📺 Video Resources Sesi 07
Capacity Management: Playlist utama + video tambahan untuk Queuing Theory guna pemahaman yang komprehensif.
Capacity Planning Fundamentals
Tonton playlist ini untuk memahami dasar-dasar capacity planning: pengukuran kapasitas, break-even analysis, dan decision trees.
Teori Antrian (Queuing Theory)
Wajib ditonton setelah playlist! Video ini melengkapi materi yang tidak ada di playlist utama. Queuing theory penting untuk mengelola trade-off antara biaya layanan dan biaya menunggu.
- Waiting line models dan karakteristik antrian
- Trade-off: Cost of service vs Cost of waiting
- Single-server dan multi-server systems
- Applications di service operations (bank, restoran, call center)
🎓 Urutan Menonton yang Direkomendasikan
S07.1 → S07.2 → S07.3 → S07.4
Waiting line analysis
Capacity strategies & workshop
💡 Tips: Video S07.4 dalam playlist sangat singkat (1:24). Untuk pemahaman mendalam tentang Lead, Lag, dan Match capacity strategies, silakan baca materi tertulis dengan teliti.
⚙️ OSCM – SESI 07
Capacity Management
Operations & Supply Chain Management
🎯 Tujuan Pembelajaran
- Membedakan design capacity, effective capacity, dan actual output
- Menghitung utilization dan efficiency sebagai metrik kinerja kapasitas
- Menganalisis tiga strategi capacity: lead, lag, dan match
- Menerapkan break-even analysis untuk keputusan kapasitas
- Mengevaluasi keputusan kapasitas dalam kondisi ketidakpastian (decision theory)
- Menerapkan waiting line analysis (queuing theory) untuk mengelola antrian
- Memahami konsep capacity cushion dan economies/diseconomies of scale
- WORKSHOP Melanjutkan fase Define (Round 02) — finalisasi problem statement
🎥 Video Kuliah: Capacity Management
- Fokus: Capacity concepts, capacity strategies, break-even analysis, queuing theory, decision theory
- Poin Kunci: Trade-off antara under-capacity (lost sales) dan over-capacity (idle cost); pentingnya capacity cushion
- Siapkan kalkulator: untuk mengikuti contoh perhitungan break-even dan queuing
- Catatan: Playlist berisi beberapa video — pilih yang relevan dengan topik capacity management
1. Fondasi Capacity Management: Mengukur Kemampuan Operasi
Apa itu Capacity?
Capacity adalah kapasitas maksimum suatu sistem operasi untuk menghasilkan output dalam periode waktu tertentu. Ini adalah batasan fundamental yang menentukan seberapa banyak value yang bisa diciptakan oleh sebuah operasi.
- Too little capacity: Kehilangan pelanggan, sales turun, competitor ambil market share
- Too much capacity: Biaya tetap tinggi, equipment menganggur, profit turun
- Just right capacity: Optimal cost, customer satisfied, profit maximized
Tiga Ukuran Kapasitas
Tiga Level Kapasitas
| Ukuran | Definisi | Formula | Contoh |
|---|---|---|---|
| Design Capacity | Output maksimum teoritis dalam kondisi ideal (tanpa henti, tanpa gangguan) | Maximum output per time period | Pabrik didesain untuk 100 unit/jam (24 jam nonstop) |
| Effective Capacity | Output maksimum yang realistis setelah dikurangi allowance (maintenance, break, setup, delay) | Design Capacity − Allowances | Setelah maintenance, break, setup = 75 unit/jam |
| Actual Output | Output yang benar-benar diproduksi (dipengaruhi demand, masalah, dll) | What is actually produced | Karena demand hanya 60 unit/jam, actual = 60 |
Dua Metrik Kinerja Kapasitas
Kasus: Pabrik roti
• Design capacity: 200 roti/hari (24 jam)
• Effective capacity: 150 roti/hari (ada maintenance, break, setup)
• Actual output: 120 roti/hari
Utilization: 120 / 200 = 60%
Efficiency: 120 / 150 = 80%
Interpretasi:
• Utilization 60% → masih ada kapasitas menganggur 40% (opportunity untuk marketing atau diversifikasi)
• Efficiency 80% → kinerja operasional baik, hanya 20% loss karena faktor yang bisa dikontrol
Hubungan Utilization dan Efficiency
| Situasi | Utilization | Efficiency | Interpretasi | Action |
|---|---|---|---|---|
| Ideal | Tinggi (>80%) | Tinggi (>90%) | Kapasitas terpakai baik, operasi efisien | Maintain, pertimbangkan ekspansi |
| Underutilized | Rendah (<60%) | Tinggi (>90%) | Operasi efisien tapi kapasitas menganggur | Tingkatkan demand (marketing) atau kurangi kapasitas |
| Inefficient | Tinggi (>80%) | Rendah (<70%) | Kapasitas terpakai tapi banyak waste | Perbaiki proses, training, maintenance |
| Bahaya | Rendah (<60%) | Rendah (<70%) | Kapasitas menganggur + tidak efisien | Restructuring drastis atau exit |
🌍 Contoh Global: Hotel Industry
Design Capacity: 200 kamar × 24 jam = 4,800 room-nights/bulan
Effective Capacity: 4,800 − 10% (maintenance, deep cleaning) = 4,320 room-nights/bulan
Actual Output: Occupancy rate 75% = 3,600 room-nights/bulan
Utilization: 3,600 / 4,800 = 75%
Efficiency: 3,600 / 4,320 = 83.3%
Insight: Hotel biasanya target occupancy 70-80% untuk balance revenue dan service quality. 100% occupancy = overbooking risk, guest complaint.
🇮🇩 Contoh Indonesia: KAI (Kereta Api Indonesia)
Design Capacity: Jumlah kursi × frekuensi perjalanan per hari
Effective Capacity: Design − allowance (maintenance, delay, cleaning)
Actual Output: Penumpang aktual yang terlayani
Challenge: Saat Lebaran, demand naik 300% → KAI harus tambah rangkaian (capacity lead strategy)
Strategy: Kereta tambahan, jadwal ekstra, harga dinamis (yield management)
Result: Occupancy rate naik dari 70% (normal) ke 95% (Lebaran), revenue naik 200%
2. Strategi Kapasitas: Lead, Lag, dan Match
Tiga Pendekatan Capacity Expansion
Keputusan kapan menambah kapasitas adalah strategic decision yang berdampak jangka panjang. Ada tiga pendekatan utama:
| Strategi | Kapan Tambah Kapasitas | Risiko | Kapan Dipakai | Contoh |
|---|---|---|---|---|
| Capacity Lead (tambah SEBELUM demand naik) |
Antisipasi pertumbuhan demand | Overcapacity jika demand tidak tumbuh sesuai prediksi | Demand tumbuh cepat & predictable, biaya ekspansi rendah, competitive pressure tinggi | Telco bangun tower sebelum user membludak |
| Capacity Lag (tambah SETELAH demand naik) |
Tunggu sampai kapasitas penuh | Lost sales, customer kecewa, competitor ambil market | Demand tidak pasti, biaya ekspansi tinggi, konservatif | UMKM tambah karyawan setelah order menumpuk |
| Match Strategy (tambah BARENG demand) |
Incremental, bertahap sesuai pertumbuhan | Moderate — balance antara lead dan lag | Demand stabil, pertumbuhan bertahap, risiko moderate | Indofood tambah pabrik bertahap sesuai market growth |
- Lead strategy: High risk (overcapacity) vs high reward (capture market, no lost sales)
- Lag strategy: Low risk (no overcapacity) vs low reward (lost sales, customer kecewa)
- Match strategy: Moderate risk & reward — balance approach
🌍 Contoh Global: Amazon Web Services (AWS)
Strategy: Capacity Lead
Rationale:
- Cloud computing demand tumbuh eksponensial
- Customer expect instant availability (no waiting for server provisioning)
- Competitive pressure dari Microsoft Azure, Google Cloud
Implementation:
- Bangun data center 2-3 tahun sebelum demand puncak
- Global footprint: 30+ regions, 90+ availability zones
- Investment: $50+ billion per tahun untuk infrastructure
Result: Market leader 32% global cloud market, customer satisfaction tinggi
🇮🇩 Contoh Indonesia: PLN (Capacity Lead Strategy)
Strategy: Capacity Lead
Rationale:
- Listrik adalah kebutuhan dasar — blackout tidak acceptable
- Demand listrik Indonesia tumbuh 5-7% per tahun
- Pembangunan pembangkit butuh 3-5 tahun
Implementation:
- Rencana pembangunan pembangkit 10 tahun ke depan (RUPTL)
- Diversifikasi: PLTU, PLTA, PLTS, PLTB, PLTG
- Reserve margin: 20-30% (kapasitas berlebih untuk antisipasi)
Result: Blackout frequency turun drastis, electrification ratio 99%+
Capacity Cushion
Capacity cushion adalah jumlah kapasitas di atas expected demand — sebagai buffer untuk ketidakpastian.
| Konteks | Cushion yang Direkomendasikan | Alasan |
|---|---|---|
| Demand sangat volatile | 20-30% | Antisipasi spike demand |
| Demand stabil | 5-10% | Cukup untuk variasi normal |
| Service critical (RS, listrik) | 15-25% | Tidak boleh ada stockout |
| Perishable goods (makanan) | 5-10% | Hindari waste |
| Custom/low volume | 10-15% | Antisipasi rush order |
Economies & Diseconomies of Scale
Economies of Scale (Skala Ekonomi)
Biaya per unit turun seiring meningkatnya volume produksi.
| Sumber | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|
| Fixed cost spreading | Biaya tetap dibagi ke lebih banyak unit | Pabrik Rp 10M, produksi 10K unit = Rp 1K/unit; 100K unit = Rp 100/unit |
| Volume discounts | Supplier kasih diskon untuk pembelian besar | Beli 1 ton bahan = Rp 10K/kg; 10 ton = Rp 8K/kg |
| Specialized equipment | Mesin besar lebih efisien per unit | Mesin 1000 unit/jam lebih murah per unit dari 10 mesin 100 unit/jam |
| Learning curve | Pekerja semakin terampil dengan repetisi | Setiap doubling output, waktu produksi turun 10-20% |
Diseconomies of Scale (Skala Tidak Ekonomi)
Biaya per unit naik setelah volume melewati titik optimal.
| Sumber | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|
| Coordination cost | Semakin besar organisasi, semakin sulit koordinasi | Meeting berjenjang, birokrasi, komunikasi lambat |
| Complexity | Sistem menjadi kompleks, sulit dikelola | Supply chain global dengan 1000+ supplier |
| Worker alienation | Pekerja merasa seperti “cog in the machine” | Assembly line worker hanya pasang 1 baut berulang |
| Inventory cost | WIP dan finished goods inventory menumpuk | Gudang penuh, biaya holding tinggi |
Titik volume minimum di mana economies of scale habis dan diseconomies mulai muncul. Di bawah MES = tidak kompetitif. Di atas MES = biaya naik.
Contoh:
• Pabrik semen: MES = 1 juta ton/tahun
• Pabrik mobil: MES = 200,000 unit/tahun
• Restoran: MES = 100 kursi (di atas itu, service quality turun)
🇮🇩 Contoh Indonesia: Pabrik Semen Indonesia
Economies of Scale:
- Kiln besar (5,000 ton/hari) lebih efisien dari kiln kecil (500 ton/hari)
- Volume discount untuk batu bara, clinker
- Fixed cost (pabrik, tambang) dibagi ke jutaan ton
MES: 1 juta ton/tahun
Result: SIG (Semen Indonesia Group) bangun pabrik 3 juta ton/tahun di Rembang — cost per ton 30% lebih rendah dari pabrik kecil
3. Break-Even Analysis: Menentukan Kelayakan Investasi Kapasitas
Apa itu Break-Even Analysis?
Break-even analysis adalah teknik untuk menentukan volume output di mana total revenue = total cost (laba = 0). Di atas BEP = profit, di bawah BEP = loss.
- FC (Fixed Cost): Biaya yang tidak berubah dengan volume (sewa, gaji tetap, depresiasi)
- VC (Variable Cost): Biaya yang berubah proporsional dengan volume (bahan baku, upah langsung, listrik produksi)
- P (Price): Harga jual per unit
- (P − VC): Contribution margin — kontribusi setiap unit untuk menutup fixed cost
Data:
• Fixed cost (sewa mesin + operator): Rp 50 juta/bulan
• Variable cost per unit: Rp 10,000
• Harga jual per unit: Rp 25,000
BEP:
BEP = 50,000,000 / (25,000 − 10,000)
BEP = 50,000,000 / 15,000
BEP = 3,333 unit/bulan
Interpretasi:
• Jika produksi < 3,333 unit/bulan → LOSS
• Jika produksi = 3,333 unit/bulan → BREAK EVEN
• Jika produksi > 3,333 unit/bulan → PROFIT
Contoh: Produksi 5,000 unit/bulan
• Revenue: 5,000 × 25,000 = Rp 125 juta
• Total cost: 50 juta + (5,000 × 10,000) = Rp 100 juta
• Profit: Rp 25 juta/bulan
Break-Even untuk Multiple Alternatives
Seringkali ada beberapa alternatif investasi (misal: mesin A vs mesin B). BEP membantu memilih yang paling ekonomis.
| Mesin A | Mesin B | |
|---|---|---|
| Fixed Cost | Rp 100 juta | Rp 200 juta |
| Variable Cost/unit | Rp 15,000 | Rp 10,000 |
| Harga Jual | Rp 25,000 | Rp 25,000 |
BEP Mesin B: 200,000,000 / (25,000 − 10,000) = 13,333 unit
Crossover Point: Volume di mana total cost A = total cost B
100M + 15,000Q = 200M + 10,000Q
5,000Q = 100M
Q = 20,000 unit
Keputusan:
• Jika demand < 20,000 unit → pilih Mesin A (FC lebih rendah)
• Jika demand > 20,000 unit → pilih Mesin B (VC lebih rendah, economies of scale)
🇮🇩 Contoh: UMKM Keripik Pertimbangkan Mesin Vacuum Fryer
Current (manual):
- FC: Rp 5 juta/bulan (sewa tempat, gaji 3 pekerja)
- VC: Rp 8,000/bungkus (bahan, minyak, kemasan)
- Price: Rp 15,000/bungkus
- BEP: 5,000,000 / (15,000 − 8,000) = 714 bungkus/bulan
Option: Mesin Vacuum Fryer (Rp 150 juta):
- FC: Rp 12 juta/bulan (sewa + cicilan mesin + gaji 2 pekerja)
- VC: Rp 6,000/bungkus (lebih hemat minyak, tenaga kerja kurang)
- Price: Rp 15,000/bungkus
- BEP: 12,000,000 / (15,000 − 6,000) = 1,333 bungkus/bulan
Crossover: 5M + 8,000Q = 12M + 6,000Q → 2,000Q = 7M → Q = 3,500 bungkus
Keputusan:
- Jika demand < 3,500 bungkus/bulan → tetap manual
- Jika demand > 3,500 bungkus/bulan → invest mesin vacuum fryer
Limitasi Break-Even Analysis
| Limitasi | Penjelasan |
|---|---|
| Asumsi linear | FC dan VC dianggap konstan — realita bisa step-function atau kurva |
| Single product | Sulit untuk multi-product (butuh weighted average) |
| Static | Tidak memperhitungkan time value of money, inflasi |
| Price constant | Harga jual bisa turun jika volume naik (discount) |
| No uncertainty | Tidak memperhitungkan risiko demand, supply disruption |
4. Decision Theory: Kapasitas dalam Ketidakpastian CORE
Mengapa Decision Theory Penting?
Keputusan kapasitas sering dibuat dalam kondisi ketidakpastian — kita tidak tahu pasti berapa demand di masa depan. Decision theory menyediakan framework untuk memilih alternatif terbaik meskipun ada ketidakpastian.
Payoff Table
Tabel yang menunjukkan profit/loss untuk setiap kombinasi alternatif dan state of nature.
| Alternatif | Demand Rendah (30%) | Demand Sedang (50%) | Demand Tinggi (20%) |
|---|---|---|---|
| Pabrik Kecil | Rp 100 juta | Rp 150 juta | Rp 200 juta |
| Pabrik Sedang | Rp 50 juta | Rp 250 juta | Rp 400 juta |
| Pabrik Besar | -Rp 50 juta | Rp 200 juta | Rp 600 juta |
Kriteria Keputusan (Tanpa Probabilitas)
1. Maximax (Optimist)
Pilih alternatif dengan payoff maksimum tertinggi — untuk optimis.
Pabrik Sedang: max = 400
Pabrik Besar: max = 600 ← PILIH
2. Maximin (Pessimist / Wald Criterion)
Pilih alternatif dengan payoff minimum tertinggi — untuk pesimis.
Pabrik Sedang: min = 50
Pabrik Besar: min = -50
PILIH: Pabrik Kecil (min tertinggi = 100)
3. Minimax Regret (Savage Criterion)
Minimalkan regret maksimum — regret = selisih antara payoff aktual dengan payoff terbaik yang mungkin.
| Alternatif | Demand Rendah | Demand Sedang | Demand Tinggi | Max Regret |
|---|---|---|---|---|
| Pabrik Kecil | 0 | 100 | 400 | 400 |
| Pabrik Sedang | 50 | 0 | 200 | 200 |
| Pabrik Besar | 150 | 50 | 0 | 150 ← PILIH |
Demand Rendah: best = 100 (kecil). Regret kecil = 0, sedang = 100-50 = 50, besar = 100-(-50) = 150
Demand Sedang: best = 250 (sedang). Regret kecil = 250-150 = 100, sedang = 0, besar = 250-200 = 50
Demand Tinggi: best = 600 (besar). Regret kecil = 600-200 = 400, sedang = 600-400 = 200, besar = 0
Minimax regret: Pilih Pabrik Besar (max regret terkecil = 150)
4. Laplace Criterion (Equal Likelihood)
Asumsikan semua state of nature equally likely, hitung rata-rata payoff.
Pabrik Sedang: (50 + 250 + 400) / 3 = 233.3
Pabrik Besar: (-50 + 200 + 600) / 3 = 250 ← PILIH
5. Hurwicz Criterion (Realism)
Weighted average antara payoff terbaik dan terburuk, dengan koefisien α (0 ≤ α ≤ 1).
α = 1 → maximax (optimis), α = 0 → maximin (pesimis)
Pabrik Kecil: 0.7(200) + 0.3(100) = 140 + 30 = 170
Pabrik Sedang: 0.7(400) + 0.3(50) = 280 + 15 = 295
Pabrik Besar: 0.7(600) + 0.3(-50) = 420 − 15 = 405 ← PILIH
Kriteria Keputusan (Dengan Probabilitas)
Expected Monetary Value (EMV)
Hitung expected value untuk setiap alternatif berdasarkan probabilitas.
Pabrik Kecil: 0.3(100) + 0.5(150) + 0.2(200) = 30 + 75 + 40 = 145
Pabrik Sedang: 0.3(50) + 0.5(250) + 0.2(400) = 15 + 125 + 80 = 220
Pabrik Besar: 0.3(-50) + 0.5(200) + 0.2(600) = -15 + 100 + 120 = 205
PILIH: Pabrik Sedang (EMV tertinggi = 220 juta)
Expected Value of Perfect Information (EVPI)
Berapa nilai informasi sempurna (jika kita tahu pasti demand di masa depan)?
EVwPI: Jika tahu pasti demand, selalu pilih alternatif terbaik
= 0.3(100) + 0.5(250) + 0.2(600)
= 30 + 125 + 120 = 275
Maximum EMV: 220 (Pabrik Sedang)
EVPI: 275 − 220 = 55 juta
Interpretasi: Kita bersedia bayar sampai Rp 55 juta untuk informasi sempurna tentang demand masa depan.
Decision Tree
Visualisasi keputusan berurutan dengan probabilitas dan payoff di setiap cabang.
- Keputusan berurutan (sequential)
- Ada keputusan lanjutan setelah uncertainty terungkap
- Multiple stages (misal: invest sekarang, expand nanti)
🇮🇩 Contoh: Startup E-commerce Putuskan Kapasitas Server
Decision: Sewa server kecil (Rp 50 juta/tahun), sedang (Rp 100 juta), atau besar (Rp 200 juta)?
Uncertainty: User growth 1 juta (30%), 5 juta (50%), 10 juta (20%)
Payoff (profit, juta/tahun):
| Server | 1M user | 5M user | 10M user |
|---|---|---|---|
| Kecil | 100 | 150 | 100 (overload, lost revenue) |
| Sedang | 50 | 250 | 300 |
| Besar | -50 | 150 | 500 |
EMV:
- Kecil: 0.3(100) + 0.5(150) + 0.2(100) = 125
- Sedang: 0.3(50) + 0.5(250) + 0.2(300) = 200 ← PILIH
- Besar: 0.3(-50) + 0.5(150) + 0.2(500) = 160
Keputusan: Sewa server sedang (EMV tertinggi)
5. Waiting Line Analysis (Queuing Theory) CORE
Apa itu Queuing Theory?
Queuing theory adalah studi matematis tentang antrian — menganalisis trade-off antara biaya menyediakan layanan dan biaya menunggu.
- Tambah server → biaya layanan naik, waktu tunggu turun
- Kurangi server → biaya layanan turun, waktu tunggu naik
- Optimal: Total cost (service cost + waiting cost) minimum
Komponen Sistem Antrian
| Komponen | Definisi | Contoh |
|---|---|---|
| Calling population | Sumber kedatangan (customer, job, dll) | Nasabah bank, pasien RS, order e-commerce |
| Arrival rate (λ) | Rata-rata kedatangan per waktu | 20 nasabah/jam |
| Queue discipline | Aturan antrian | FIFO (first in first out), LIFO, priority |
| Service facility | Tempat layanan | Teller, kasir, server |
| Service rate (μ) | Rata-rata layanan per waktu | 1 teller layani 5 nasabah/jam |
Notasi Kendall
Format standar untuk mendeskripsikan sistem antrian: A/B/k
- A: Distribusi kedatangan (M = Markovian/Poisson, D = Deterministic, G = General)
- B: Distribusi layanan (M, D, G)
- k: Jumlah server
- M/M/1: Poisson arrival, exponential service, 1 server (paling umum)
- M/M/2: Poisson arrival, exponential service, 2 server
- M/D/1: Poisson arrival, deterministic service, 1 server
Model M/M/1 (Single Server)
Model paling dasar — 1 server, arrival Poisson, service exponential.
Parameter:
- λ = arrival rate (rata-rata kedatangan per waktu)
- μ = service rate (rata-rata layanan per waktu)
- ρ = utilization = λ / μ (harus < 1 agar stabil)
Metrik Kinerja:
| Metrik | Formula | Arti |
|---|---|---|
| L (avg number in system) | λ / (μ − λ) | Rata-rata customer dalam sistem (antri + dilayani) |
| Lq (avg number in queue) | λ² / [μ(μ − λ)] | Rata-rata customer yang antri |
| W (avg time in system) | 1 / (μ − λ) | Rata-rata waktu dalam sistem |
| Wq (avg time in queue) | λ / [μ(μ − λ)] | Rata-rata waktu menunggu antri |
| P0 (probability idle) | 1 − ρ | Probabilitas server menganggur |
| ρ (utilization) | λ / μ | Utilisasi server |
Data:
• Nasabah datang: λ = 20/jam (Poisson)
• Teller melayani: μ = 25/jam (exponential)
• 1 teller
Utilization: ρ = 20/25 = 0.8 (80%)
Metrik:
• L = 20 / (25 − 20) = 4 nasabah (rata-rata dalam sistem)
• Lq = 20² / [25(25 − 20)] = 400 / 125 = 3.2 nasabah (rata-rata antri)
• W = 1 / (25 − 20) = 0.2 jam = 12 menit (rata-rata waktu dalam sistem)
• Wq = 20 / [25(25 − 20)] = 20/125 = 0.16 jam = 9.6 menit (rata-rata waktu antri)
• P0 = 1 − 0.8 = 0.2 (20%) (teller menganggur 20% waktu)
Interpretasi:
• Nasabah rata-rata menunggu 9.6 menit sebelum dilayani
• Total waktu di bank: 12 menit (antri 9.6 menit + dilayani 2.4 menit)
• Rata-rata ada 3.2 nasabah antri, 4 nasabah di sistem
• Teller sibuk 80% waktu
Model M/M/k (Multiple Servers)
Untuk sistem dengan k server paralel (misal: 3 teller).
Current (1 teller):
• Wq = 9.6 menit
• Lq = 3.2 nasabah
Option: Tambah 1 teller (jadi 2 teller)
• λ = 20/jam, μ = 25/jam per teller, k = 2
• ρ = λ / (kμ) = 20 / (2×25) = 0.4 (40%)
Setelah hitung M/M/2:
• Wq = 0.53 menit (turun drastis dari 9.6 menit!)
• Lq = 0.18 nasabah (turun dari 3.2)
Trade-off analysis:
• Biaya teller: Rp 5 juta/bulan per teller
• Biaya tunggu nasabah: Rp 50,000/menit (opportunity cost)
• Current total cost: 1(5M) + 3.2(20×60×22)(50,000) = 5M + 422.4M = Rp 427.4 juta
• Option total cost: 2(5M) + 0.18(20×60×22)(50,000) = 10M + 23.76M = Rp 33.76 juta
Keputusan: Tambah 1 teller — total cost turun 92%!
Psychology of Waiting
Selain metrik matematis, ada aspek psikologis yang mempengaruhi persepsi pelanggan:
| Prinsip | Penjelasan | Solusi |
|---|---|---|
| Unexplained waits feel longer | Tidak tahu kenapa antri = frustrasi | Beri informasi: “Estimasi tunggu 10 menit” |
| Uncertain waits feel longer | Tidak tahu berapa lama = cemas | Display nomor antrian, progress bar |
| Unfair waits feel longer | Lihat orang lain didahulukan = marah | Sistem antrian jelas, FIFO konsisten |
| Anxious waits feel longer | Cemas (RS, airport) = waktu terasa lama | Komunikasi proaktif, update berkala |
| Empty waits feel longer | Tidak ada aktivitas = bosan | Entertainment: TV, musik, WiFi, majalah |
| Solo waits feel longer | Antri sendiri = lebih terasa lama | Group seating, social interaction |
🇮🇩 Contoh: Psychology of Waiting di BPJS Kesehatan
Problem: Pasien antri 2-3 jam di RS, banyak komplain
Solusi Teknis: Tambah dokter, perbaiki alur
Solusi Psikologis:
- Nomor antrian digital: Pasien bisa cek posisi antrian via app
- Estimasi waktu: “Estimasi dipanggil: 45 menit lagi”
- Entertainment: TV edukasi kesehatan, WiFi gratis
- Comfort: Kursi empuk, AC, air minum
- Transparency: Display “Sedang dilayani: Nomor 45”
Result: Komplain turun 60% meskipun waktu tunggu aktual sama
Managing Queues: Strategies
| Strategi | Cara | Contoh |
|---|---|---|
| Determine demand pattern | Analisis kapan peak & off-peak | Restoran ramai jam makan siang |
| Adjust capacity | Tambah server saat peak | Bank buka lebih banyak teller jam lunch |
| Share resources | Cross-train worker untuk multi-task | Kasir supermarket bisa jadi stocker |
| Shift demand | Pricing, promotion untuk geser ke off-peak | Happy hour, weekday discount |
| Make wait pleasant | Entertainment, comfort, information | Disneyland queue dengan entertainment |
| Encourage customer participation | Self-service | Self-checkout, ATM, mobile ordering |
| Take long-term view | Investasi kapasitas jangka panjang | PLN bangun pembangkit untuk 10 tahun ke depan |
6. Workshop DT 06: Problem Definition Round 02 WORKSHOP
🎨 Workshop DT 06: Problem Definition Round 02
Tujuan: Finalisasi problem statement berdasarkan feedback dari Round 01 dan validasi tambahan. Output siap untuk fase Ideate di sesi berikutnya.
Durasi: 90-120 menit
Format: Kelompok 3-5 orang
Transisi dari Define Round 01 ke Round 02
Di sesi 06 (Define Round 01), Anda sudah membuat:
- POV statement
- 5 Whys analysis
- HMW questions
- Constraints & assumptions
Sekarang di Round 02, kita akan:
- Review & refine berdasarkan feedback dosen & teman
- Validasi assumptions dengan data tambahan
- Prioritize HMW questions
- Finalize problem statement untuk Ideate phase
- “Good enough, not perfect” — jangan terjebak perfectionism
- Testable — bisa divalidasi dengan prototype di fase berikutnya
- Inspiring — memotivasi tim untuk cari solusi kreatif
- Measurable — bisa diukur keberhasilannya
Evolusi Design Thinking Rounds
✓ Sesi 02-05: Empathize Rounds 01-04
Fokus: Operasi, Customer, Supply Chain, Worker
✓ Sesi 06: Define Round 01
Fokus: Sintesis insights → Problem statement awal
🎯 Sesi 07: Define Round 02 — Finalisasi
Fokus: Refine, validate, prioritize, finalize problem statement
Langkah-Langkah Define Round 02
Langkah 1: Review Feedback Round 01 (15 menit)
Kumpulkan feedback dari presentasi sesi 06:
- Apa kritik dari dosen & teman?
- Apa yang kurang jelas atau perlu diperdalam?
- Apakah ada insights baru yang terlewat?
Langkah 2: Refine POV Statement (20 menit)
Perbaiki POV statement berdasarkan feedback:
- Apakah user-nya sudah spesifik?
- Apakah verb-nya actionable?
- Apakah insight-nya supported by data?
Template: [Specific user] needs to [actionable verb] because [data-backed insight].
Langkah 3: Validate Assumptions (25 menit)
Untuk setiap assumption di Round 01, lakukan validasi:
- Data validation: Cari data sekunder (laporan, statistik, riset)
- Quick interview: Tanya 2-3 orang untuk konfirmasi
- Observation: Observasi langsung untuk verifikasi
Output: Assumption yang validated vs invalidated. Jika invalidated, revisit POV.
Langkah 4: Prioritize HMW Questions (20 menit)
Dari 5-10 HMW di Round 01, pilih 3 teratas berdasarkan:
| Kriteria | Bobot | Penjelasan |
|---|---|---|
| Impact | 30% | Seberapa besar dampak jika berhasil? |
| Feasibility | 25% | Seberapa mungkin direalisasikan? |
| Alignment | 20% | Seberapa selaras dengan insight dari Empathize? |
| Inspiration | 15% | Seberapa memotivasi untuk tim? |
| Measurability | 10% | Seberapa mudah diukur keberhasilannya? |
Voting dengan scoring matrix, pilih 3 HMW dengan skor tertinggi.
Langkah 5: Define Success Metrics (15 menit)
Untuk setiap HMW terpilih, tentukan:
- Success criteria: Apa yang menandakan solusi berhasil?
- KPIs: Metrik apa yang akan diukur?
- Target: Berapa target pencapaian?
- Timeline: Kapan harus tercapai?
Contoh:
- HMW: “How might we reduce waiting time at kantin?”
- Success: Customer served in < 10 minutes
- KPI: Average waiting time, customer satisfaction score
- Target: Reduce waiting time by 50% in 1 month
Langkah 6: Finalize Problem Statement Package (20 menit)
Susun paket final untuk Ideate phase:
- Final POV Statement (1 kalimat)
- Root Cause Analysis (5 Whys chain)
- Top 3 HMW Questions (dengan scoring rationale)
- Validated Assumptions (dengan evidence)
- Constraints (batasan yang harus dihormati)
- Success Metrics (KPIs & targets)
Langkah 7: Final Presentation (25 menit)
Setiap kelompok presentasi 7 menit + 3 menit Q&A. Struktur:
- POV statement (30 detik)
- Root cause dari 5 Whys (1 menit)
- Top 3 HMW dengan justifikasi (2 menit)
- Validated assumptions (1 menit)
- Success metrics (1 menit)
- Next steps untuk Ideate phase (30 detik)
Template Final Problem Statement Package
[Specific user] needs to [actionable verb] because [data-backed insight].
2. Root Cause (5 Whys):
Problem → Why 1 → Why 2 → Why 3 → Why 4 → Why 5 (root cause)
3. Top 3 HMW Questions (dengan scoring):
1. How might we…? (Score: Impact 8, Feasibility 7, Alignment 9, Inspiration 7, Measurability 8 = 39)
2. How might we…? (Score: … = 36)
3. How might we…? (Score: … = 34)
4. Validated Assumptions:
• Assumption 1: [validated/invalidated] — Evidence: …
• Assumption 2: [validated/invalidated] — Evidence: …
5. Constraints:
• Budget: max Rp X
• Timeline: Y weeks
• Regulation: …
• Technology: …
6. Success Metrics:
• KPI 1: [metric] → Target: [number] by [date]
• KPI 2: [metric] → Target: [number] by [date]
• KPI 3: [metric] → Target: [number] by [date]
- ✅ Specific: Jelas siapa user, apa masalah, kenapa penting
- ✅ Validated: Assumptions sudah dicek dengan data/observasi
- ✅ Actionable: Tim bisa mulai generate solusi
- ✅ Measurable: Ada KPI & target yang jelas
- ✅ Constrained: Batasan sudah didefinisikan (budget, time, dll)
- ✅ Inspiring: Memotivasi tim untuk cari solusi kreatif
Output dari Define Round 02 ini akan jadi input untuk Ideate phase di sesi 08, di mana Anda akan generate banyak ide solusi (divergent thinking) untuk HMW questions yang sudah difinalisasi.
Persiapan untuk Ideate:
- Baca tentang brainstorming techniques (SCAMPER, mind mapping, dll)
- Siapkan mentalitas “yes, and…” — terima semua ide dulu, evaluasi nanti
- Bawa referensi solusi dari industri lain (analogical thinking)
🔑 Key Takeaways Sesi 07
- Capacity management adalah fondasi keputusan operasi — terlalu sedikit = lost sales, terlalu banyak = idle cost.
- Tiga ukuran kapasitas: Design (teoritis), Effective (realistis), Actual (aktual).
- Utilization = Actual / Design; Efficiency = Actual / Effective — keduanya penting untuk evaluasi.
- Tiga strategi capacity: Lead (tambah sebelum demand), Lag (tambah setelah demand), Match (bertahap).
- Capacity cushion = buffer untuk antisipasi ketidakpastian — 5-30% tergantung konteks.
- Economies of scale = biaya per unit turun dengan volume; Diseconomies = biaya naik setelah MES.
- Break-even analysis menentukan volume minimum untuk profit — alat fundamental untuk keputusan investasi.
- Decision theory membantu pilih alternatif dalam ketidakpastian: Maximax, Maximin, Minimax Regret, EMV, EVPI.
- Queuing theory menganalisis trade-off service cost vs waiting cost — M/M/1 dan M/M/k adalah model dasar.
- Psychology of waiting sama pentingnya dengan metrik matematis — kelola persepsi, bukan hanya waktu aktual.
- Define Round 02 memfinalisasi problem statement: refine POV, validate assumptions, prioritize HMW, define success metrics.
- Output Define Round 02 siap untuk Ideate phase — generate solusi kreatif di sesi berikutnya.
💬 Diskusi & Tugas Kelompok
Tugas 1: Capacity Analysis
Pilih satu bisnis (hotel, RS, restoran, pabrik). Hitung:
- Design capacity, effective capacity, actual output
- Utilization dan efficiency
- Capacity cushion
- Rekomendasi: lead, lag, atau match strategy?
Tugas 2: Break-Even Analysis
Sebuah UMKM pertimbangkan investasi mesin baru:
- Fixed cost: Rp X, Variable cost: Rp Y/unit, Price: Rp Z/unit
- Hitung BEP dalam unit dan rupiah
- Jika demand forecast 1,000 unit/bulan, apakah layak investasi?
- Berapa profit/loss?
Tugas 3: Decision Theory
Diberikan payoff table dengan 3 alternatif dan 3 states of nature. Hitung:
- Maximax, Maximin, Minimax Regret, Laplace
- EMV dengan probabilitas yang diberikan
- EVPI
- Rekomendasi keputusan
Tugas 4: Queuing Analysis
Analisis antrian di satu layanan (bank, RS, supermarket):
- Ukur arrival rate (λ) dan service rate (μ)
- Hitung metrik: L, Lq, W, Wq, ρ
- Evaluasi: apakah perlu tambah server?
- Hitung trade-off: biaya server vs biaya tunggu
Tugas 5: Workshop Output Submission
Kumpulkan Final Problem Statement Package dari Workshop DT 06:
- Final POV Statement
- 5 Whys Analysis
- Top 3 HMW Questions (dengan scoring)
- Validated Assumptions
- Constraints
- Success Metrics
Tugas 6: Indonesian Context
Analisis tantangan capacity management khusus di Indonesia:
- Bagaimana mengelola capacity dengan demand yang sangat musiman (Lebaran, Natal, tahun ajaran)?
- Bagaimana dampak infrastruktur yang tidak merata terhadap capacity planning?
- Studi kasus: PLN mengelola kapasitas listrik di Papua vs Jawa
- Studi kasus: KAI mengelola kapasitas kereta saat mudik Lebaran
📚 Referensi
- Russell, R. S. & Taylor, B. W. Operations and Supply Chain Management — Chapter 10 (Capacity Management)
- Heizer, J., Render, B., & Munson, C. (2020). Operations Management: Sustainability and Supply Chain Management. Pearson. (Chapter: Capacity and Constraint Management)
- Render, B., Stair, R. M., & Hanna, M. E. (2017). Quantitative Analysis for Management. Pearson. (Decision Theory & Queuing Theory)
- Maister, D. H. (1985). The Psychology of Waiting Lines. Harvard Business Review.
- Grossman, E. (2014). The Economics of Capacity Management. MIT Sloan Management Review.
- Banker, R. D., & Datar, S. M. (1989). The Measurement of Capacity and Utilization. Management Science.
🌐 Open Educational Resource (OER)
Materi ini disusun sebagai sumber belajar terbuka untuk mahasiswa, dosen, dan praktisi Operations & Supply Chain Management di Indonesia dan negara berkembang lainnya.
🎓 Selamat Belajar!
Capacity is not just about how much you can produce — it’s about how well you match capability to opportunity.
Manajemen Kapasitas (Capacity Management)



4
1. Tujuan Sesi
Sesi ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman bahwa kapasitas adalah komitmen strategis yang menentukan kemampuan organisasi memenuhi permintaan pelanggan. Mahasiswa diarahkan melihat manajemen kapasitas sebagai keputusan yang menyeimbangkan biaya, tingkat layanan, dan fleksibilitas.
Fokus sesi adalah bagaimana kapasitas direncanakan dan dikelola secara manajerial, bukan sekadar dihitung.
2. Konsep Dasar Kapasitas dalam Operasi
Kapasitas menggambarkan kemampuan maksimum sistem operasi untuk menghasilkan output dalam periode tertentu. Dalam praktik, dikenal kapasitas desain, kapasitas efektif, dan kapasitas aktual—yang jarang sama karena adanya pembatas proses, variasi, dan gangguan.
Memahami perbedaan ini membantu manajer mengidentifikasi celah kinerja dan peluang perbaikan.
3. Utilisasi dan Bottleneck
Utilisasi menunjukkan seberapa besar kapasitas digunakan. Namun, utilisasi tinggi tidak selalu baik jika menyebabkan antrian, kelelahan, atau penurunan kualitas. Bottleneck adalah titik proses yang membatasi output sistem secara keseluruhan.
Sesi ini menekankan prinsip bahwa peningkatan di luar bottleneck tidak meningkatkan kinerja sistem.
4. Strategi Kapasitas: Lead, Lag, dan Match
Organisasi dapat memilih strategi lead (kapasitas mendahului permintaan), lag (kapasitas mengikuti permintaan), atau match (penyesuaian bertahap). Setiap strategi memiliki risiko dan implikasi biaya yang berbeda.
Pemilihan strategi harus diselaraskan dengan ketidakpastian permintaan dan toleransi risiko organisasi.
5. Fleksibilitas Kapasitas
Fleksibilitas kapasitas memungkinkan organisasi merespons fluktuasi permintaan melalui lembur, penjadwalan ulang, outsourcing, atau pemanfaatan teknologi. Fleksibilitas meningkatkan responsivitas, tetapi juga membawa konsekuensi biaya dan kompleksitas.
Mahasiswa belajar bahwa fleksibilitas perlu dirancang, bukan diimprovisasi.
6. Risiko Overcapacity dan Undercapacity
Overcapacity meningkatkan biaya tetap dan menurunkan efisiensi, sementara undercapacity menyebabkan keterlambatan, kehilangan penjualan, dan ketidakpuasan pelanggan. Keduanya merupakan risiko strategis yang harus dikelola.
Sesi ini menekankan pentingnya trade-off manajerial dalam keputusan kapasitas.
7. Contoh Aplikasi Manajemen Kapasitas
Manajemen kapasitas terlihat jelas pada rumah sakit, maskapai penerbangan, dan industri jasa lainnya yang menghadapi permintaan berfluktuasi. Keputusan kapasitas di sektor ini berdampak langsung pada kualitas layanan dan biaya.
Contoh ini membantu mahasiswa memahami relevansi kapasitas dalam konteks nyata.
8. 🎥 Video Pendukung
Tambahkan video pengantar tentang:
Capacity Management and Bottleneck Analysis in Operations
🔔 Catatan:
Video digunakan untuk memvisualisasikan hubungan antara kapasitas, utilisasi, dan bottleneck, bukan untuk menggantikan diskusi konseptual.
Key Takeaway
Kapasitas bukan sekadar angka, melainkan keputusan strategis yang menentukan kemampuan organisasi melayani pelanggan secara berkelanjutan.