RISET BISNIS – SESI 12

Riset Bisnis Sesi 12 – Statistik Deskriptif & Non-Parametrik | AurinoWorks
Hero Riset Bisnis Sesi 12 - Processing Quantitative Data Statistik Deskriptif dan Non-Parametrik

📊 Riset Bisnis Sesi 12

Processing Quantitative Data (1)

Statistik Deskriptif & Teknik Non-Parametrik

⏱️ 150 Menit 🛠️ Workshop 💬 Diskusi

📘 Learning Guide: Sesi ini membahas statistik deskriptif sebagai fondasi analisis data, dilanjutkan dengan teknik non-parametrik — alat yang tepat ketika data tidak memenuhi asumsi distribusi normal (yang umum terjadi di riset bisnis Indonesia).

🎯 Capaian Pembelajaran

  • Descriptive Statistics: Menghitung dan menginterpretasikan ukuran pemusatan, penyebaran, dan distribusi data
  • Non-Parametric Techniques: Memilih dan menerapkan uji statistik non-parametrik sesuai karakteristik data
  • Software Mastery: Menyiapkan dan menjalankan analisis di SPSS/R/Python dengan benar
  • Menyajikan hasil analisis dalam format komunikatif untuk pengambilan keputusan bisnis
1️⃣ Statistik Deskriptif: Fondasi Analisis

Statistik deskriptif adalah langkah pertama dan wajib dalam mengolah data kuantitatif. Tujuannya: merangkum, mengorganisir, dan menyajikan data sehingga pola dan karakteristik utama dapat dipahami dengan mudah.

📊 Ukuran Pemusatan Data

UkuranRumusKapan DigunakanContoh Indonesia
MeanΣx / nData interval/rasio, distribusi simetris, tidak ada outlierRata-rata omzet 100 UMKM kuliner Bandung: Rp 45 juta
MedianNilai tengah data terurutData ordinal, atau distribusi miring/ada outlierMedian penghasilan ojol Jakarta: Rp 4,2 juta (lebih representatif dari mean)
ModusNilai paling sering munculData nominal/kategorikalModus metode pembayaran e-commerce: Transfer Bank (45%)

📐 Ukuran Penyebaran Data

📏 Range

Selisih max − min. Sederhana tapi sensitif outlier. Contoh: Range umur responden 18–65 tahun = 47 tahun.

📊 Standar Deviasi

Penyimpangan rata-rata dari mean. SD kecil = homogen. Contoh: SD kepuasan Tokopedia = 0,8 → respons konsisten.

📦 IQR

Q3 − Q1. Robust terhadap outlier. Contoh: IQR omzet startup fintech: Rp 200 jt – Rp 1,2 M.

📉 Koefisien Variasi

(SD/Mean) × 100%. Bandingkan variabel beda satuan. Contoh: CV harga kopi 5 kota = 15%.

🇮🇩Studi Kasus: Survei Literasi Digital Kominfo
Data: 2.500 responden 34 provinsi, skor literasi digital 0–100.
• Mean = 68,4 (SD = 14,2) → cukup, variasi moderat
• Median = 70 → distribusi sedikit miring kiri
• Boxplot: outlier di skor <30 (akses terbatas)
• Cross-tab: Jakarta (78,1) vs Papua (52,3) → gap geografis signifikan
Insight: Program literasi digital perlu diprioritaskan di Indonesia Timur dengan pendekatan kontekstual.
💡 Pro Tip: Selalu mulai dengan statistik deskriptif + visualisasi (histogram, boxplot, bar chart, scatter plot). Ini membantu: (1) memahami karakteristik data, (2) deteksi masalah (missing, outlier, skewness), (3) memilih uji inferensial yang tepat. Jangan langsung loncat ke uji hipotesis!
2️⃣ Mengapa Non-Parametrik?

Statistik non-parametrik tidak memerlukan asumsi distribusi normal pada data populasi. Sangat berguna ketika data tidak memenuhi syarat uji parametrik.

🌳 Pohon Keputusan Pemilihan Uji
1. Jenis Data?
• Nominal/Ordinal → Non-parametrik
• Interval/Rasio → lanjut ke Q2
2. Distribusi Normal? (uji Shapiro-Wilk / Kolmogorov-Smirnov)
• Ya (p > 0.05) → Parametrik
• Tidak → Non-parametrik
3. Ukuran Sampel?
• Kecil (n < 30) → Non-parametrik lebih aman
• Besar (n ≥ 30) → Parametrik bisa dipertimbangkan (CLT)
4. Ada Outlier Ekstrem?
• Ya → Non-parametrik lebih robust
• Tidak → lanjut
5. Tujuan Analisis?
• 2 kelompok independen → Mann-Whitney / Chi-Square
• 2 kelompok berpasangan → Wilcoxon
• >2 kelompok → Kruskal-Wallis
• Korelasi → Spearman

🆚 Parametrik vs Non-Parametrik

AspekParametrikNon-Parametrik
Asumsi DistribusiNormalTidak memerlukan
Jenis DataInterval/RasioNominal, Ordinal, atau I/R tidak normal
SampelPowerful jika besarCocok untuk kecil (<30)
RobustnessSensitif outlierLebih robust
PowerLebih tinggi jika asumsi terpenuhiSedikit lebih rendah, tapi lebih aman
Contoh Ujit-test, ANOVA, PearsonMann-Whitney, Kruskal-Wallis, Spearman, Chi-Square
🇮🇩Contoh Nyata: Kampanye TikTok Shop & Minat Beli Gen Z
Data: Skala Likert 1–5 (ordinal), 85 responden.
Uji normalitas Shapiro-Wilk: p = 0.02 < 0.05 → data tidak normal.
Solusi: Mann-Whitney (bandingkan terpapar vs tidak).
Hasil: U = 612, p = 0.03 → perbedaan signifikan. Kampanye efektif.
⚠️ Common Mistake: Jangan memaksakan uji parametrik hanya karena “lebih populer” atau “output-nya lebih keren”. Jika asumsi tidak terpenuhi, hasil bisa menyesatkan. Lebih baik non-parametrik yang tepat daripada parametrik yang salah.
3️⃣ Lima Teknik Non-Parametrik Utama
Data Nominal
📊 Uji Chi-Square (χ²) — Independensi

Kegunaan: Menguji hubungan dua variabel kategorikal (nominal).

🇮🇩Contoh: Hubungan jenis kelamin dengan preferensi e-wallet (GoPay/OVO/DANA/Lainnya)?
Data: 300 responden cross-tab.
🛠️ SPSS:
  1. Analyze → Descriptive Statistics → Crosstabs
  2. Masukkan variabel baris & kolom
  3. Statistics → centang “Chi-square”
  4. Cells → centang “Observed” & “Expected”
  5. OK → Lihat χ² dan p-value

Interpretasi: p < 0.05 → tolak H₀ → ada hubungan signifikan.

2 Kelompok Independen
🔄 Uji Mann-Whitney U

Kegunaan: Bandingkan median 2 kelompok independen (ordinal / interval tidak normal).
Alternatif: Independent Samples t-test

🇮🇩Contoh: Perbedaan kepuasan (skala 1–5) pelanggan GoFood vs GrabFood? Data 120 responden, distribusi tidak normal.
🛠️ SPSS:
  1. Analyze → Nonparametric Tests → Legacy Dialogs → 2 Independent Samples
  2. Test Variable: kepuasan | Grouping: platform
  3. Define Groups: 1=GoFood, 2=GrabFood
  4. Pastikan “Mann-Whitney U” tercentang → OK

Interpretasi: p < 0.05 → perbedaan median signifikan.

2 Kelompok Berpasangan
🔁 Uji Wilcoxon Signed-Rank

Kegunaan: Bandingkan median 2 pengukuran subjek sama (pre-post / matched).
Alternatif: Paired Samples t-test

🇮🇩Contoh: Perubahan pengetahuan keuangan peserta pelatihan fintech (pre vs post)? Skor 0–100, 45 peserta, selisih tidak normal.
🛠️ SPSS:
  1. Analyze → Nonparametric Tests → Legacy Dialogs → 2 Related Samples
  2. Masukkan pasangan pre_test & post_test
  3. Test Type: centang “Wilcoxon” → OK

Interpretasi: p < 0.05 → perubahan signifikan.

>2 Kelompok Independen
📊 Uji Kruskal-Wallis H

Kegunaan: Bandingkan median 3+ kelompok independen.
Alternatif: One-Way ANOVA

🇮🇩Contoh: Perbedaan produktivitas (skala 1–10) karyawan WFO vs WFH vs Hybrid? 180 karyawan, data tidak normal.
🛠️ SPSS:
  1. Analyze → Nonparametric Tests → Legacy Dialogs → K Independent Samples
  2. Test: produktivitas | Grouping: mode kerja
  3. Define Range: min=1, max=3
  4. Centang “Kruskal-Wallis H” → OK
  5. Jika signifikan, lanjut Post-Hoc (Mann-Whitney + Bonferroni)
Korelasi
🔗 Korelasi Spearman (ρ)

Kegunaan: Mengukur hubungan monotonik dua variabel ordinal / interval tidak normal.
Alternatif: Pearson

🇮🇩Contoh: Hubungan frekuensi penggunaan aplikasi investasi (skala 1–5) dengan kepercayaan terhadap platform fintech (skala 1–5)? 200 pengguna.
🛠️ SPSS:
  1. Analyze → Correlate → Bivariate
  2. Masukkan kedua variabel
  3. Non-aktifkan “Pearson”, aktifkan “Spearman” → OK

Interpretasi ρ: +1 positif sempurna, -1 negatif sempurna, 0 tidak ada korelasi.
|ρ| > 0.7 kuat • 0.4–0.7 moderat • <0.4 lemah
p < 0.05 → korelasi signifikan.

✨ Golden Rule Pelaporan: Selalu laporkan: (1) nama uji, (2) nilai statistik (U, χ², H, Z, ρ), (3) derajat kebebasan (jika ada), (4) p-value, (5) interpretasi praktis bisnis.
Contoh: “Mann-Whitney: perbedaan signifikan kepuasan GoPay vs OVO (U=1,245, p=0.02), median GoPay (4) > OVO (3). Rekomendasi: OVO perlu tingkatkan customer service.”
4️⃣ Workshop Aktivitas (150 Menit)

Workshop learning-by-doing dengan studi kasus riil Indonesia.

📅 Runtutan Aktivitas

0-25′
🎬 Briefing & Review

Review statistik deskriptif + pohon keputusan. Studi kasus: “Faktor Adopsi QRIS di UMKM Indonesia”. Pembagian kelompok & dataset.

25-55′
📊 Praktik Deskriptif

Mean, median, SD, histogram, boxplot untuk variabel kunci (omzet, frekuensi transaksi, skor adopsi). Diskusi insight.

55-105′
🧪 Hands-on Non-Parametrik

Pilih 2–3 pertanyaan riset + uji yang tepat:
Chi-Square: jenis usaha × tingkat adopsi QRIS
Mann-Whitney: adopsi UMKM kota vs desa
Spearman: frekuensi transaksi digital × skor adopsi

105-135′
💬 Presentasi & Peer Review

Setiap kelompok mempresentasikan: uji yang dipilih, output software, interpretasi, implikasi bisnis. Feedback fokus pada ketepatan uji & relevansi rekomendasi.

135-150′
🎯 Wrap-up & Action Plan

Refleksi + penyusunan Cheat Sheet Personal pemilihan uji non-parametrik untuk proyek riset masing-masing.

🇮🇩Studi Kasus: Analisis Adopsi QRIS (Bank Indonesia)
Latar Belakang: Target 12 juta UMKM adopsi QRIS.
Tugas:
• Statistik deskriptif profil responden & variabel kunci
• 2 uji non-parametrik relevan
• 2–3 rekomendasi kebijakan actionable
• Slide presentasi maksimal 5 menit
Outcome: Peserta menghubungkan teori statistik dengan aplikasi kebijakan riil + mengkomunikasikan hasil ke stakeholder non-teknis.
🧠 Kuis Interaktif: Uji Pemahaman Sesi 12
Skor: 0 / 6 • Dijawab: 0 / 6

1. Data ordinal dari skala Likert dengan distribusi tidak normal — uji yang tepat adalah…

✅ Likert = ordinal, tidak normal → non-parametrik lebih tepat.

2. Untuk menguji hubungan antara jenis kelamin (nominal) dengan preferensi e-wallet (nominal), gunakan…

✅ Chi-Square untuk dua variabel kategorikal (nominal × nominal).

3. Membandingkan skor pre-test dan post-test pada 45 peserta yang sama, dengan selisih tidak normal — gunakan…

✅ 2 pengukuran berpasangan + tidak normal → Wilcoxon.

4. Membandingkan produktivitas 3 kelompok (WFO / WFH / Hybrid) dengan data tidak normal — gunakan…

✅ 3+ kelompok independen + tidak normal → Kruskal-Wallis.

5. Koefisien korelasi Spearman (ρ) = 0.65 menunjukkan hubungan…

✅ |ρ| 0.4–0.7 = moderat; mendekati 0.7 = kuat. Positif karena tanda +.

6. Mengapa statistik deskriptif harus dilakukan sebelum uji hipotesis?

✅ Deteksi outlier, skewness, missing data — menentukan uji hipotesis yang valid.

💭 Reflective Questions

Bagaimana jika hasil uji non-parametrik tidak signifikan, tapi saya yakin ada perbedaan?
Lakukan diagnostik: (1) cek power statistik via G*Power, (2) periksa effect size (r, ε²) — meski p > 0.05, effect besar tetap bermakna praktis, (3) evaluasi kualitas data (missing/outlier), (4) pertimbangkan pendekatan kualitatif untuk melengkapi insight. Dalam bisnis, keputusan tidak hanya berdasarkan signifikansi statistik.
SPSS vs R vs Python — mana yang paling cocok untuk riset bisnis Indonesia?
SPSS: GUI intuitif, banyak dipakai kampus Indonesia, cocok untuk pemula.
R: Gratis, paket statistik terlengkap, reproducible — cocok untuk akademik & publikasi.
Python: Integrasi AI/ML, fleksibel end-to-end — cocok untuk startup tech.
Rekomendasi: Mulai SPSS untuk konsep, migrasi ke R/Python untuk efisiensi. Banyak kampus menyediakan SPSS gratis untuk mahasiswa.
Bagaimana menyajikan hasil non-parametrik ke stakeholder non-teknis?
Struktur 5 langkah: (1) Konteks (“Survei 300 UMKM Jabar…”) → (2) Metode singkat (“Mann-Whitney karena data tidak normal”) → (3) Hasil kunci (median kota=4 vs desa=3, p=0.01) → (4) Interpretasi praktis(5) Rekomendasi actionable. Gunakan boxplot + anotasi p-value, hindari output software mentah.

📚 Referensi Utama

Sekaran, U., & Bougie, R. Research Methods for Business. Wiley.

Field, A. Discovering Statistics Using IBM SPSS Statistics (5th ed.). Sage.

Navarro, D. Learning Statistics with R — open access, Bab 14-16.

BPS RI. Panduan Metodologi Statistik — bps.go.id.

📂 Riset Bisnis Learning Path | Sesi 12: Statistik Deskriptif & Non-Parametrik

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

🎧 Audio Reader + Karaoke
Gaya BicaraNormal
SuaraMemuat…
Kecepatan1.0x
⏳ Memuat script…