📘 SESI 1: Gambaran Umum & Akar Sistem Design Thinking
Kompetensi Akhir: Mahasiswa memahami bahwa Design Thinking bukan sekadar “tempel post-it”, melainkan turunan dari Systems Approach untuk memecahkan masalah kompleks (wicked problems), dan mampu melihat pola berpikir ini dalam kasus nyata Indonesia.
📖 1. BACA — Pelajari & Pahami Konsep
Apa Itu Design Thinking Sebenarnya?
Design Thinking (DT) sering disalahpahami sebagai “metode desain produk”. Padahal, secara epistemologis, DT adalah cara merancang sistem buatan (artificial systems) yang berpusat pada manusia untuk menyelesaikan masalah yang tidak memiliki solusi tunggal.
📜 Akar Sejarah: Herbert Simon & Systems Approach
1969 — Herbert Simon (Nobel Ekonomi, ilmuwan sistem) menerbitkan “The Sciences of the Artificial”. Ia merumuskan bahwa “design” adalah aktivitas mengubah kondisi yang ada menjadi kondisi yang lebih disukai. DT lahir dari Systems Approach — cara melihat masalah sebagai bagian dari sistem yang saling terhubung.
1987 — Peter Rowe memperkenalkan istilah “Design Thinking” dalam konteks arsitektur dan perencanaan kota.
1991 — David Kelley mendirikan IDEO dan membawa DT ke ranah bisnis.
2005 — Stanford d.school merumuskan 5 Langkah FSDT (Empathize, Define, Ideate, Prototype, Test) yang kita pakai hari ini.
💡 Poin Kunci untuk Mahasiswa Manajemen:
DT adalah pintu masuk ke sistem yang kompleks. Alih-alih menganalisis seluruh sistem sekaligus (yang bisa melumpuhkan), DT memulai dari satu titik leverage tertinggi: Empati terhadap manusia di dalam sistem tersebut.
DT adalah pintu masuk ke sistem yang kompleks. Alih-alih menganalisis seluruh sistem sekaligus (yang bisa melumpuhkan), DT memulai dari satu titik leverage tertinggi: Empati terhadap manusia di dalam sistem tersebut.
🇮🇩 Studi Kasus: Gojek — Call Center Dulu, Aplikasi Kemudian
Konteks (2010): Nadiem Makarim mengamati dua sisi sistem yang tidak seimbang:
- Supply: Tukang ojek pangkalan menganggur berjam-jam, pendapatan tidak menentu.
- Demand: Penumpang sulit dapat ojek, harga tidak transparan, sering ditawar tinggi.
🎯 Keputusan Kritis: Gojek TIDAK langsung membuat aplikasi. Mereka memulai dengan Call Center 021-GOJEK dengan 5 operator dan 50 driver. Ini adalah prototipe sistem paling sederhana untuk memvalidasi apakah “kepastian” benar-benar dibutuhkan pasar. Baru setelah sistem tervalidasi, mereka scale-up ke aplikasi (2015) dan GoPay (2016).
Pelajaran: DT + Systems Thinking = mulai dari solusi paling sederhana untuk memvalidasi masalah, baru scale-up dengan teknologi.
🛠️ 2. COBA — Eksperimen Kecil (15 Menit)
Aktivitas: “The Redesign Challenge” (Versi LEAN)
- Berpasangan dengan teman sekelas (atau breakout room jika online).
- 3 Menit: Mahasiswa A mewawancarai Mahasiswa B: “Ceritakan pengalamanmu mengisi KRS/mendaftar kelas. Apa yang paling membuatmu frustrasi?”
- Aturan Emas: Jangan catat solusi! Catat hanya emosi dan frustrasi (misal: “Saya cemas kelas penuh”, “Saya bingung pilih dosen”).
- 3 Menit: Ganti peran.
- 5 Menit: Setiap pasangan menuliskan 1 insight terbesar di sticky note Miro kelas.
🤖 AI Partner (Opsional): Jika wawancara direkam, upload ke Otter.ai atau Whisper untuk transkrip otomatis. Lalu minta AI: “Dari transkrip ini, identifikasi 3 emosi dominan yang muncul.”
🧠 3. PIKIR — Refleksi & Analisis Sistemik
Pertanyaan Refleksi (Diskusi Kelas)
- Apa yang paling mengejutkan dari cerita pasanganmu? Apakah asumsimu sebelumnya salah?
- Lensa Systems Thinking: Jika kita langsung membuat “aplikasi KRS yang lebih cepat” (solusi dangkal), apakah itu memperbaiki masalah? Atau justru menggeser masalah ke tempat lain (misal: server down, dosen kehilangan otonomi, mahasiswa panik)?
- Mengapa memulai dari Empati lebih aman dan lebih murah daripada langsung membangun produk/teknologi?
🔗 Koneksi ke Filosofi AurinoWorks:
“AI adalah mesinnya, Systems Thinking adalah kemudinya, Design Thinking adalah peta perjalanannya.” Di sesi ini, Anda baru saja memegang petanya. AI bisa membantu transkrip, tapi hanya Anda yang bisa merasakan emosi pasangan Anda.
“AI adalah mesinnya, Systems Thinking adalah kemudinya, Design Thinking adalah peta perjalanannya.” Di sesi ini, Anda baru saja memegang petanya. AI bisa membantu transkrip, tapi hanya Anda yang bisa merasakan emosi pasangan Anda.
🚀 4. TINDAK — Eksekusi & Persiapan Sesi Berikutnya
Output Sesi Ini:
- ✅ Setiap mahasiswa menuliskan 1 insight terbesar di sticky note Miro kelas (kumpulkan sebelum kelas berakhir).
- ✅ Menyepakati komitmen kelas: sepanjang semester, tidak ada ide yang langsung dihakimi (“That’s a bad idea”), melainkan diuji (“How might we test that?”).
Persiapan Sesi 2 (Pre-class):
- 🎧 Wajib: Simak Podcast IDEO — David Kelley tentang “Creative Confidence” (15 menit). Link di LMS.
- 🎬 Rekomendasi: Tonton 1 episode “Inside Bill’s Brain” (Netflix) untuk melihat bagaimana Bill Gates menggunakan DT + Systems Thinking untuk masalah sanitasi global.
- 📝 Prompt AI untuk Sesi 2:
“Saya sedang mempelajari Design Thinking. Bantu saya memahami perbedaan antara ‘kreativitas’ dan ‘inovasi’ dalam konteks bisnis. Berikan 3 contoh perusahaan Indonesia yang berhasil mengubah ide kreatif menjadi inovasi yang profitable. Jelaskan dengan bahasa sederhana untuk mahasiswa manajemen.”
📚 Referensi Sesi 1
- Buku: Diktat —
- Artikel: Simon, H.A. (1969). The Sciences of the Artificial. MIT Press.
- Artikel: Brown, T. (2008). “Design Thinking”. Harvard Business Review.
- Website: ideo.org
- Podcast: IDEO — Big Questions (Spotify)
- Film: Inside Bill’s Brain (Netflix Documentary, 3 episodes)
- Video: Gojek Case — “Create at Scale” (YouTube)
“Design Thinking adalah cara meretas sistem yang kompleks dengan mulai dari satu titik: manusia di dalamnya.”
— Intisari Sesi 1
— Intisari Sesi 1