Sesi 13 BDM

Inventory Control Models – Menyeimbangkan Stok & Biaya

Selamat datang di Sesi 13! Setelah sebelumnya kita belajar meramal permintaan (Forecasting), sekarang timbul pertanyaan logis: “Setelah tahu berapa permintaannya, berapa banyak barang yang harus kita stok di gudang?”

Manajemen persediaan adalah seni menyeimbangkan dua ketakutan manajer:

  1. Takut Kehabisan Barang (Stockout): Pelanggan marah, penjualan hilang.
  2. Takut Kelebihan Barang (Overstock): Modal mati, biaya gudang membengkak, barang rusak.

Pada sesi ini, kita akan membahas model matematika untuk menjawab dua pertanyaan fundamental: Berapa banyak harus dipesan? dan Kapan harus memesan ulang?

1. Komponen Biaya Persediaan (Total Inventory Cost)

Tujuan utama model inventori adalah Meminimalkan Total Biaya. Biaya ini terdiri dari tiga komponen utama yang saling bertolak belakang:

  1. Ordering Cost / Setup Cost ($C_o$): Biaya administrasi setiap kali membuat pesanan (telepon, pengiriman, inspeksi).
    • Sifat: Semakin jarang memesan (sekali pesan banyak), biaya ini semakin MURAH.
  2. Carrying Cost / Holding Cost ($C_h$): Biaya menyimpan barang (sewa gudang, listrik, asuransi, risiko rusak).
    • Sifat: Semakin banyak memesan, biaya ini semakin MAHAL.
  3. Stockout Cost: Biaya kerugian jika barang kosong (kehilangan profit + reputasi buruk).

2. Economic Order Quantity (EOQ)

Model tertua dan paling terkenal. EOQ mencari titik tengah di mana Biaya Pesan = Biaya Simpan.

Asumsi EOQ:

  • Permintaan diketahui dan konstan.
  • Waktu tunggu (Lead Time) konstan.
  • Tidak ada diskon kuantitas (harga barang tetap).

Rumus EOQ:

$$Q^* = \sqrt{\frac{2DC_o}{C_h}}$$

  • $Q^*$: Jumlah pemesanan optimal (EOQ).
  • $D$: Permintaan tahunan (Annual Demand).
  • $C_o$: Biaya pesan per order.
  • $C_h$: Biaya simpan per unit per tahun.

Logika EOQ: Jika Anda memesan sesuai jumlah EOQ, Anda berada di titik terendah kurva total biaya (Total Cost Curve).


3. Reorder Point (ROP): Kapan Harus Pesan?

EOQ memberi tahu kita berapa banyak (Quantity), sedangkan ROP memberi tahu kita kapan (Timing).

Kita tidak boleh menunggu stok 0 baru memesan, karena supplier butuh waktu kirim (Lead Time).

$$ROP = d \times L$$

  • $d$: Permintaan per hari.
  • $L$: Waktu tunggu (Lead time) dalam hari.

Contoh: Jika rata-rata kita jual 10 unit/hari dan supplier butuh 5 hari untuk kirim barang, maka saat stok di gudang sisa 50 unit, kita harus segera telepon supplier.


4. Safety Stock (Stok Pengaman)

Di dunia nyata, permintaan tidak selalu konstan (kadang naik mendadak) dan supplier kadang terlambat. Jika kita hanya mengandalkan ROP standar, risiko Stockout tinggi.

Solusinya adalah menambah Safety Stock (SS).

$$ROP = (d \times L) + SS$$

Bagaimana menentukan Safety Stock?

Kita menggunakan konsep Service Level (Tingkat Layanan).

  • Misal: Manajemen ingin jaminan 95% tidak akan kehabisan stok.
  • Kita menggunakan distribusi Normal (Z-score) untuk menghitung berapa stok tambahan yang dibutuhkan untuk meng-cover fluktuasi permintaan selama Lead Time.

5. ABC Analysis

Tidak semua barang di gudang itu sama pentingnya. Manajemen persediaan yang cerdas menggunakan Prinsip Pareto:

  • Kelas A (Critical): Barang mahal atau high volume. Mewakili 70-80% nilai uang ($), tapi hanya 10-20% jumlah item. Perlakuan: Kontrol ketat, hitung stok tiap minggu.
  • Kelas B (Important): Nilai menengah.
  • Kelas C (Less Important): Barang murah (mur, baut). Mewakili 5% nilai uang, tapi 50% jumlah item. Perlakuan: Kontrol longgar, pesan banyak sekalian.

6. Implementasi di Excel

Dalam file latihan (biasanya 12-1 s/d 12-7), Anda akan melihat struktur berikut:

  1. Input Parameters: Sel untuk memasukkan Annual Demand, Ordering Cost, dan Holding Cost.
  2. Calculated Cells:
    • EOQ dihitung dengan rumus =SQRT((2*Demand*OrderCost)/HoldCost).
    • Total Cost dihitung dengan menjumlahkan Biaya Pesan Tahunan + Biaya Simpan Tahunan.
  3. Data Table: Sering digunakan untuk analisis sensitivitas. “Apa yang terjadi pada Total Biaya jika Holding Cost naik 10%?”

Kesimpulan Sesi 13

Inventory Control bukan sekadar “menumpuk barang”. Ini adalah manajemen arus kas. Uang yang tertahan di gudang adalah uang yang tidak bisa digunakan untuk investasi lain.

Dengan model EOQ, kita meminimalkan pemborosan biaya. Dengan Safety Stock, kita menjaga kepuasan pelanggan. Dan dengan ABC Analysis, kita tahu prioritas kerja kita.

Tugas Mandiri:

Coba hitung barang di rumah Anda (misal: Sabun Cuci). Berapa rata-rata pemakaian per bulan? Berapa biaya bensin/transport tiap kali belanja? Apakah lebih hemat belanja bulanan (sekali banyak) atau mingguan (sedikit-sedikit)? Itulah konsep dasar EOQ!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *