🌉 Riset Bisnis Sesi 04
Research Methodology: The Bridge
“Dari literatur ke tindakan — inilah jembatan yang mengubah ‘tahu’ menjadi ‘tahu cara meneliti’!”
🌉 Mengapa Sesi Ini Disebut “Jembatan”?
Bayangkan perjalanan riset Anda seperti membangun rumah:
- Sesi 03 (Literature Review) = Anda mengumpulkan bahan bangunan (bata, semen, kayu) dari berbagai toko.
- Sesi 04 (INI!) = Anda membuat cetak biru (blueprint) rumah — menentukan fondasi, denah, struktur.
- Sesi 05+ = Anda mulai membangun rumah sesuai cetak biru.
Tanpa cetak biru yang jelas, bahan bangunan sebanyak apapun hanya akan jadi tumpukan sampah. Sesi inilah yang mengubah “pengetahuan” menjadi “rencana aksi”.
Literature Review
(Bahan Bangunan)
Research Methodology
(Cetak Biru)
Data Collection & Analysis
(Membangun)
🎯 Capaian Pembelajaran
- Understand cara memposisikan riset & membangun landasan teori yang kokoh (theoretical framework).
- Understand cara mengembangkan hipotesis yang bisa diuji.
- Demonstrate mastery dalam memilih metode riset yang efektif.
📖 Glosarium Mini Sesi Ini
Istilah-istilah kunci yang akan sering muncul:
- Theoretical Framework (Kerangka Teori)
- Struktur konseptual yang menghubungkan variabel-variabel berdasarkan teori yang sudah ada — seperti “peta” riset Anda.
- Conceptual Framework (Kerangka Konseptual)
- Versi lebih spesifik dari kerangka teori, disesuaikan dengan konteks riset Anda.
- Variabel Independen (IV)
- Variabel yang MEMENGARUHI variabel lain (sebab). Disebut juga “predictor” atau “exogenous”.
- Variabel Dependen (DV)
- Variabel yang DIPENGARUHI (akibat). Disebut juga “outcome” atau “endogenous”.
- Variabel Mediating (Mediator)
- Variabel “perantara” yang menjelaskan MENGAPA IV memengaruhi DV.
- Variabel Moderating (Moderator)
- Variabel yang MEMPERKUAT atau MEMPERLEMAH hubungan antara IV dan DV.
- Variabel Kontrol
- Variabel yang “dikendalikan” agar tidak mengacaukan hasil riset.
- Hipotesis
- Pernyataan tentatif tentang hubungan antar variabel yang bisa diuji secara empiris.
- Null Hypothesis (H₀)
- Hipotesis yang menyatakan TIDAK ADA hubungan/pengaruh.
- Alternative Hypothesis (H₁/Ha)
- Hipotesis yang menyatakan ADA hubungan/pengaruh.
1. Setting Up Theoretical Framework (Cetak Biru Riset)
🏗️ Apa Itu Theoretical Framework?
Kerangka teoritis adalah struktur logis yang menunjukkan bagaimana variabel-variabel dalam riset Anda saling berhubungan, berdasarkan teori yang sudah teruji.
Bayangkan Anda mau pergi dari Jakarta ke Bandung. Theoretical framework itu seperti peta yang menunjukkan:
✅ Titik awal (variabel independen)
✅ Tujuan (variabel dependen)
✅ Rute yang mungkin (hubungan antar variabel)
✅ Jalan alternatif (variabel mediating/moderating)
Tanpa peta, Anda akan tersesat — begitu juga riset tanpa kerangka teori.
🎯 4 Fungsi Kerangka Teori (Menurut Kerlinger, 1986)
| No | Fungsi | Penjelasan |
|---|---|---|
| 1 | Memberi Nama & Mendefinisikan | Menjelaskan variabel-variabel yang akan diteliti secara jelas. |
| 2 | Menjelaskan Hubungan | Menunjukkan bagaimana variabel-variabel saling terkait. |
| 3 | Merumuskan Hipotesis | Menjadi dasar untuk membuat dugaan yang bisa diuji. |
| 4 | Memberi Landasan Interpretasi | Membantu menjelaskan hasil riset nanti (mengapa hasilnya begitu). |
🧩 5 Jenis Variabel dalam Kerangka Teori
Ini adalah “alfabet” dari kerangka teoritis. Anda HARUS paham ini!
📊 Visualisasi Hubungan Antar Variabel
(Penyebab) ➡️ Variabel Dependen
(Akibat)
(Perantara) ➡️ DV
(Memperkuat/Melemahkan)
1. Variabel Independen (IV) — “Si Penyebab”
Variabel yang mempengaruhi variabel lain. Disebut juga: predictor, explanatory variable, stimulus.
IV yang mungkin: Harga, Kualitas Kopi, Kecepatan Layanan, Suasana Kafe.
2. Variabel Dependen (DV) — “Si Akibat”
Variabel yang dipengaruhi oleh IV. Disebut juga: outcome, response variable, criterion.
3. Variabel Mediating (Mediator) — “Si Perantara”
Menjelaskan MENGAPA atau BAGAIMANA IV memengaruhi DV. Ia berada “di tengah-tengah”.
IV: Iklan TikTok ➡️ Mediator: Brand Awareness ➡️ DV: Keputusan Pembelian
Logikanya: Iklan TikTok TIDAK langsung bikin orang beli. Tapi iklan ➔ bikin orang tahu merek ➔ baru kemudian beli.
Brand Awareness adalah MEDIATOR.
4. Variabel Moderating (Moderator) — “Si Penguat/Pelemah”
Variabel yang mempengaruhi kekuatan hubungan antara IV dan DV. Ia “turut campur” tapi tidak di tengah alur.
IV: Diskon 50% ➡️ DV: Pembelian Impulsif
Moderator: Gender
Logikanya: Diskon memengaruhi pembelian impulsif, TAPI pengaruhnya lebih kuat pada wanita dibanding pria (berdasarkan riset tertentu).
Gender adalah MODERATOR — ia memperkuat/melemahkan hubungan.
5. Variabel Kontrol — “Si Penetral”
Variabel yang dikendalikan agar tidak mengacaukan hasil. Biasanya variabel yang sudah diketahui berpengaruh tapi bukan fokus riset.
📝 Langkah Membangun Kerangka Teori (Step-by-Step)
Langkah 1 – Identifikasi DV: Apa yang mau dijelaskan?
➡️ DV = Keputusan Pembelian Gen Z di TikTok Shop
Langkah 2 – Identifikasi IV: Apa yang mungkin memengaruhinya?
➡️ IV1 = Kualitas Konten Live (host menarik, visual bagus)
➡️ IV2 = Interaktivitas (respons host, giveaway)
➡️ IV3 = Diskon Eksklusif (harga khusus saat live)
Langkah 3 – Review Teori: Teori apa yang relevan?
➡️ Teori SOR (Stimulus-Organism-Response): Konten live (stimulus) ➔ emosi positif (organism) ➔ pembelian (response)
➡️ Teori TAM (Technology Acceptance Model): Persepsi kemudahan & kegunaan memengaruhi adopsi teknologi
Langkah 4 – Tentukan Mediator/Moderator:
➡️ Mediator = Trust (Kepercayaan) — konten bagus ➔ kepercayaan naik ➔ beli
➡️ Moderator = Income Level — pengaruh diskon lebih kuat pada Gen Z berpenghasilan rendah
Langkah 5 – Gambar Diagram:
🎨 Kerangka Teori: Live Shopping TikTok & Gen Z
1. “Kerangka Teori = Daftar Teori” — SALAH! Kerangka teori bukan sekadar kumpulan teori, tapi struktur hubungan antar variabel.
2. Tidak ada justifikasi — setiap hubungan harus dijelaskan MENGAPA diduga ada, berdasarkan teori atau riset sebelumnya.
3. Terlalu banyak variabel — untuk skripsi S1, cukup 3-5 IV, 1 DV, 1 mediator/moderator. Jangan serakah!
🛠️ Tools untuk Menggambar Kerangka Teori
🎨 Draw.io
Gratis, mudah, bisa export PNG/PDF.
🎨 Canva
Template siap pakai, visual menarik.
📊 PowerPoint
Pakai fitur SmartArt, sudah familiar.
🎨 Lucidchart
Profesional, ada versi gratis terbatas.
2. Developing Hypothesis (Dugaan yang Bisa Diuji)
🔍 Apa Itu Hipotesis?
Hipotesis adalah pernyataan tentatif tentang hubungan antar variabel yang bisa diuji secara empiris (dengan data).
Detektif datang ke TKP. Dia tidak langsung tahu siapa pelakunya, tapi dia punya dugaan awal:
“Saya duga pelakunya adalah orang yang kenal korban, karena pintu tidak ada tanda-tanda dibobol.”
Dugaan ini kemudian diuji dengan bukti (CCTV, sidik jari, alibi).
Hipotesis dalam riset = dugaan awal detektif.
🎯 Karakteristik Hipotesis yang Baik (Menurut Kerlinger & Lee, 2006)
- 1. Menyatakan Hubungan Antar Variabel — bukan sekadar deskripsi.
- 2. Konsisten dengan Teori — didukung oleh kerangka teori yang sudah dibangun.
- 3. Dapat Diuji (Testable) — bisa dibuktikan benar/salah dengan data.
- 4. Spesifik & Jelas — tidak ambigu, bisa diukur.
- 5. Sederhana (Parsimoni) — tidak perlu rumit jika bisa sederhana.
📊 Jenis-Jenis Hipotesis
A. Berdasarkan Arah Hubungan
| Jenis | Ciri | Contoh |
|---|---|---|
| Directional (Berarah) | Menyatakan ARAH hubungan (positif/negatif) | “Diskon berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.” |
| Non-directional (Tidak Berarah) | Hanya menyatakan ADA hubungan, tidak menyebut arah | “Terdapat pengaruh antara diskon dan keputusan pembelian.” |
✅ Directional: Jika teori/riset sebelumnya sudah jelas arahnya (misal: harga ↑ ➔ permintaan ↓).
✅ Non-directional: Jika belum ada dasar teori yang kuat, atau riset eksploratori.
B. Berdasarkan Bentuk Statistik
| Jenis | Simbol | Arti | Contoh |
|---|---|---|---|
| Null Hypothesis (H₀) | H₀ | TIDAK ADA hubungan/pengaruh | “Diskon TIDAK berpengaruh terhadap keputusan pembelian.” |
| Alternative Hypothesis (H₁/Ha) | H₁ atau Ha | ADA hubungan/pengaruh | “Diskon BERPENGARUH terhadap keputusan pembelian.” |
Dalam hukum, terdakwa dianggap TIDAK BERSALAH sampai terbukti bersalah.
Dalam riset, H₀ (tidak ada hubungan) adalah “terdakwa”. Kita kumpulkan bukti (data) untuk mencoba menolak H₀.
Jika bukti cukup kuat ➔ kita tolak H₀, terima H₁ (ada hubungan).
Jika bukti tidak cukup ➔ kita gagal menolak H₀ (bukan berarti H₀ benar, cuma buktinya kurang).
📝 Cara Merumuskan Hipotesis dari Kerangka Teori
H1: Kualitas konten live berpengaruh positif terhadap trust konsumen Gen Z.
H2: Interaktivitas live berpengaruh positif terhadap trust konsumen Gen Z.
H3: Diskon eksklusif berpengaruh positif terhadap trust konsumen Gen Z.
H4: Trust berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian di TikTok Shop.
H5: Trust memediasi hubungan antara kualitas konten dan keputusan pembelian.
H6: Income level memoderasi hubungan antara diskon eksklusif dan keputusan pembelian, sedemikian sehingga pengaruhnya lebih kuat pada Gen Z dengan income rendah.
🎨 Template Merumuskan Hipotesis
Untuk hubungan langsung (IV ➔ DV):
“[Variabel Independen] berpengaruh [positif/negatif] terhadap [Variabel Dependen] pada [konteks/sampel].”
Untuk hubungan mediasi (IV ➔ Mediator ➔ DV):
“[Mediator] memediasi hubungan antara [IV] dan [DV].”
Untuk hubungan moderasi (Moderator memperkuat/melemahkan):
“[Moderator] memoderasi hubungan antara [IV] dan [DV], sedemikian sehingga hubungan tersebut lebih [kuat/lemah] pada [kondisi moderator].”
Contoh Lengkap:
H1: Kualitas konten live berpengaruh positif terhadap trust konsumen Gen Z di Jakarta.
H2: Trust memediasi hubungan antara kualitas konten dan keputusan pembelian.
H3: Income level memoderasi hubungan antara diskon dan pembelian impulsif, sedemikian sehingga pengaruhnya lebih kuat pada konsumen dengan income rendah.
⚠️ Kesalahan Umum dalam Merumuskan Hipotesis
| ❌ Hipotesis BURUK | Mengapa Buruk? | ✅ Hipotesis BAIK |
|---|---|---|
| “Gen Z suka TikTok Shop.” | Tidak ada hubungan antar variabel, hanya deskripsi. | “Intensitas penggunaan TikTok berpengaruh positif terhadap frekuensi pembelian di TikTok Shop oleh Gen Z.” |
| “Harga berpengaruh terhadap kepuasan.” | Tidak jelas arahnya (positif/negatif). | “Harga berpengaruh negatif terhadap kepuasan pelanggan — semakin tinggi harga, semakin rendah kepuasan.” |
| “Pemasaran digital akan membuat UMKM jaya.” | Tidak terukur, terlalu subjektif (“jaya”). | “Pemasaran digital berpengaruh positif terhadap omzet UMKM kuliner di Bandung.” |
| “Semua faktor memengaruhi semua faktor.” | Terlalu luas, tidak spesifik. | Spesifik: “X1 memengaruhi Y”, “X2 memediasi hubungan X3 dan Y”, dll. |
🔗 Hubungan Kerangka Teori ↔ Hipotesis ↔ Metode
Kerangka teori melahirkan hipotesis ➔ hipotesis menentukan metode yang dipakai
3. Selecting Effective Research Methods
🛠️ Apa Itu Metode Riset?
Metode riset adalah cara sistematis yang Anda gunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data guna menguji hipotesis.
Anda mau menangkap ikan (kebenaran). Ada banyak alat:
🎣 Pancing — tepat untuk ikan tertentu (spesifik, mendalam)
🕸️ Jaring — menangkap banyak ikan sekaligus (luas, generalisasi)
🪤 Perangkap — menangkap ikan dalam kondisi tertentu (eksperimen)
Tidak ada alat yang “paling baik” — yang ada adalah alat yang paling cocok untuk jenis ikan yang mau ditangkap.
Begitu juga metode riset: tidak ada metode terbaik, yang ada adalah metode yang paling cocok dengan pertanyaan riset Anda.
⚖️ Dua Paradigma Besar: Kuantitatif vs Kualitatif
📊 KUANTITATIF
Filosofi: Positivisme — kebenaran objektif, bisa diukur
- Data: Angka
- Alat: Kuesioner, tes, observasi terstruktur
- Sampel: Besar (ratusan-ribuan)
- Analisis: Statistik
- Tujuan: Menguji teori, generalisasi
- Contoh: “Berapa % Gen Z yang beli di TikTok?”
🎨 KUALITATIF
Filosofi: Interpretivisme — kebenaran subjektif, dikonstruksi
- Data: Kata, gambar, makna
- Alat: Wawancara mendalam, FGD, observasi
- Sampel: Kecil (5-30 orang)
- Analisis: Tematik, naratif
- Tujuan: Memahami makna, eksplorasi
- Contoh: “Mengapa Gen Z lebih suka TikTok Shop?”
🔀 Mixed Methods: Kombinasi Terbaik?
Terkadang, satu paradigma saja tidak cukup. Mixed methods menggabungkan kuantitatif dan kualitatif.
| Desain | Urutan | Tujuan | Contoh UMKM |
|---|---|---|---|
| Sequential Explanatory | Kualitatif ➔ Kuantitatif | Eksplorasi dulu, baru uji generalisasi | Wawancara 10 seller ➔ survei 200 seller |
| Sequential Exploratory | Kuantitatif ➔ Kualitatif | Uji dulu, dalami dengan wawancara | Survei 300 pelanggan ➔ wawancara 10 yang tidak puas |
| Convergent Parallel | Kualitatif + Kuantitatif bersamaan | Triangulasi (konfirmasi silang) | Survei + FGD dilakukan paralel, hasil digabung |
📋 Jenis-Jenis Metode Pengumpulan Data
A. Survei / Kuesioner (Paling Umum di Bisnis)
Contoh: Survei 500 pelanggan Shopee tentang kepuasan layanan.
Kelebihan: Cepat, murah, bisa generalisasi.
Kekurangan: Dangkal, bergantung kejujuran responden, bias social desirability.
B. Wawancara Mendalam (In-depth Interview)
Contoh: Wawancara 15 owner UMKM tentang strategi bertahan di masa resesi.
Kelebihan: Kaya insight, fleksibel, bisa gali “mengapa”.
Kekurangan: Lama, mahal, sulit generalisasi, bias pewawancara.
C. Focus Group Discussion (FGD)
Contoh: FGD 8 ibu rumah tangga untuk uji rasa keripik baru.
Kelebihan: Dinamika kelompok memunculkan ide baru.
Kekurangan: Dominasi peserta vokal, butuh moderator ahli.
D. Observasi
Contoh: Observasi perilaku pelanggan di toko retail — berapa lama memilih produk, apa yang dilihat.
Kelebihan: Data aktual, tidak bergantung ingatan.
Kekurangan: Tidak tahu motivasi di balik perilaku, bisa Hawthorne effect (orang berubah perilaku karena diamati).
E. Eksperimen
Contoh: A/B test 2 versi landing page e-commerce — mana yang konversinya lebih tinggi?
Kelebihan: Bisa klaim kausalitas (sebab-akibat).
Kekurangan: Buatan (artificial), sulit di setting dunia nyata.
F. Studi Kasus
Contoh: Studi kasus keberhasilan “Kopi Kenangan” ekspansi 500 outlet.
Kelebihan: Kaya konteks, holistik.
Kekurangan: Sulit generalisasi, subjektif.
G. Analisis Data Sekunder
Contoh: Analisis 10.000 review Shopee untuk identifikasi pola keluhan.
Kelebihan: Murah, cepat, data sudah ada.
Kekurangan: Tidak sesuai persis dengan kebutuhan riset, kualitas tidak terkontrol.
🎯 Kriteria Memilih Metode yang Efektif
Menurut Creswell (2014) dan Bryman & Bell (2015), pemilihan metode harus didasarkan pada:
| No | Kriteria | Pertanyaan Kunci |
|---|---|---|
| 1 | Pertanyaan Riset | Apa yang mau dijawab? “Berapa banyak?” ➔ kuantitatif. “Mengapa?” ➔ kualitatif. |
| 2 | Tujuan Riset | Eksplorasi (kualitatif), deskripsi (kuantitatif), atau penjelasan (eksperimen)? |
| 3 | Hipotesis | Hipotesis spesifik ➔ kuantitatif. Hipotesis terbuka ➔ kualitatif. |
| 4 | Data yang Dibutuhkan | Angka (kuantitatif) atau makna (kualitatif)? |
| 5 | Sumber Data | Siapa respondennya? Di mana? Bisa diakses? |
| 6 | Sumber Daya | Waktu, biaya, keahlian, akses — realistis! |
| 7 | Etika | Apakah metode ini etis untuk populasi yang diteliti? |
📊 Matriks Pemilihan Metode (Template Praktis)
Pertanyaan Riset: _________________________________________
Jenis Pertanyaan: □ “Berapa/Banyak” □ “Mengapa/Bagaimana” □ “Apakah X menyebabkan Y”
Tujuan: □ Eksplorasi □ Deskripsi □ Penjelasan □ Evaluasi
Keputusan Metode:
□ KUANTITATIF — karena: _________________________
□ KUALITATIF — karena: _________________________
□ MIXED METHODS — desain: _________________________
Alat Pengumpulan Data:
□ Survei/Kuesioner □ Wawancara □ FGD
□ Observasi □ Eksperimen □ Studi Kasus
□ Analisis Data Sekunder □ Lainnya: __________
Justifikasi:
Metode ini dipilih karena _________________________________________
_________________________________________
Keterbatasan Metode:
_________________________________________
Cara mitigasi: _________________________________________
🇮🇩 Contoh Pemilihan Metode: UMKM Batik Pekalongan
Pertanyaan Riset:
1. “Berapa % pelanggan yang tahu merek kita?” ➔ KUANTITATIF (survei)
2. “Mengapa pelanggan lebih pilih kompetitor?” ➔ KUALITATIF (wawancara mendalam)
3. “Apakah konten Instagram berpengaruh terhadap pembelian?” ➔ KUANTITATIF (regresi)
Keputusan: Mixed Methods — Sequential Explanatory
– Tahap 1: Survei 200 pelanggan untuk identifikasi masalah utama
– Tahap 2: Wawancara 10 pelanggan untuk gali “mengapa”
Justifikasi: Survei memberi gambaran luas, wawancara memberi kedalaman. Kombinasi keduanya memberikan insight yang utuh.
1. “Pakai metode yang paling gampang” — SALAH! Pakai metode yang paling COCOK.
2. “Harus kuantitatif biar keren” — SALAH! Kualitatif juga ilmiah, tergantung pertanyaan riset.
3. “Sampel besar pasti lebih baik” — TIDAK SELALU! 30 sampel yang representatif lebih baik dari 300 sampel yang bias.
4. “Satu metode untuk semua pertanyaan” — SALAH! Pertanyaan berbeda butuh metode berbeda.
4. Integrasi: Dari Literatur ke Metode (Alur Lengkap)
🌉 Menyatukan Semua Bagian: Alur Lengkap Sesi 03 ➔ 04
Mari kita lihat bagaimana semua yang kita pelajari nyambung dari awal sampai akhir:
📚 Studi Kasus Lengkap: Riset “Kopi Kenangan vs Janji Jiwa”
📖 Tahap 1: Literature Review (dari Sesi 03)
Riset Terdahulu yang Ditemukan:
• Santoso (2023): Brand image berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan coffee shop.
• Lim & Lee (2022): Mobile app experience meningkatkan repeat purchase.
• Data Katadata (2025): 68% Gen Z beli kopi via app minimal 2x/minggu.
• Teori yang relevan: Customer-Based Brand Equity (Keller), Technology Acceptance Model (Davis).
Research Gap: “Belum ada riset yang membandingkan loyalitas pelanggan Kopi Kenangan vs Janji Jiwa dengan mempertimbangkan peran mobile app sebagai mediator.”
🏗️ Tahap 2: Theoretical Framework
• IV1: Brand Image
• IV2: Kualitas Produk
• IV3: Mobile App Experience
• Mediator: Customer Satisfaction
• Moderator: Generasi (Gen Z vs Milenial)
• DV: Customer Loyalty
Teori Pendukung:
• Keller’s Brand Equity Model (untuk brand image ➔ loyalty)
• Expectancy-Confirmation Theory (untuk satisfaction sebagai mediator)
• TAM (untuk mobile app experience)
🎨 Kerangka Teori: Loyalitas Pelanggan Coffee Shop
🎯 Tahap 3: Hipotesis
H2: Kualitas produk berpengaruh positif terhadap customer satisfaction.
H3: Mobile app experience berpengaruh positif terhadap customer satisfaction.
H4: Customer satisfaction berpengaruh positif terhadap customer loyalty.
H5: Customer satisfaction memediasi hubungan antara brand image dan customer loyalty.
H6: Customer satisfaction memediasi hubungan antara mobile app experience dan customer loyalty.
H7: Generasi memoderasi hubungan antara mobile app experience dan customer satisfaction, sedemikian sehingga pengaruhnya lebih kuat pada Gen Z dibanding Milenial.
🛠️ Tahap 4: Pemilihan Metode
1. “Seberapa besar pengaruh brand image terhadap loyalty?” ➔ KUANTITATIF
2. “Apakah satisfaction memediasi?” ➔ KUANTITATIF (analisis mediasi)
3. “Apakah pengaruhnya berbeda antar generasi?” ➔ KUANTITATIF (analisis moderasi)
Keputusan: MURNI KUANTITATIF
Alasan: Semua hipotesis bersifat directional dan bisa diuji dengan angka. Tidak perlu eksplorasi mendalam karena teori sudah kuat.
Detail Metode:
• Desain: Cross-sectional survey
• Populasi: Pelanggan Kopi Kenangan & Janji Jiwa di Jabodetabek
• Sampel: 400 responden (200 per brand), purposive sampling
• Alat: Kuesioner online (Google Form) dengan skala Likert 1-7
• Analisis: SEM-PLS (Structural Equation Modeling) pakai SmartPLS
• Alasan SEM-PLS: Bisa uji mediasi & moderasi sekaligus, cocok untuk sampel 400
🔗 Ringkasan Alur Logis
| Tahap | Output | Hubungan dengan Tahap Berikutnya |
|---|---|---|
| Literature Review | Research gap + teori pendukung | ➡️ Menentukan variabel untuk kerangka teori |
| Theoretical Framework | Diagram hubungan antar variabel | ➡️ Menjadi dasar hipotesis |
| Hypothesis | 7 pernyataan yang bisa diuji | ➡️ Menentukan metode yang cocok |
| Research Methods | Survey 400 responden + SEM-PLS | ➡️ Dilaksanakan di sesi berikutnya |
Dosen penguji yang baik akan menanyakan: “Dari mana hipotesis H5 itu muncul?”
Jawaban yang baik: “H5 didasarkan pada teori Expectancy-Confirmation (Oliver, 1980) yang menyatakan bahwa kepuasan memediasi hubungan antara ekspektasi (brand image) dan loyalitas. Riset Santoso (2023) juga menemukan hubungan serupa di konteks coffee shop.”
Setiap hipotesis harus punya “orang tua” — yaitu teori atau riset terdahulu yang melahirkannya.
⏱️ Rundown Sesi: Lecture & Discussion (150 Menit)
Struktur kelas dengan penekanan pada narasi “jembatan”:
| Waktu | Aktivitas | Fokus |
|---|---|---|
| 00-15′ | Ice Breaking & Narasi Jembatan | Review Sesi 03 (literature review). Tanya: “Sekarang kalian punya banyak jurnal, mau diapakan?” —引出 narasi “jembatan”. |
| 15-45′ | Lecture: Theoretical Framework | 5 jenis variabel. Analogi peta. Demo gambar kerangka teori dengan Draw.io. Contoh UMKM. |
| 45-70′ | Lecture: Hypothesis Development | Jenis-jenis hipotesis. Analogi detektif & pengadilan. Template merumuskan hipotesis. Latihan cepat. |
| 70-80′ | Coffee Break | Istirahat. |
| 80-110′ | Lecture: Research Methods | Kuantitatif vs Kualitatif vs Mixed. 7 jenis metode. Matriks pemilihan. Demo studi kasus. |
| 110-140′ | Workshop Kelompok: “Bangun Jembatanmu!” | Tiap kelompok dapat 1 kasus UMKM. Mereka harus buat: (1) Kerangka teori (gambar diagram) (2) Minimal 3 hipotesis (3) Pilih metode + justifikasi Presentasi 3-4 kelompok (5 menit/kelompok). |
| 140-150′ | Wrap-up & Tugas | Rangkuman alur: Literature ➔ Framework ➔ Hypothesis ➔ Methods. Tugas: Mahasiswa bawa 1 topik riset minatnya. Buat kerangka teori + 3 hipotesis + pilih metode. Dikumpulkan minggu depan. |
Saat workshop, berkeliling dan tanyakan: “Dari mana hipotesis ini muncul? Teori siapa yang jadi dasarnya?”
Ini melatih mahasiswa untuk selalu menghubungkan hipotesis dengan teori — bukan asal tebak!
✅ Checklist: Apakah Riset Anda Sudah Siap?
🎯 Self-Assessment Sebelum Lanjut ke Sesi 05
Sebelum lanjut ke pengumpulan data, pastikan Anda sudah menjawab semua pertanyaan ini:
- Saya sudah membaca minimal 10-15 jurnal relevan (Sesi 03).
- Saya sudah membuat matriks sintesis literatur.
- Saya sudah mengidentifikasi research gap dengan jelas.
- Saya sudah menentukan variabel dependen (outcome) yang mau diteliti.
- Saya sudah menentukan variabel independen (predictor) berdasarkan teori.
- Saya sudah mempertimbangkan variabel mediating/moderating jika perlu.
- Saya sudah menggambar kerangka teori dalam bentuk diagram.
- Setiap hubungan dalam kerangka teori punya justifikasi teori/riset terdahulu.
- Saya sudah merumuskan hipotesis yang spesifik dan bisa diuji.
- Setiap hipotesis konsisten dengan kerangka teori.
- Saya sudah memilih metode riset yang cocok dengan pertanyaan riset.
- Saya sudah mempertimbangkan sumber daya (waktu, biaya, akses).
- Saya sudah memikirkan aspek etika riset.
- Saya bisa menjelaskan “benang merah” dari literatur ➔ framework ➔ hipotesis ➔ metode.
🚨 Red Flags: Tanda-Tanda Riset Anda Belum Siap
| Red Flag | Artinya | Solusi |
|---|---|---|
| “Saya belum baca jurnal, tapi sudah punya hipotesis.” | Hipotesis tanpa dasar teori = asal tebak. | Kembali ke Sesi 03, baca literatur dulu! |
| “Kerangka teori saya punya 15 variabel.” | Terlalu kompleks, tidak bisa diuji. | Spesifikkan! Fokus pada 3-5 IV, 1 DV, maksimal 2 mediator/moderator. |
| “Hipotesis saya: X berpengaruh terhadap Y.” | Tidak jelas arahnya. | Tambahkan “positif” atau “negatif”. |
| “Saya pakai kuesioner karena gampang.” | Metode dipilih karena alasan salah. | Pilih metode berdasarkan pertanyaan riset, bukan kemudahan. |
| “Saya mau wawancara 100 orang.” | Salah paham tentang kualitatif. | Kualitatif: 5-30 orang (kedalaman). Kuantitatif: 100+ (keluasan). |
| “Saya tidak bisa jelaskan kenapa pilih metode ini.” | Tidak ada justifikasi metodologis. | Pakai matriks pemilihan metode, tulis justifikasi eksplisit. |
Anda sudah membangun jembatan dari literatur ke rencana aksi. Sekarang Anda punya cetak biru yang jelas. Di sesi-sesi berikutnya, Anda akan membangun rumah — mengumpulkan data, menganalisis, dan menyimpulkan.
Ingat: Riset yang baik bukan yang paling canggih metodenya, tapi yang paling KOHEREN — dari literatur, ke teori, ke hipotesis, ke metode, semuanya nyambung!