SCM Sesi 11

🗺️ PART A: Strategic Network Design & Planning

Keputusan lokasi fasilitas: investasi besar, dampak jangka panjang, fondasi competitive advantage

🎯

1. Mengapa Keputusan Lokasi Sangat Kritis?

Keputusan lokasi fasilitas adalah keputusan jangka panjang dengan dampak besar dan irreversible:

Faktor Dampak Biaya Perubahan
Investasi Modal Rp 100 miliar – 1 triliun untuk pembangunan fasilitas Sangat tinggi (sunk cost)
Biaya Operasional Mempengaruhi 60-80% total biaya logistik selama 20-30 tahun Tidak bisa diubah tanpa relokasi
Service Level Lead time ke pelanggan, ketersediaan produk Mempengaruhi customer satisfaction
Kompabilitas Akses ke tenaga kerja, supplier, infrastruktur Sulit untuk diubah
💡 Prinsip Utama: Keputusan lokasi adalah trade-off antara biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Lokasi murah mungkin memiliki biaya transportasi tinggi, dan sebaliknya.
📊

2. Hierarki Keputusan Lokasi (Bowersox Ch 14-15)

Ada 4 level keputusan dalam network design:

Level Time Horizon Pertanyaan Kunci Contoh Keputusan
① Strategic 10-20 tahun Berapa banyak fasilitas? Di negara/wilayah mana? Buka pabrik di Indonesia vs Vietnam
② Tactical 3-5 tahun Kota mana? Berapa kapasitas? Warehouse di Semarang dengan kapasitas 50,000 m²
③ Operational 1 tahun Penugasan pelanggan ke fasilitas? Customer Jawa Tengah dilayani dari Semarang
④ Execution Harian Routing & scheduling? Truk A ke customer X, truk B ke customer Y
📐

3. Model-Model Klasik untuk Facility Location

📐 Model 1: Center of Gravity (Pusat Gravitasi)

Tujuan: Menemukan lokasi yang meminimalkan total jarak berbobot ke semua pasar/supplier.

X* = (Σ Xi × Vi) / (Σ Vi)
Y* = (Σ Yi × Vi) / (Σ Vi)

Dimana:
• Xi, Yi = Koordinat lokasi pasar/supplier i
• Vi = Volume permintaan/pengiriman ke/dari lokasi i
• X*, Y* = Koordinat lokasi optimal

🧮 Contoh Perhitungan:

Sebuah perusahaan memiliki 4 pasar utama:

Pasar Koordinat (X, Y) Volume (ton/tahun)
Jakarta (106.8, -6.2) 5,000
Surabaya (112.7, -7.3) 3,000
Medan (98.7, 3.6) 2,000
Makassar (119.4, -5.1) 1,500

Perhitungan:

X* = (106.8×5000 + 112.7×3000 + 98.7×2000 + 119.4×1500) / 11,500
X* = (534,000 + 338,100 + 197,400 + 179,100) / 11,500
X* = 1,248,600 / 11,500 = 108.57

Y* = (-6.2×5000 + -7.3×3000 + 3.6×2000 + -5.1×1500) / 11,500
Y* = (-31,000 + -21,900 + 7,200 + -7,650) / 11,500
Y* = -53,350 / 11,500 = -4.64

Hasil: Lokasi optimal adalah di koordinat (108.57, -4.64), yaitu sekitar Semarang, Jawa Tengah.

🚚 Model 2: Transportation Model (Linear Programming)

Tujuan: Meminimalkan total biaya transportasi dengan mempertimbangkan kapasitas fasilitas dan permintaan pasar.

Minimize Z = Σ Σ Cij × Xij

Dengan kendala:
• Σ Xij ≤ Si (kapasitas fasilitas i)
• Σ Xij ≥ Dj (permintaan pasar j)
• Xij ≥ 0 (jumlah pengiriman non-negatif)

🧮 Contoh Kasus:

Perusahaan memiliki 2 pabrik (P1, P2) dan melayani 3 pasar (M1, M2, M3):

M1 (Jakarta) M2 (Surabaya) M3 (Medan) Kapasitas
P1 (Bandung) Rp 10,000 Rp 15,000 Rp 25,000 8,000 unit
P2 (Semarang) Rp 12,000 Rp 8,000 Rp 20,000 7,000 unit
Permintaan 5,000 unit 4,000 unit 3,000 unit

Solusi Optimal (menggunakan Solver):

  • P1 → M1: 5,000 unit (Rp 50 juta)
  • P1 → M2: 3,000 unit (Rp 45 juta)
  • P2 → M2: 1,000 unit (Rp 8 juta)
  • P2 → M3: 3,000 unit (Rp 60 juta)
  • Total Biaya: Rp 163 juta (paling optimal)

⭐ Model 3: Factor Rating Method

Tujuan: Mengevaluasi beberapa lokasi kandidat berdasarkan faktor-faktor kualitatif dan kuantitatif dengan bobot yang berbeda.

Skor Lokasi = Σ (Bobot Faktor × Skor Faktor)

🧮 Contoh Evaluasi 3 Lokasi Warehouse:

Faktor Bobot (%) Jakarta Surabaya Semarang
Biaya Tanah 20% 6/10 8/10 9/10
Akses Pelabuhan 25% 9/10 8/10 7/10
Tenaga Kerja 15% 8/10 7/10 7/10
Infrastruktur Jalan 20% 7/10 7/10 8/10
Pajak Daerah 10% 5/10 7/10 9/10
Insentif Pemerintah 10% 6/10 8/10 9/10

Perhitungan Skor:

  • Jakarta: (0.20×6) + (0.25×9) + (0.15×8) + (0.20×7) + (0.10×5) + (0.10×6) = 7.15/10
  • Surabaya: (0.20×8) + (0.25×8) + (0.15×7) + (0.20×7) + (0.10×7) + (0.10×8) = 7.55/10
  • Semarang: (0.20×9) + (0.25×7) + (0.15×7) + (0.20×8) + (0.10×9) + (0.10×9) = 8.00/10

Keputusan: Semarang adalah lokasi terbaik dengan skor tertinggi (8.00/10).

💰 Model 4: Break-Even Analysis untuk Lokasi

Tujuan: Membandingkan beberapa lokasi berdasarkan struktur biaya (fixed vs variable cost) untuk menentukan lokasi terbaik pada volume tertentu.

Total Cost = Fixed Cost + (Variable Cost × Volume)
Break-Even Volume = (FC1 – FC2) / (VC2 – VC1)

🧮 Contoh:

Lokasi Fixed Cost (Rp/tahun) Variable Cost (Rp/unit)
Jakarta 5 miliar Rp 50,000
Surabaya 3 miliar Rp 60,000
Semarang 2 miliar Rp 70,000

Perhitungan Break-Even:

  • Jakarta vs Surabaya: (5M – 3M) / (60K – 50K) = 200,000 unit
  • Surabaya vs Semarang: (3M – 2M) / (70K – 60K) = 100,000 unit

Rekomendasi:

  • Volume < 100,000 unit → Semarang (biaya tetap rendah)
  • Volume 100,000 – 200,000 unit → Surabaya (keseimbangan FC-VC)
  • Volume > 200,000 unit → Jakarta (biaya variabel rendah)
💰

4. Total Cost Analysis untuk Keputusan Lokasi

Saat memilih lokasi, jangan hanya lihat biaya tanah atau upah. Hitung Total Cost of Ownership (TCO) selama 10-20 tahun:

Komponen Biaya Persentase dari TCO Contoh
Biaya Tanah & Konstruksi 30-40% Rp 50-200 miliar untuk warehouse 10,000 m²
Biaya Transportasi 25-35% Fuel, toll, driver, maintenance armada
Biaya Tenaga Kerja 15-25% Gaji, BPJS, training, turnover
Biaya Inventory 10-15% Modal kerja, asuransi, shrinkage
Biaya Utilitas 5-10% Listrik, air, internet, security
Pajak & Regulasi 3-8% PBB, PPh, izin usaha

🇮🇩 Contoh Indonesia: Tokopedia & Bukalapak – Strategi Warehouse

Konteks: E-commerce Indonesia menghadapi tantangan geografis (17,000+ pulau) dan infrastruktur yang tidak merata.

Strategi Tokopedia (2020-2024):

  • Fase 1 (2020): 1 warehouse di Jakarta (melayani Jawa)
  • Fase 2 (2021): Tambah 2 warehouse (Surabaya, Medan) – coverage 60% populasi
  • Fase 3 (2022): Tambah 3 warehouse (Semarang, Makassar, Palembang) – coverage 80% populasi
  • Fase 4 (2023): Tambah 4 warehouse (Pontianak, Balikpapan, Denpasar, Manado) – coverage 95% populasi

Hasil:

  • Lead time turun dari 3-5 hari → 1-2 hari untuk 95% pelanggan
  • Biaya logistik turun 35% (dari Rp 25,000 → Rp 16,000 per paket)
  • GMV tumbuh 200% dalam 3 tahun

🤖 PART B: AI-Powered Facility Location Decisions

Dari model statis ke dynamic optimization: AI untuk keputusan lokasi yang lebih cerdas

🚀

1. Mengapa AI Diperlukan dalam Facility Location?

Model klasik memiliki batasan yang bisa diatasi oleh AI:

Batasan Model Klasik Solusi AI
Asumsi linear (biaya tetap konstan) ML bisa memodelkan hubungan non-linear (economies of scale, congestion)
Tidak mempertimbangkan risiko dan ketidakpastian AI menggunakan Monte Carlo Simulation untuk 1000+ skenario
Hanya optimasi 1 objektif (biaya minimum) Multi-objective optimization (biaya, service level, risiko, sustainability)
Statis (tidak adaptif terhadap perubahan) Real-time optimization berdasarkan data terkini
Data terbatas (hanya biaya transportasi) Big Data (demografi, cuaca, traffic, sentimen sosial, dll)

🤖 5 Teknik AI untuk Facility Location:

Teknik Cara Kerja Aplikasi
Machine Learning Prediksi demand dengan akurasi 90%+ menggunakan data historis LSTM untuk time-series forecasting, Random Forest untuk demand prediction
Genetic Algorithm Meniru evolusi alam untuk menemukan solusi optimal Optimasi multi-objective dengan 1000+ constraints
Geospatial Analytics Analisis citra satelit, network analysis, heatmap Evaluasi lahan, aksesibilitas jalan, density penduduk
Monte Carlo Simulation Simulasi 10,000+ skenario dengan probabilitas berbeda Risk assessment, what-if analysis, sensitivity analysis
Predictive Risk Analytics Memprediksi risiko bencana, politik, regulasi 5-10 tahun risk forecasting per lokasi
🔧

2. Framework AI untuk Facility Location (6 Langkah)

# Langkah Aktivitas Output
1 Data Collection Demografi, ekonomi, infrastruktur, logistik, risiko, kompetitor Integrated data lake dari 50+ sumber
2 Demand Forecasting Train ML model dengan data 5-10 tahun, prediksi 1-5 tahun ke depan Forecast per wilayah dengan akurasi 85-95%
3 Candidate Generation AI generate 100-1000 lokasi kandidat, filter berdasarkan kriteria 20-50 lokasi kandidat terbaik
4 Multi-Objective Optimization Optimasi simultan: minimize cost + maximize service + minimize risk Pareto frontier (10-20 solusi optimal)
5 Scenario Simulation Simulasi 10,000+ skenario (Monte Carlo), evaluasi robustness Solusi paling resilient
6 Prescriptive Recommendation AI rekomendasikan 3-5 lokasi terbaik dengan confidence level Visualisasi peta interaktif + ROI projection

🛠️ AI Tools untuk Facility Location:

Platform Penyedia Kemampuan Utama Harga (Estimasi)
Coupa Supply Chain Design Coupa (LLamasoft) Network optimization, scenario planning, digital twin $100K – $500K/tahun
Blue Yonder Panasonic AI-powered network design, demand forecasting $80K – $400K/tahun
AIMMS AIMMS Custom optimization models, what-if analysis $50K – $300K/tahun
anyLogistix anyLogistix Simulation-based optimization, risk analysis $60K – $250K/tahun
Custom Python/R In-house Model ML custom (Scikit-learn, TensorFlow, PyTorch) $50K – $200K (development)
🧬

3. Contoh Implementasi: Genetic Algorithm

Genetic Algorithm (GA) adalah teknik optimasi yang meniru proses evolusi alam (seleksi alam, crossover, mutasi).

🧬 Cara Kerja Genetic Algorithm:

  1. Initialization: Buat populasi awal 100-1000 solusi acak (chromosome)
  2. Fitness Evaluation: Hitung “fitness score” setiap solusi (semakin rendah biaya = semakin fit)
  3. Selection: Pilih solusi terbaik untuk “reproduksi” (survival of the fittest)
  4. Crossover: Gabungkan 2 solusi parent untuk menghasilkan offspring
  5. Mutation: Ubah sedikit beberapa gene untuk diversifikasi
  6. Repeat: Ulangi langkah 2-5 selama 100-1000 generasi
  7. Result: Solusi terbaik setelah konvergensi

🧮 Contoh: Memilih 3 Warehouse dari 20 Kandidat

Masalah: Perusahaan memiliki 20 kandidat lokasi warehouse, harus memilih 3 yang optimal.

Representasi Chromosome:

[1, 0, 1, 0, 0, 1, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0, 0]
Angka 1 = dipilih, 0 = tidak dipilih. Contoh di atas: lokasi 1, 3, dan 6 dipilih.

Proses GA:

  • Generasi 1: 1000 solusi acak, fitness score rata-rata Rp 50 miliar/tahun
  • Generasi 10: Fitness score rata-rata turun ke Rp 35 miliar/tahun
  • Generasi 50: Fitness score rata-rata Rp 28 miliar/tahun
  • Generasi 100: Konvergensi di Rp 25 miliar/tahun
  • Solusi Terbaik: Warehouse di Semarang, Surabaya, dan Medan

Keunggulan GA:

  • Bisa menangani 20 kandidat = 1,140 kemungkinan kombinasi (C(20,3))
  • Menemukan solusi near-optimal dalam waktu cepat (menit vs hari)
  • Fleksibel untuk menambah constraints (kapasitas, jarak minimum, dll)

🇮🇩 Studi Kasus Indonesia: Lazada – AI Network Design

Tantangan: Lazada (Alibaba Group) perlu mendesain ulang network warehouse di Indonesia untuk mendukung pertumbuhan 200% per tahun.

Solusi AI:

  • Menggunakan platform LLamasoft (Coupa) untuk network optimization
  • Integrasi data dari 50+ sumber (BPS, Google Maps, internal sales data, competitor analysis)
  • Demand forecasting dengan LSTM Neural Network (akurasi 92%)
  • Multi-objective optimization: Minimize cost + Maximize same-day delivery + Minimize risk
  • Monte Carlo Simulation dengan 10,000 skenario (variasi demand, fuel price, exchange rate)

Rekomendasi AI:

Fase Tahun Jumlah Warehouse Lokasi Investasi
Fase 1 2022 5 Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Makassar Rp 500 miliar
Fase 2 2023 8 + Palembang, Balikpapan, Denpasar Rp 300 miliar
Fase 3 2024 12 + Pontianak, Manado, Bandung, Malang Rp 400 miliar

Hasil (2022-2024):

  • Same-day delivery coverage: 40% → 75% populasi Indonesia
  • Biaya logistik per paket turun 45% (Rp 22,000 → Rp 12,000)
  • Customer satisfaction score: 4.2/5 → 4.7/5
  • ROI: 280% dalam 3 tahun

4. Implementasi & Best Practices

🎯 Traditional vs AI-Powered Approach:

Aspek Traditional Approach AI-Powered Approach
Data yang Digunakan Biaya transportasi, upah, harga tanah Big Data (demografi, cuaca, traffic, sentimen, kompetitor)
Model Optimasi Linear programming, center of gravity Genetic algorithm, neural network, reinforcement learning
Objektif Single objective (minimize cost) Multi-objective (cost, service, risk, sustainability)
Risiko & Ketidakpastian Tidak dipertimbangkan Monte Carlo simulation, scenario planning
Waktu Analisis 2-6 bulan 1-2 minggu (real-time update)
Akurasi Prediksi 60-70% 85-95%
ROI 15-25% (3-5 tahun) 200-400% (1-3 tahun)

🇮🇩 Studi Kasus Indonesia: J&T Express – AI Network Expansion

Latar Belakang: J&T Express tumbuh 300% per tahun (2020-2023), perlu ekspansi network untuk melayani 10 juta paket/hari.

Tantangan:

  • Harus membuka 50+ gateway baru dalam 2 tahun
  • Setiap gateway membutuhkan investasi Rp 20-50 miliar
  • Keputusan salah = kerugian besar dan service level turun

Solusi AI:

  • Membangun tim data science internal (10 orang)
  • Mengembangkan custom AI model menggunakan Python (Scikit-learn, TensorFlow)
  • Integrasi data dari: GPS tracking, order management system, Google Maps API, BPS data
  • Model prediksi demand per kecamatan (92% akurasi)
  • Genetic algorithm untuk optimasi lokasi gateway
  • Dashboard real-time untuk monitoring performance

Hasil:

  • Berhasil membuka 50 gateway dalam 18 bulan (on-time, on-budget)
  • Coverage area: 85% → 98% populasi Indonesia
  • Lead time turun dari 3-5 hari → 1-2 hari
  • Biaya per paket turun 40% (Rp 8,000 → Rp 4,800)
  • Revenue tumbuh 250% dalam 2 tahun
  • ROI: 350% dalam 2 tahun
💡 Tren Masa Depan (2025-2030):
  • Digital Twin: Replika virtual dari seluruh SC untuk simulasi real-time
  • Reinforcement Learning: AI belajar dari pengalaman, adaptasi otomatis
  • Explainable AI (XAI): AI tidak hanya rekomendasikan, tapi juga jelaskan alasannya
  • Sustainability Optimization: Optimasi untuk minimize carbon footprint
  • Autonomous Decision Making: AI ambil keputusan kecil-medium secara otomatis

📋 Ringkasan Eksekutif Sesi 11

  • Keputusan Lokasi adalah Keputusan Strategis: Investasi besar, dampak jangka panjang (20-30 tahun), dan sulit untuk diubah. Jangan buat keputusan berdasarkan intuisi saja.
  • Model Klasik Masih Relevan: Center of Gravity, Transportation Model, Factor Rating, Load-Distance, dan Break-Even Analysis adalah fondasi yang harus dipahami sebelum menggunakan AI.
  • AI adalah Game Changer: AI memungkinkan optimasi multi-objectif, memodelkan ketidakpastian, dan menganalisis Big Data yang tidak bisa dilakukan model tradisional.
  • Data Quality is King: Hasil AI hanya sebaik data yang dimasukkan. Investasi dalam data collection dan cleaning sama pentingnya dengan algoritma.
  • Total Cost of Ownership (TCO): Jangan hanya lihat biaya tanah atau upah. Hitung semua biaya selama 10-20 tahun (transportasi, inventory, utilitas, pajak, dll).
  • Customer-Centric Approach: Lokasi terbaik adalah yang paling dekat dengan customer, bukan yang paling murah. Service level tinggi = customer satisfaction tinggi = revenue growth.

📚 Referensi

  • Bowersox, D.J., Closs, D.J., & Cooper, M.B. (2019). Supply Chain Logistics Management (5th ed.). McGraw-Hill. Chapter 14: Network Design & Planning, Chapter 15: Facility Location
  • Chopra, S., & Meindl, P. (2023). Supply Chain Management: Strategy, Planning, and Operation (8th ed.). Pearson. Chapter 5: Network Design in Supply Chain
  • Daskin, M.S. (2013). Network and Discrete Location: Models, Algorithms, and Applications (2nd ed.). Wiley.
  • Simchi-Levi, D., Kaminsky, P., & Simchi-Levi, E. (2008). Designing and Managing the Supply Chain (3rd ed.). McGraw-Hill.
  • McKinsey & Company. (2024). AI in supply chain network design: From optimization to autonomous decision making.
  • Coupa (LLamasoft). (2024). Supply Chain Network Design: Best Practices Guide.

Optimal Product Availability: The Economics of Stockout

Deskripsi Sesi: Menjawab pertanyaan fundamental: “Seberapa tinggi tingkat ketersediaan produk yang SEHARUSNYA kita capai?” Bukan berdasarkan intuisi, tapi berdasarkan hitungan profitabilitas maksimal (Cu vs Co).

Pendahuluan

Pada Sesi 10 kita membahas bagaimana mengelola persediaan. Sesi 11 membahas berapa banyak persediaan yang optimal.

“Target layanan 100% adalah bunuh diri finansial. Tingkat ketersediaan optimal bukan yang tertinggi, tetapi yang memaksimalkan profit total.”

1. Apa itu Product Availability?

Product availability mengukur probabilitas permintaan terpenuhi dari stok yang ada.

Cycle Service Level (CSL)
Probabilitas tidak terjadi stockout dalam satu siklus. (Fokus pada frekuensi).
Fill Rate (fr)
Proporsi unit permintaan yang terpenuhi langsung. (Fokus pada kuantitas).

2. The Fundamental Trade-off

⚖️ The Law of Diminishing Returns

Meningkatkan service level dari 90% ke 95% biayanya jauh lebih murah daripada menaikkan dari 98% ke 99%. Biaya inventory naik secara eksponensial di ujung kurva.

Service Level Target Implikasi Inventory Dampak Profit
Low (80-90%) Rendah Kehilangan banyak penjualan (Lost Sales).
Optimal (Sweet Spot) Moderat Profit Maksimal. Biaya seimbang dengan margin.
Extreme (99.9%) Sangat Tinggi Biaya simpan memakan margin profit.

3. Menghitung Optimal CSL (Newsvendor Model)

Untuk produk musiman (seperti koran atau fashion), kita hanya punya satu kesempatan memesan. Keputusan didasarkan pada dua biaya:

  • Cost of Overstocking (Co): Kerugian jika barang sisa. (Biaya Beli – Nilai Salvage).
  • Cost of Understocking (Cu): Kerugian jika barang kurang. (Harga Jual – Biaya Beli).

🧮 Studi Kasus Matematika

Skenario: Anda menjual Jaket Musim Dingin.

  • Harga Jual (p) = $250
  • Biaya Beli (c) = $100
  • Nilai Obral Akhir Musim (s) = $80

Langkah 1: Hitung Biaya Risiko

  • Cu (Untung yg hilang): $250 – $100 = $150
  • Co (Rugi barang sisa): $100 – $80 = $20

Langkah 2: Hitung Rasio Kritis (Critical Ratio)

CSL* = Cu / (Cu + Co)
CSL* = 150 / (150 + 20) = 0.88 (88%)

Kesimpulan Manajerial: Karena margin keuntungan ($150) jauh lebih besar daripada risiko kerugian ($20), Anda harus berani menyetok banyak. Target layanan optimal adalah 88%.

4. Tuas Manajerial untuk Meningkatkan Profit

Jangan hanya menerima nasib ketidakpastian. Gunakan strategi ini untuk meningkatkan profit tanpa harus menimbun stok:

1. Improved Forecasting

Gunakan data AI/Market Intelligence untuk mengurangi standar deviasi error.

2. Quick Response

Kurangi lead time agar bisa melakukan replenishment di tengah musim, bukan single order di awal.

3. Postponement

Tunda diferensiasi produk (misal: pewarnaan) sampai ada pesanan pasti.

5. Postponement: Ilustrasi Nilai Ekonomis

Strategi Benetton: Memproduksi kaos polos (gureige) dulu, baru dicelup warna saat tren warna musim itu sudah jelas.

Manfaat (Benefits) Dampak Operasional
Fleksibilitas (Agility) Bisa merespons perubahan tren warna mendadak tanpa stok mati.
Pengurangan Risiko Meminimalkan risiko memproduksi warna yang tidak laku (unsellable).
Penghematan Inventory Stok disimpan dalam bentuk agregat (polos), yang variabilitasnya lebih rendah daripada stok per warna.

6. Alokasi Kapasitas Terbatas

The Golden Rule of Allocation:

Jika kapasitas produksi terbatas dan permintaan melebihi suplai, jangan bagi rata. Alokasikan kapasitas ke produk yang memiliki Expected Marginal Contribution (EMC) tertinggi.

Ringkasan Eksekutif Sesi 11

  • Economic Decision: Tingkat ketersediaan adalah keputusan ekonomi (Profit vs Cost), bukan target emosional.
  • Critical Ratio: CSL optimal ditentukan oleh perbandingan biaya Understocking vs Overstocking.
  • Aggregation Benefit: Strategi seperti Postponement memanfaatkan agregasi untuk menurunkan ketidakpastian.
  • Smart Allocation: Saat langka, prioritaskan produk dengan kontribusi margin tertinggi.

Referensi:
Chopra, S., & Meindl, P. (2023). Supply chain management: Strategy, planning, and operation (8th ed.). Pearson.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *