Sesi 12 BDM

Inventory Control Models | Business Decision Modeling

Inventory Control Models (Model Pengendalian Persediaan)

Business Decision Modeling (BDM) | Referensi: Chapter 11/12 – Balakrishnan et al.

📦 Pengantar Inventory Control

Mengelola persediaan (inventory) adalah salah satu keputusan operasional paling kritis dalam bisnis. Persediaan yang terlalu banyak akan mengikat modal dan meningkatkan biaya penyimpanan, sementara persediaan yang terlalu sedikit akan menyebabkan kehabisan stok (stockout) dan kehilangan pelanggan. Inventory Control Models membantu manajer menemukan keseimbangan optimal: Kapan harus memesan? dan Berapa banyak yang harus dipesan?

Video Kuliah: Inventory Control Models — Business Decision Modeling

📦 1. Konsep Dasar: Mengapa Inventory Control itu Penting?

💡 Analogi Sederhana: Mengelola Air di Bak Mandi

Bayangkan persediaan barang seperti air di dalam bak mandi.

  • Air yang masuk (keran): Barang yang dipesan dan datang dari supplier.
  • Air yang keluar (pembuangan): Barang yang terjual atau digunakan oleh pelanggan.
Jika bak mandi sampai kosong, Anda tidak bisa mandi (stockout = kehilangan penjualan). Jika bak mandi meluap, air terbuang percuma dan lantai becek (overstock = biaya simpan membengkak, barang bisa kedaluwarsa).

Tujuan Inventory Control adalah menjaga level air di bak mandi tetap di titik yang paling optimal dan hemat biaya!

Tiga Pertanyaan Utama dalam Inventory Control

  1. What to order? (Barang apa yang perlu dipesan? — Lihat Analisis ABC)
  2. How much to order? (Berapa banyak? — Dijawab oleh model EOQ)
  3. When to order? (Kapan harus pesan? — Dijawab oleh model Reorder Point / ROP)

💰 Komponen Biaya dalam Persediaan

Jenis BiayaSimbolPenjelasan
Holding / Carrying CostHBiaya untuk menyimpan barang (sewa gudang, asuransi, risiko rusak, modal yang menganggur). Dihitung per unit per tahun.
Ordering / Setup CostSBiaya untuk melakukan pemesanan (biaya administrasi, pengiriman, atau biaya setup mesin jika memproduksi sendiri). Dihitung per kali pesan.
Stockout / Shortage CostCSKerugian karena barang habis (kehilangan margin, denda keterlambatan, hilangnya kepercayaan pelanggan).
Purchase CostCHarga beli barang per unit dari supplier.

🇮🇩 Contoh Indonesia: Toko Bangunan “Maju Jaya”

Toko “Maju Jaya” menjual semen. Jika mereka memesan semen terlalu sering (misal: setiap hari), mereka akan rugi di Ordering Cost (biaya ojek/angkot dari gudang besar ke toko). Tapi jika mereka memesan sangat banyak sekaligus (misal: 10.000 sak), mereka akan rugi di Holding Cost (gudang penuh, semen bisa mengeras jika terkena lembap, modal tertanam ratusan juta).

Solusi: Menggunakan model matematika untuk mencari titik tengah di mana total biaya (Holding + Ordering) paling minimum.

📐 2. Basic EOQ Model (Economic Order Quantity)

💡 Analogi Sederhana: EOQ Seperti “Menarik Uang di ATM”

Setiap kali Anda menarik uang di ATM, mungkin ada biaya admin (jika beda bank) atau biaya waktu/transportasi. Ini seperti Ordering Cost.
Di sisi lain, jika Anda menarik uang Rp 10 juta sekaligus, Anda harus menyimpannya di rumah. Risikonya hilang/dicuri, dan uang itu tidak bisa diendapkan di bank (bunga hilang). Ini seperti Holding Cost.
EOQ adalah jumlah uang paling optimal yang harus Anda tarik setiap kali ke ATM untuk meminimalkan total biaya admin + risiko simpan uang tunai!

Formula EOQ (Model Dasar)

Model EOQ mencari jumlah pesanan (Q) yang meminimalkan total biaya persediaan tahunan. Asumsi dasarnya adalah permintaan bersifat konstan dan pasti.

Q* = √ (2DS / H)

Keterangan:

  • Q* = Jumlah pesanan yang optimal (Economic Order Quantity)
  • D = Total permintaan tahunan (Demand per year)
  • S = Biaya per kali pesan (Ordering/Setup cost per order)
  • H = Biaya simpan per unit per tahun (Holding cost per unit per year)

Total Biaya Persediaan (Total Cost)

TC = (D/Q)S + (Q/2)H

Catatan: Pada titik EOQ, Annual Ordering Cost akan SAMA BESAR dengan Annual Holding Cost.

🎓 Tips untuk Pemula

Jebakan Umum: Pastikan satuan waktu untuk D dan H sudah sama! Jika permintaan (D) dalam satuan per bulan, maka biaya simpan (H) juga harus disesuaikan menjadi per bulan. Jangan mencampuradukkan satuan bulan dan tahun!

🇮🇩 Contoh Indonesia: Distributor Beras Premium

Sebuah distributor beras di Jakarta menjual 10.000 karung beras per tahun (D = 10.000). Setiap kali pesan ke penggilingan di Karawang, biaya transportasi dan admin adalah Rp 500.000 (S = 500.000). Biaya simpan di gudang (sewa, asuransi, risiko kutu) adalah Rp 20.000 per karung per tahun (H = 20.000).

Hitung EOQ:

Q* = √ (2 × 10.000 × 500.000 / 20.000)

Q* = √ (10.000.000.000 / 20.000) = √ 500.000 = 707 karung

Keputusan: Distributor sebaiknya memesan sebanyak 707 karung setiap kali memesan untuk menekan biaya total seminimal mungkin.

⏱️ 3. Reorder Point (ROP): Kapan Harus Memesan?

💡 Analogi Sederhana: ROP Seperti “Lampu Bensin Mobil”

Jarum bensin mobil Anda menunjukkan sisa 1/4 tangki. Anda tahu SPBU terdekat butuh waktu 15 menit untuk dicapai. Anda tidak akan menunggu sampai tangki benar-benar kosong (0) baru mencari SPBU, bukan? Anda mulai mencari SPBU saat bensin mencapai titik tertentu.

Titik tersebut adalah Reorder Point (ROP)! Yaitu level stok di mana Anda harus segera melakukan pemesanan ulang sebelum barang kehabisan sambil menunggu barang pesanan datang.

Formula Reorder Point (ROP)

ROP = d × L

Keterangan:

  • ROP = Titik pemesanan ulang (dalam unit)
  • d = Permintaan harian rata-rata (Daily demand)
  • L = Lead time (Waktu tunggu dari pesan sampai barang datang, dalam hari)

🇮🇩 Contoh Indonesia: Apotek K-24 Stok Obat Paracetamol

Apotek K-24 menjual rata-rata 50 kotak Paracetamol per hari (d = 50). Supplier obat membutuhkan waktu 4 hari untuk mengantar barang dari gudang pusat ke apotek (L = 4).

Hitung ROP:

ROP = 50 × 4 = 200 kotak

Keputusan: Manajer apotek harus segera melakukan pemesanan ke gudang pusat setiap kali stok Paracetamol di rak menyentuh angka 200 kotak. Jika menunggu sampai stok 0, apotek akan kehabisan stok selama 4 hari!

🛡️ 4. Safety Stock & Probabilistic Models

💡 Analogi Sederhana: Safety Stock Seperti “Ban Serep”

Anda membawa ban serep saat perjalanan jauh bukan karena Anda berencana menusuk ban, tapi untuk berjaga-jaga (just in case) jika terjadi hal tak terduga (ban bocor, jalan berlubang).

Safety Stock (Stok Pengaman) adalah persediaan tambahan yang disimpan untuk mengantisipasi ketidakpastian: tiba-tiba permintaan melonjak, atau supplier terlambat mengirim barang.

ROP dengan Safety Stock

ROP = (d × L) + Safety Stock

Menentukan Jumlah Safety Stock

Keputusan jumlah safety stock bergantung pada Service Level (tingkat pelayanan) yang diinginkan dan variabilitas permintaan/lead time.

Safety Stock = Z × σdLT
  • Z = Nilai Z dari tabel distribusi normal (misal: 95% service level → Z = 1.65; 99% → Z = 2.33)
  • σdLT = Standar deviasi dari permintaan selama lead time

🇮🇩 Contoh Indonesia: Sparepart Motor di AHASS

Bengkel AHASS menjual rata-rata 10 buah kampas rem per hari. Lead time pemesanan dari pabrik adalah 5 hari. Namun, permintaan harian berfluktuasi dengan standar deviasi 2 unit. Bengkel ingin memberikan service level 95% (Z = 1.65) agar pelanggan tidak kecewa.

Hitung Safety Stock:

σdLT = σharian × √L = 2 × √5 = 2 × 2.23 = 4.46

Safety Stock = 1.65 × 4.46 = 7.36 ≈ 8 unit

Hitung ROP:

ROP = (10 × 5) + 8 = 50 + 8 = 58 unit

Keputusan: Bengkel harus memesan ulang saat stok kampas rem menyentuh 58 unit, dan mereka selalu menyimpan 8 unit sebagai stok pengaman.

🏭 5. Production Order Quantity (POQ) Model

💡 Analogi Sederhana: POQ Seperti “Memasak Nasi di Rice Cooker”

Pada model EOQ dasar, kita berasumsi semua barang yang dipesan datang sekaligus dalam satu hari (seperti membeli nasi bungkus).

Tapi bagaimana jika Anda memproduksi barang tersebut? (Misal: pabrik roti). Roti tidak langsung jadi 1000 buah dalam sedetik, tapi diproduksi bertahap (misal: 100 roti per jam). Selama roti diproduksi, ada beberapa roti yang sudah jadi dan langsung dijual/dikonsumsi. Inilah model POQ! Stok menumpuk secara bertahap, bukan langsung penuh.

Kapan Menggunakan POQ?

Model POQ digunakan ketika barang diproduksi secara internal (in-house production) dan barang yang sudah jadi langsung digunakan/dijual saat proses produksi masih berlangsung.

Formula POQ

Q* = √ [ 2DS / (H(1 – d/p)) ]
  • p = Tingkat produksi harian (Daily production rate)
  • d = Tingkat permintaan harian (Daily demand rate)
  • Syarat: p harus lebih besar dari d (produksi lebih cepat dari permintaan).

🇮🇩 Contoh Indonesia: Pabrik Sari Roti

Pabrik Sari Roti memproduksi roti tawar. Permintaan harian dari toko-toko adalah 5.000 bungkus (d). Mesin pabrik mampu memproduksi 10.000 bungkus per hari (p). Biaya setup mesin per kali produksi adalah Rp 2.000.000 (S), dan biaya simpan adalah Rp 100 per bungkus per tahun (H).

Dengan POQ, pabrik tidak akan memproduksi 10.000 bungkus lalu menumpuknya di gudang, melainkan memproduksi secara kontinu sambil mendistribusikan 5.000 bungkusnya setiap hari ke toko-toko. Ini menghemat biaya penyimpanan secara signifikan dibandingkan model EOQ biasa.

🏷️ 6. Quantity Discount Models

💡 Analogi Sederhana: Quantity Discount Seperti “Beli Grosir di Pasar”

Di pasar, jika Anda beli 1 kg apel, harganya Rp 30.000. Tapi jika Anda beli 1 dus (5 kg), harganya cuma Rp 20.000/kg. Supplier memberikan diskon untuk mendorong pembeli memesan dalam jumlah besar.

Masalahnya: Jika Anda tergiur diskon dan membeli 1 dus, Holding Cost (biaya simpan) Anda akan naik karena stok menumpuk. Apakah penghematan harga beli sebanding dengan naiknya biaya simpan? Model Quantity Discount membantu menghitungnya!

Langkah-Langkah Menghitung Quantity Discount

  1. Hitung EOQ untuk setiap range harga diskon. (Jika EOQ tidak masuk dalam range, sesuaikan Q ke batas minimal range tersebut).
  2. Hitung Total Cost (TC) untuk setiap Q yang valid.
    Ingat: Untuk Quantity Discount, rumus TC sekarang mencakup biaya beli barang!
    TC = (D/Q)S + (Q/2)H + D × C
    (C = Harga per unit / Purchase cost)
  3. Pilih Q yang menghasilkan Total Cost (TC) paling rendah.

🇮🇩 Contoh Indonesia: UMKM Keripik Singkong Membeli Kemasan

Sebuah UMKM membutuhkan 1.000 pcs plastik kemasan per bulan. Supplier menawarkan harga bertingkat:

  • 0 – 199 pcs: Rp 2.000 / pcs
  • 200 – 499 pcs: Rp 1.800 / pcs (Diskon 10%)
  • 500 pcs ke atas: Rp 1.500 / pcs (Diskon 25%)

Biaya pesan (S) = Rp 50.000. Holding cost (H) = 20% dari harga barang.

UMKM harus menghitung Total Cost untuk Q di range 200 dan Q di range 500. Terkadang, membeli 500 pcs (harga termurah) justru membuat Total Cost lebih mahal karena biaya simpan plastik di gudang UMKM yang sempit menjadi sangat membengkak. Model ini akan memberi tahu apakah sebaiknya ambil diskon atau tidak.

📝 7. TUGAS PRAKTIKUM: Upload File Excel (Modul 12-2 s/d 12-8)

📌 Instruksi Tugas Inventory Control Models

Tugas ini bertujuan agar mahasiswa mampu mengimplementasikan berbagai model pengendalian persediaan menggunakan Excel Module dengan data nyata atau data simulasi yang realistis.

🎯 Target: Menguasai Modul Excel Inventory Control Bab 12 (Modul 12-2 s/d 12-8)

📋 Langkah-Langkah Pengerjaan:

  1. Cari Data / Buat Kasus:
    • Cari data persediaan dari internet (misal: data penjualan UMKM di Kaggle, data BPS, atau laporan tahunan perusahaan).
    • ATAU kumpulkan data sendiri secara offline (wawancara pemilik toko/warung terdekat) atau online.
    • Jika data riil sulit didapatkan, Anda BOLEH membuat data simulasi (asumsi) asalkan logis dan realistis untuk jenis bisnis tertentu.
  2. Praktikkan di Excel Module:
    • Buka file Excel Module Inventory Control (Bab 12) yang telah disediakan.
    • Input data Anda ke dalam seluruh modul dari 12-2 sampai 12-8.
    • Pastikan Anda memahami output yang dihasilkan (EOQ, ROP, Total Cost, dll).
  3. Berikan Analisis Singkat:
    • Tulis 1-2 paragraf kesimpulan di sheet Excel tentang keputusan bisnis apa yang bisa diambil dari hasil output modul tersebut (misal: “Berdasarkan modul 12-6, sebaiknya perusahaan mengambil diskon 15% di Q=500 karena Total Cost lebih rendah…”).
  4. Compress dan Upload:
    • Save file Excel Anda dengan format nama: Kelas_NamaMahasiswa_InventoryControl.zip
    • Compress (ZIP) file Excel beserta file pendukung lainnya (jika ada).
    • Upload file ZIP tersebut ke kolom pengumpulan tugas di bawah ini.

📂 Cakupan Modul yang Dikerjakan:

ModulTopik Model
12-2Basic EOQ Model
12-3Reorder Point (ROP)
12-4Safety Stock & Probabilistic Models
12-5Production Order Quantity (POQ)
12-6Quantity Discount Models
12-7Marginal Analysis / Single Period Model
12-8ABC Analysis / Additional Inventory Models

⏳ Batas Waktu Pengumpulan: Silakan cek tenggat waktu di sistem LMS. Pastikan file sudah ter-upload dalam format .ZIP sebelum deadline!

🎓 Tips Sukses Mengerjakan Tugas

  • Jangan asal copy-paste angka: Dosen akan mengecek apakah angka Demand (D), Ordering Cost (S), dan Holding Cost (H) yang Anda masukkan masuk akal untuk bisnis yang Anda pilih.
  • Perhatikan Satuan: Kesalahan paling umum adalah mencampuradukkan satuan hari, bulan, dan tahun. Samakan semua satuan waktu sebelum menghitung!
  • Gunakan Format Rupiah: Karena ini konteks Indonesia, ubah format mata uang di Excel menjadi Rupiah (Rp) agar laporan terlihat profesional.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *