📘 SESI 1: Gambaran Umum & Akar Sistem Design Thinking
Kompetensi Akhir: Mahasiswa memahami bahwa Design Thinking bukan sekadar “tempel post-it”, melainkan turunan dari Systems Approach untuk memecahkan masalah kompleks (wicked problems), dan mampu melihat pola berpikir ini dalam kasus nyata Indonesia.
Apa Itu Design Thinking Sebenarnya?
Design Thinking (DT) sering disalahpahami sebagai “metode desain produk”. Padahal, secara epistemologis, DT adalah cara merancang sistem buatan (artificial systems) yang berpusat pada manusia untuk menyelesaikan masalah yang tidak memiliki solusi tunggal.
Sumber: 5 Tahap Design Thinking – Interaction Design Foundation – Lihat Selengkapnya
📜 Akar Sejarah: Herbert Simon & Systems Approach
Sumber: Evolusi Design Thinking – Stanford d.school & IBM Enterprise Design Thinking
DT adalah pintu masuk ke sistem yang kompleks. Alih-alih menganalisis seluruh sistem sekaligus (yang bisa melumpuhkan), DT memulai dari satu titik leverage tertinggi: Empati terhadap manusia di dalam sistem tersebut.
🇮🇩 Studi Kasus: Gojek — Call Center Dulu, Aplikasi Kemudian
- Supply: Tukang ojek pangkalan menganggur berjam-jam, pendapatan tidak menentu.
- Demand: Penumpang sulit dapat ojek, harga tidak transparan, sering ditawar tinggi.
🎥 Tonton: Gojek Case – Create at Scale (YouTube)
Pelajaran: DT + Systems Thinking = mulai dari solusi paling sederhana untuk memvalidasi masalah, baru scale-up dengan teknologi.
Aktivitas: “The Redesign Challenge” (Versi LEAN)
- Berpasangan dengan teman sekelas (atau breakout room jika online).
- 3 Menit: Mahasiswa A mewawancarai Mahasiswa B: “Ceritakan pengalamanmu mengisi KRS/mendaftar kelas. Apa yang paling membuatmu frustrasi?”
- Aturan Emas: Jangan catat solusi! Catat hanya emosi dan frustrasi (misal: “Saya cemas kelas penuh”, “Saya bingung pilih dosen”).
- 3 Menit: Ganti peran.
- 5 Menit: Setiap pasangan menuliskan 1 insight terbesar di sticky note Miro kelas.
Pertanyaan Refleksi (Diskusi Kelas)
- Apa yang paling mengejutkan dari cerita pasanganmu? Apakah asumsimu sebelumnya salah?
- Lensa Systems Thinking: Jika kita langsung membuat “aplikasi KRS yang lebih cepat” (solusi dangkal), apakah itu memperbaiki masalah? Atau justru menggeser masalah ke tempat lain (misal: server down, dosen kehilangan otonomi, mahasiswa panik)?
- Mengapa memulai dari Empati lebih aman dan lebih murah daripada langsung membangun produk/teknologi?
“AI adalah mesinnya, Systems Thinking adalah kemudinya, Design Thinking adalah peta perjalanannya.” Di sesi ini, Anda baru saja memegang petanya. AI bisa membantu transkrip, tapi hanya Anda yang bisa merasakan emosi pasangan Anda.
📚 Untuk Pendalaman: Evolusi HCD Metodologi
Ingin memahami lebih dalam tentang perbedaan Stanford d.school vs IBM Enterprise Design Thinking?
Output Sesi Ini:
- ✅ Setiap mahasiswa menuliskan 1 insight terbesar di sticky note Miro kelas (kumpulkan sebelum kelas berakhir).
- ✅ Menyepakati komitmen kelas: sepanjang semester, tidak ada ide yang langsung dihakimi (“That’s a bad idea”), melainkan diuji (“How might we test that?”).
Persiapan Sesi 2 (Pre-class):
- 🎧 Wajib: Simak Podcast IDEO — David Kelley tentang “Creative Confidence” (15 menit).
Dengarkan di Spotify: IDEO Big Questions - 🎬 Rekomendasi: Tonton 1 episode “Inside Bill’s Brain” (Netflix) untuk melihat bagaimana Bill Gates menggunakan DT + Systems Thinking untuk masalah sanitasi global.
- 📝 Prompt AI untuk Sesi 2:
📚 Referensi Sesi 1
- Buku: Simon, H.A. (1969). The Sciences of the Artificial. MIT Press.
- Artikel: Brown, T. (2008). “Design Thinking”. Harvard Business Review.
- Website: Interaction Design Foundation – Design Thinking
- Website: IDEO.org
- Podcast: IDEO — Big Questions (Spotify)
- Film: Inside Bill’s Brain (Netflix Documentary, 3 episodes)
- Video: Gojek Case — “Create at Scale” (YouTube)
- Video: Gojek Cerdikiawan (YouTube)
- Diktat: Introduction to Human-centered Design Thinking (IHDT) — IDEO
— Intisari Sesi 1