RISET BISNIS – SESI 02

Riset Bisnis Sesi 02 – Formulation of Research Problems | Aurinoworks

🚀 Riset Bisnis Sesi 02

Formulation of Research Problems

“Riset yang baik dimulai dari masalah yang tepat. Bukan sekadar mencari jawaban, tapi memastikan kita bertanya pada hal yang benar!”

⏱️ 150 Menit 📖 Zikmund Ch. 3, 4, 5, 6 🇮🇩 Kontekstual UMKM & E-Commerce 🔰 Ramah Pemula

👋 Belum Pernah Meneliti? Tidak Masalah!

Sesi ini dirancang khusus untuk Anda yang belum terbiasa dengan iklim riset. Kita akan belajar bersama dari dasar, menggunakan bahasa sederhana dan contoh dari dunia nyata (UMKM, Shopee, GoFood, TikTok Shop).

Pola Pikir yang Perlu Anda Tanamkan: Riset bukan tentang “pinter-pinteran”. Riset adalah tentang kejujuran intelektual — berani bilang “saya belum tahu, jadi saya akan cari tahu secara sistematis”.

🎯 Capaian Pembelajaran

  • Understand proses pembentukan teori (theory building) dalam riset bisnis.
  • Understand aspek manusia dan etika dalam riset bisnis.
  • Define & Formulate masalah ilmiah dan menerjemahkan masalah manajemen menjadi masalah riset.
📖 Glosarium Mini untuk Pemula (Baca Dulu!)

Sebelum masuk materi, pahami dulu “kamus kecil” ini agar tidak bingung dengan istilah-istilah di bawah.

Konsep (Concept)
Ide abstrak. Contoh: “Kepuasan Pelanggan”, “Loyalitas Brand”.
Variabel
Konsep yang bisa diukur dan punya nilai berbeda-beda. Contoh: “Tingkat kepuasan” (bisa 1-5), “Harga” (bisa Rp 10.000 – Rp 1.000.000).
Proposisi
Pernyataan logis yang menghubungkan dua konsep atau lebih. Contoh: “Semakin cepat pengiriman, semakin tinggi kepuasan pelanggan.”
Hipotesis
Proposisi yang sudah bisa diuji secara empiris (dengan data). Contoh: “Pelanggan yang menerima paket dalam 1 hari memiliki skor kepuasan rata-rata 4.5/5.”
Teori
Kumpulan proposisi yang saling terhubung untuk menjelaskan suatu fenomena.
Empiris
Berdasarkan bukti/data dari dunia nyata, bukan sekadar logika atau perasaan.
Sampel
Sebagian dari populasi yang diteliti. Contoh: dari 10.000 pelanggan, kita survei 200 orang saja.
1. Theory Building (Pembangunan Teori)

🤔 Apa Itu Teori? (Bukan Seseram Kedengarannya!)

Banyak pemula yang alergi dengan kata “teori”. Padahal dalam riset bisnis, teori itu sederhana:

🍳 Analogi Memasak: Teori itu seperti resep masakan. Dia menjelaskan: bahan apa (konsep), takarannya berapa (variabel), dan bagaimana hubungan antar bahan supaya jadi masakan enak (proposisi). Tanpa resep, Anda cuma “coba-coba”. Dengan resep, Anda tahu MENGAPA masakan ini berhasil.

🏗️ Bangunan Teori: Lapisan dari Bawah ke Atas

Teori dibangun dari komponen-komponen kecil:

KonsepKonstrukVariabelProposisiHipotesisTeori
🇮🇩 Contoh Kontekstual (Coffee Shop Kekinian):
  • Konsep: “Kualitas Pelayanan”
  • Konstruk: “Servqual” (dimensi lebih kompleks: kehandalan, empati, jaminan, dll.)
  • Variabel: Skor Servqual (1-100), Lama antrian (menit), Keramahan barista (skor 1-5)
  • Proposisi: “Keramahan barista memengaruhi kepuasan pelanggan”
  • Hipotesis: “Setiap kenaikan 1 poin skor keramahan, skor kepuasan naik 0.3 poin”
  • Teori: “Teori Kualitas Pelayanan yang memengaruhi Loyalitas Pelanggan di Coffee Shop”

🔄 Dua Cara Membangun Teori

Bayangkan dua detektif dengan cara kerja berbeda:

A. Deduktif (Uji Teori yang Sudah Ada)

Alur: Teori ➔ Hipotesis ➔ Kumpulkan Data ➔ Uji ➔ Kesimpulan

🕵️ Analogi: Detektif yang sudah punya dugaan awal berdasarkan teori kriminologi, lalu mencari bukti di TKP untuk membuktikan dugaannya benar atau salah.
Contoh UMKM: Ada teori “Price-Quality Inference” — konsumen mengira barang mahal pasti berkualitas. Seorang seller Shopee mau UJI teori ini: apakah kalau dia NAIKKAN harga produknya 20%, konversi pembeliannya juga NAIK karena orang mengira kualitasnya lebih baik?

B. Induktif (Bangun Teori dari Lapangan)

Alur: Observasi ➔ Lihat Pola ➔ Hipotesis Tentatif ➔ Teori Baru

🕵️ Analogi: Detektif yang TIDAK punya dugaan awal. Dia datang ke TKP, amati semua bukti, dan dari pola-pola yang muncul, dia bangun teori baru tentang siapa pelakunya.
Contoh UMKM: Pemilik toko kue online mengamati: “Kok, setiap saya posting foto kue di jam 8 malam, orderan langsung naik? Posting jam 12 siang sepi.” Dari observasi ini, dia bangun teori: “Gen Z di kota besar paling aktif belanja online jam 8-10 malam.”
⚠️ Kesalahan Umum Pemula: Banyak skripsi mahasiswa cuma “uji teori” (deduktif) tanpa berpikir apakah teori dari buku 1990-an masih relevan untuk konteks Indonesia 2026. Beranilah membangun teori baru jika menemukan fenomena unik di lapangan!
2. Business Research Process: Overview

🗺️ Peta Jalan Riset Bisnis

Riset bisnis yang baik TIDAK dimulai dari “saya mau survey”, tapi dimulai dari masalah yang jelas. Berikut 6 tahapannya:

1. Problem2. Design3. Sampling4. Collection5. Analysis6. Report

📋 Penjabaran Setiap Tahapan

Tahap 1: Problem Definition (PALING KRUSIAL!)

Menentukan apa masalah yang sebenarnya. 50% kegagalan riset berasal dari tahap ini!

Contoh Kegagalan: Sebuah startup makanan melakukan riset besar-besaran tentang “Rasa produk baru”, padahal masalahnya sebenarnya “Harga terlalu mahal untuk target pasar”. Hasilnya: rasa enak, tapi tetap tidak laku. Risetnya SIA-SIA karena salah mendefinisikan masalah.

Tahap 2: Research Design (Desain Riset)

Memilih “resep” riset yang cocok. Ada 3 jenis utama:

Jenis Tujuan Contoh UMKM
Eksploratori Menggali ide, memahami fenomena baru “Kenapa ya TikTok Shop tiba-tiba rame?” (wawancara mendalam dengan 10 seller)
Deskriptif Menggambarkan karakteristik “Berapa usia rata-rata pembeli Batik online kita?” (survei 200 orang)
Kausal (Sebab-Akibat) Menguji hubungan sebab-akibat “Apakah diskon 50% benar-benar meningkatkan penjualan 2x lipat?” (eksperimen A/B test)

Tahap 3: Sampling Design (Desain Sampel)

Menentukan siapa yang akan diteliti. Tidak perlu semua orang!

🍲 Analogi: Saat Anda masak sop dan ingin cicipi rasanya, Anda TIDAK PERLU makan satu panci! Cukup satu sendok. Tapi, sendok itu harus mewakili seluruh panci (diaduk dulu!).

Konsep Kunci:

  • Populasi: Semua orang yang ingin Anda teliti (misal: 100.000 pelanggan Shopee Anda).
  • Sampel: Sebagian yang benar-benar Anda teliti (misal: 400 orang).
  • Sampling Frame: Daftar sumber sampel (misal: database email pelanggan).

Tahap 4: Data Collection (Pengumpulan Data)

Cara mengambil data dari sampel. Ada 2 kategori:

  • Primer: Data yang Anda ambil sendiri (wawancara, kuesioner, observasi).
  • Sekunder: Data yang sudah ada (laporan BPS, data internal perusahaan, artikel berita).

Tahap 5: Data Analysis (Analisis Data)

Mengubah data mentah menjadi insight. Bisa kualitatif (tema, pola) atau kuantitatif (statistik).

Tahap 6: Report Preparation (Penyajian Laporan)

Menyampaikan temuan dengan bahasa yang dipahami oleh pengambil keputusan (owner, manajer, CEO).

3. The Human Side of Business Research

👥 Riset Itu Tentang MANUSIA, Bukan Hanya Angka

Di balik setiap kuesioner, ada manusia dengan perasaan, budaya, bias, dan kebohongan-kebohongan kecil. Peneliti yang baik HARUS memahami ini.

🎭 Tiga Aktor dalam Riset

  1. Peneliti (Researcher): Anda, yang mencari kebenaran objektif.
  2. Responden: Orang yang memberi data (pelanggan, karyawan, dll).
  3. Klien (Client/Sponsor): Pemilik bisnis yang butuh insight. Kadang KLIEN MEMINTA HASIL YANG “MENGUNTUNGKAN” dia!

⚠️ Bias: Musuh Tersembunyi Riset

Bias adalah kesalahan sistematis yang membuat hasil riset tidak akurat. Ada banyak jenisnya:

A. Bias dari Responden

Jenis BiasPenjelasanContoh
Social Desirability Bias Responden menjawab yang “dianggap baik” secara sosial, bukan yang sebenarnya. Ditanya “Berapa kali Anda belanja di toko online?” Jawab “Sering” biar dikira modern, padahal jarang.
Acquiescence Bias Responden cenderung menjawab “setuju” untuk semua pernyataan. Kuesioner panjang, responden malas baca, tinggal centang “Setuju” semua.
Recall Bias Ingatan responden tidak akurat. “Berapa kali Anda makan di restoran ini tahun lalu?” Pasti jawabannya ngaco.
Non-response Bias Orang yang TIDAK mengisi kuesioner punya karakteristik berbeda dengan yang mengisi. Survey kepuasan pelanggan online. Yang jawab biasanya yang KECEWA atau SANGAT PUAS. Pelanggan “netral” jarang jawab.

B. Bias dari Peneliti

  • Confirmation Bias: Hanya mencari data yang mendukung asumsi awal. (“Lihat kan, hipotesis saya benar!”)
  • Leading Questions: Pertanyaan kuesioner yang “menuntun” responden ke jawaban tertentu.
Contoh Pertanyaan Leading (SALAH): “Setujukah Anda bahwa produk kami yang luar biasa ini layak dibeli?”
Perbaikan: “Bagaimana penilaian Anda terhadap kualitas produk kami?” (Netral, dengan skala 1-5)

🇮🇩 Tantangan Khusus di Indonesia

Budaya “Ewuh Pakewuh” (Sungkan): Orang Indonesia cenderung tidak enak hati menolak atau memberi kritik. Ini BIAS BESAR dalam wawancara tatap muka!

Solusi:
  • Gunakan kuesioner anonim (online).
  • Gunakan pihak ketiga (jangan pemilik usaha yang wawancara langsung).
  • Gunakan pertanyaan tidak langsung: “Menurut Anda, bagaimana pengalaman teman-teman Anda…?”

⚖️ Etika Riset Bisnis

Prinsip dasar yang TIDAK BOLEH dilanggar:

  • Informed Consent: Responden tahu tujuan riset dan setuju berpartisipasi.
  • Anonimitas & Kerahasiaan: Data responden dilindungi, tidak disebar sembarangan.
  • Kejujuran Hasil: Tidak boleh memalsukan data atau “memilih-milih” hasil agar sesuai keinginan klien.
  • Tidak Merugikan Responden: Riset tidak boleh membahayakan responden secara fisik/psikologis/finansial.
🚨 Dilema Etika Nyata: Klien minta Anda “mempercantik” laporan riset karena hasilnya buruk. Apa yang Anda lakukan? Peneliti profesional harus berani menolak dan menyajikan data apa adanya, dengan rekomendasi konstruktif.
4. Problem Definition & Formulation (INTI Riset!)

💡 “Setengah dari Solusi Adalah Definisi Masalah yang Tepat”

Ini adalah tahap PALING PENTING. Riset yang mahal dan canggih sekalipun akan SIA-SIA jika masalahnya salah.

🏥 Analogi Dokter: Pasien datang dengan keluhan “Pusing”. Dokter yang buruk langsung kasih obat pusing. Dokter yang BAIK akan periksa dulu: “Pusingnya karena kurang tidur, tekanan darah tinggi, atau tumor otak?” Pengobatan berbeda untuk akar masalah yang berbeda.

🔍 Gejala vs Masalah (Symptom vs Problem)

Banyak orang terjebak pada GEJALA (tanda-tanda), bukan MASALAH (akar penyebab).

Gejala (Apa yang Terlihat)Kemungkinan Masalah (Akar)
Penjualan turun 30%Bisa: produk tidak kompetitif / promosi kurang / harga terlalu tinggi / kualitas menurun
Karyawan banyak yang resignBisa: gaji tidak adil / atasan toxic / tidak ada jenjang karir / budaya kerja buruk
Website banyak traffic tapi tidak ada yang beliBisa: checkout ribet / harga tidak jelas / tidak ada testimoni / pembayaran tidak aman

🔄 Transformasi: Masalah Manajemen ➔ Masalah Riset

Ini adalah skill paling krusial untuk researcher bisnis!

Management Decision ProblemResearch Problem
“Apa yang harus SAYA lakukan?”
Fokus: Tindakan/aksi
“Informasi apa yang saya butuhkan?”
Fokus: Data/pengetahuan
🇮🇩 Contoh Lengkap (UMKM Keripik Pedas):

Gejala: Omzet keripik turun 40% dalam 3 bulan.

Management Problem: “Bagaimana cara menaikkan kembali omzet keripik kami?”
(Ini fokus pada AKSI yang akan diambil owner)

Research Problem: “Faktor apa saja yang menyebabkan penurunan pembelian keripik kami dalam 3 bulan terakhir?”
(Ini fokus pada INFORMASI yang perlu dicari)

Research Questions (Pertanyaan Riset):
  1. Seberapa besar perubahan preferensi rasa pelanggan kami?
  2. Apakah ada kompetitor baru yang mengambil pangsa pasar?
  3. Apakah saluran distribusi kami masih efektif?
  4. Bagaimana persepsi pelanggan terhadap harga vs kualitas produk kami?
Hipotesis: “Penurunan omzet disebabkan oleh masuknya kompetitor baru dengan harga 20% lebih rendah.”

🎯 Karakteristik Masalah Riset yang Baik (SMART-R)

  • Specific: Jelas ruang lingkupnya, tidak terlalu luas atau sempit.
  • Measurable: Bisa diukur dengan data.
  • Achievable: Bisa diteliti dengan sumber daya yang ada (waktu, dana, akses).
  • Relevant: Punya nilai guna untuk pengambilan keputusan.
  • Time-bound: Ada batas waktu penelitian.
  • Researchable: Bisa diteliti secara empiris (bukan pertanyaan filosofis).
❌ Contoh Masalah yang BURUK: “Bagaimana masa depan UMKM di Indonesia?”
(Terlalu luas, tidak bisa diukur, filosofis)

✅ Contoh Masalah yang BAIK: “Bagaimana pengaruh digital marketing terhadap omzet UMKM kuliner di Jakarta Selatan pada tahun 2025?”
(Spesifik, terukur, ada batasan lokasi dan waktu)

📝 Template Praktis: Merumuskan Masalah

TEMPLATE MERUMUSKAN MASALAH RISET

1. Gejala yang saya lihat: _____________________
2. Kemungkinan akar masalah (brainstorm 3-5):
   – _____________________
   – _____________________
   – _____________________
3. Management Problem: “Apa yang harus dilakukan?”
   Jawab: _____________________
4. Research Problem: “Informasi apa yang dibutuhkan?”
   Jawab: _____________________
5. Research Questions (3-5 pertanyaan spesifik):
   a. _____________________
   b. _____________________
   c. _____________________
6. Hipotesis (dugaan awal yang bisa diuji):
   _____________________

🛠️ Sumber Informasi untuk Mempersempit Masalah

Sebelum merumuskan masalah final, kumpulkan dulu informasi dari:

  • Diskusi dengan decision-maker (owner, manajer).
  • Wawancara dengan ahli industri (praktisi, konsultan).
  • Analisis data sekunder (tren industri, laporan BPS, riset kompetitor).
  • Riset kualitatif eksploratori (FGD kecil, wawancara mendalam 5-10 orang).
⏱️ Rundown Sesi: Lecture & Discussion (150 Menit)

Struktur kelas agar tidak membosankan dan mahasiswa tetap aktif:

Waktu Aktivitas Fokus
00-15′ Ice Breaking & Glosarium Tanya jawab: “Pernahkah Anda membeli produk karena review, lalu kecewa?” Hubungkan dengan pentingnya riset yang baik.
15-35′ Lecture: Theory Building Konsep, konstruk, variabel. Analogi memasak. Deduktif vs Induktif.
35-55′ Lecture: Research Process 6 tahap riset. Penekanan pada Tahap 1 (Problem Definition).
55-75′ Lecture: Human Side Jenis-jenis bias. Budaya Ewuh Pakewuh. Etika riset. Diskusi dilema etika.
75-85′ Coffee Break Istirahat.
85-115′ Deep Dive: Problem Formulation Gejala vs Masalah. Transformasi Management → Research Problem. Template praktis.
115-140′ Workshop Kelompok Kasus: “GoFood turun 20% di Jakarta Selatan”. Mahasiswa pakai template untuk merumuskan masalah. Presentasi 2-3 kelompok.
140-150′ Wrap-up & Tugas Rangkuman. Tugas: Cari 1 artikel berita bisnis, rumuskan Research Problem-nya pakai template.
📚 Studi Kasus Lengkap: Dari Masalah ke Laporan

🛒 Kasus: Toko Online Fashion “BatikKu” di Shopee

Mari kita ikuti proses riset dari awal sampai akhir:

🔎 Tahap 1: Identifikasi Gejala

Owner BatikKu, Ibu Ani, menyadari:
  • Rating toko turun dari 4.8 ke 4.3 dalam 2 bulan.
  • Jumlah order turun 25%.
  • Banyak komplain “barang tidak sesuai ekspektasi”.

🔎 Tahap 2: Diskusi dengan Decision-Maker (Owner)

Researcher: “Bu, menurut Ibu apa masalahnya?”
Owner: “Mungkin karena kompetitor banyak, atau kurirnya lambat.”
Researcher: (Jangan langsung percaya! Harus diuji.)

🔎 Tahap 3: Riset Sekunder & Eksploratori

  • Analisis data internal: 80% komplain berkaitan dengan “warna berbeda dari foto”.
  • Wawancara 5 pelanggan yang mengembalikan barang: “Di foto cerah, aslinya kusam.”

🔎 Tahap 4: Perumusan Masalah

AspekRumusan
GejalaRating & order turun
Management Problem“Bagaimana cara menaikkan kembali rating dan order toko?”
Research Problem“Faktor apa yang menyebabkan ketidaksesuaian ekspektasi pelanggan terhadap produk BatikKu?”
Research Questions 1. Seberapa besar gap antara foto produk dan produk asli?
2. Apakah lighting studio foto menyebabkan bias warna?
3. Apakah deskripsi produk kurang akurat?
Hipotesis“Foto produk dengan lighting studio yang terlalu terang menyebabkan bias warna 20-30% dari warna asli produk.”

🔎 Tahap 5: Desain Riset

Riset Kausal (sebab-akibat). Eksperimen: buat 2 versi foto produk (lighting studio vs lighting natural), lalu A/B test.

🔎 Tahap 6: Hasil & Rekomendasi

Temuan: Foto lighting natural menghasilkan rating kepuasan 4.6, sementara foto studio hanya 3.8.

Rekomendasi untuk Owner:
  1. Ganti semua foto produk dengan lighting natural (cahaya matahari).
  2. Tambahkan disclaimer: “Warna asli mungkin sedikit berbeda tergantung layar HP Anda”.
  3. Latih tim fotografi untuk menggunakan white balance yang akurat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *