPS. Kriteria AAA. |
| 80-90′ | Coffee Break | Istirahat. |
| 90-115′ | Lecture: Etika & Plagiarisme | 7 jenis plagiarisme. Teknik parafrasa. Demo Turnitin. UU PDP. |
| 115-140′ | Workshop Kelompok | Kasus: “UMKM Batik Pekalongan mau go digital”. Mahasiswa buat: (1) 5 keywords pencarian literatur (2) Matriks sintesis 3 jurnal (3) Daftar 5 sumber data sekunder (4) Contoh parafrasa 1 kalimat Presentasi 2-3 kelompok. |
| 140-150′ | Wrap-up & Tugas | Rangkuman. Tugas: Cari 3 jurnal tentang topik skripsi/minat riset masing-masing. Buat matriks sintesis + identifikasi research gap. |