SCM Sesi 14

Information Technology, Sustainability, dan Peran AI

Deskripsi Sesi: Menghubungkan titik antara efisiensi digital dan tanggung jawab ekologis. Bagaimana teknologi seharusnya menjadi enabler keberlanjutan, bukan pencipta beban energi baru.

Pendahuluan: Dari Efisiensi ke Tanggung Jawab

Pada tahap awal, teknologi informasi dalam rantai pasok dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dan koordinasi. Namun, dalam dekade terakhir, perannya meluas menjadi penentu keberlanjutan (sustainability) dan tanggung jawab lingkungan.

Ironisnya, di saat teknologi digital—termasuk AI—dipromosikan sebagai solusi hijau, konsumsi energi pusat data dan komputasi justru meningkat signifikan.

“Bagaimana teknologi, AI, dan keberlanjutan harus ditempatkan secara selaras, bukan saling meniadakan.”

1. Peran Informasi dan TI dalam Rantai Pasok

Peran Informasi dan TI dalam SCM
SRM, ISCM, CRM Diagram

Menurut Chopra & Meindl (Bab 17), informasi adalah fondasi utama rantai pasok. Tanpa informasi yang akurat, tepat waktu, relevan, dan dibagikan lintas pelaku, keputusan rantai pasok akan bersifat reaktif dan mahal.

Supply Chain Macro Processes

TI menopang tiga macro processes utama yang berdiri di atas Transaction Management Foundation (TMF):

Proses Deskripsi & Fungsi
1. CRM
(Customer Relationship Management)
Fokus pada interaksi dengan konsumen (hilir). Mencakup pemasaran, penjualan, manajemen pesanan, dan layanan pelanggan.
2. ISCM
(Internal SCM)
Fokus pada operasi internal. Mencakup perencanaan strategis, perencanaan permintaan, dan perencanaan pasokan/produksi.
3. SRM
(Supplier Relationship Management)
Fokus pada interaksi dengan pemasok (hulu). Mencakup negosiasi, pembelian, dan kolaborasi desain produk.

Penting: Digitalisasi bukan soal “aplikasi baru”, tetapi menyatukan proses yang sebelumnya terfragmentasi (silos).

2. Evolusi TI: Dari ERP ke Analitik dan AI

Evolusi ERP dan Visibility
Agentic AI
  • Awalnya: ERP (Enterprise Resource Planning) → Fokus pada otomasi transaksi & pencatatan.
  • Kemudian: APS (Advanced Planning & Scheduling) → Fokus pada perencanaan & optimasi.
  • Sekarang: AI & Advanced Analytics → Fokus pada prediksi, simulasi, dan rekomendasi keputusan (Agentic AI).
Catatan Kritis Chopra: “IT harus mendukung pengambilan keputusan, bukan menggantikannya.” AI yang “pintar” tetapi boros energi dan tidak transparan justru menciptakan masalah baru.

3. Sustainability: Memperluas Tujuan Rantai Pasok

Sustainable Supply Chain Framework
Tragedy of the Commons

Bab 18 menegaskan bahwa rantai pasok tidak bisa lagi hanya mengejar biaya rendah. Tujuannya harus diperluas untuk mencakup dampak terhadap lingkungan, masyarakat, dan generasi mendatang (Triple Bottom Line).

The Tragedy of the Commons

Masalah klasik ketika keputusan optimal individu ≠ keputusan optimal kolektif. Solusinya tidak mungkin sukarela sepenuhnya, tetapi memerlukan:

  • Regulasi pemerintah.
  • Mekanisme pasar (carbon tax, cap-and-trade).
  • Transparansi informasi yang didukung TI.

4. Metrik dan KPI Keberlanjutan

Six Sustainability KPIs

Empat area metrik utama (Chopra Bab 18) untuk menghindari Greenwashing:

  1. Konsumsi Energi: Efisiensi penggunaan listrik/bahan bakar.
  2. Konsumsi Air: Penggunaan air dalam proses produksi.
  3. Emisi Gas Rumah Kaca: Jejak karbon (Scope 1, 2, 3).
  4. Produksi Limbah: Material yang berakhir di landfill.

Di sinilah Digital Traceability menjadi krusial untuk memverifikasi data ini secara akurat.

4.1. Operational KPIs (The Dashboard)

Data mentah (Metrik) tidak bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan. Anda harus mengubahnya menjadi KPI Terukur. Berikut adalah 5 KPI wajib dalam Green Supply Chain:

Area & Nama KPI Rumus (Formula) Dampak Finansial (S2 Finance View)
TRANSPORTASI
Carbon Efficiency (Intensity)
Total Emisi CO2 (kg) / (Total Ton Barang x Total Km Jarak) Mengukur efisiensi BBM per muatan. Angka makin kecil = Biaya logistik turun.
FASILITAS
Energy Intensity
Total kWh Listrik / Total Unit Output Produksi Direct Cost Reduction. Menunjukkan seberapa boros mesin pabrik/gudang untuk setiap produk jadi.
SOURCING
Green Procurement Ratio
(Pembelian dari Vendor Bersertifikat ISO14001 / Total Pembelian) x 100% Mitigasi Risiko Reputasi & Kepatuhan (Compliance Risk).
LIMBAH (WASTE)
Landfill Diversion Rate
(Berat Limbah Daur Ulang + Kompos) / Total Berat Limbah x 100% Potensi pendapatan tambahan dari penjualan sisa material (Scrap Value).
UTILISASI
Vehicle Fill Rate (VFR)
Volume Muatan Aktual / Total Kapasitas Truk (m3) Mencegah “Shipping Air”. VFR rendah = Membayar solar untuk mengangkut angin.

5. Sustainability pada Setiap Supply Chain Driver

Bagaimana menerapkan keberlanjutan pada elemen teknis rantai pasok? Berikut breakdown-nya:

Driver (Penggerak) Strategi Keberlanjutan & Peluang
a. Facilities
(Fasilitas)
  • Konsumen energi & air terbesar.
  • Peluang: Energy efficiency, instalasi energi terbarukan (surya).
  • Seringkali menghasilkan positive cash flow jangka panjang.
b. Inventory
(Persediaan)
  • Barang = energi & material yang “dibekukan”.
  • Pendekatan: Life Cycle Assessment (LCA).
  • Tujuan: Mengurangi harmful inventory dan pemborosan material (obsolescence).
c. Transportation
(Transportasi)
  • Menurunkan biaya transportasi biasanya menurunkan emisi.
  • Optimasi rute dan penggunaan moda transportasi rendah emisi (Laut vs Udara).
  • Desain kemasan produk berperan besar dalam efisiensi ruang truk.
d. Sourcing
(Pengadaan)
  • Mayoritas dampak lingkungan ada di extended supply chain (Pemasok tier 2, 3).
  • Tantangan utama: Verifikasi kinerja pemasok (Audit & Compliance).
e. Information
(Informasi & Harga)
  • Tanpa data = Klaim kosong.
  • Dynamic pricing berbasis waktu/beban energi dapat mengubah perilaku konsumsi pelanggan.

6. Closed-Loop Supply Chain & Circular Economy

Circular Supply Chain

Keberlanjutan tidak mungkin tercapai jika output rantai pasok berakhir di tempat pembuangan akhir (landfill). Prinsip closed-loop meliputi:

  • Desain produk untuk mudah dibongkar (reuse & recycle).
  • Reverse Logistics: Alur barang kembali dari konsumen ke produsen.
  • Insentif ekonomi yang selaras antar pelaku (misal: deposit botol).

Kunci Sukses: Bukan teknologi semata, tetapi alignment kepentingan ekonomi.

🎓 Lecturer’s Insight

Catatan Kritis: The AI Energy Paradox

Tanpa menyebut merek, realitanya:

  • Model AI besar membutuhkan konsumsi energi sangat tinggi.
  • Data center menyumbang jejak karbon signifikan.
  • Otomatisasi berlebihan bisa mengalami diminishing returns.

Pesan Saya: SCM yang matang tidak mengejar AI tercanggih, tetapi mengejar keputusan terbaik dengan resource minimum. Teknologi harus proporsional dan sadar energi.

Risk Management dalam TI

Risiko TI adalah Risiko Bisnis. Jangan menerapkan sistem “Big Bang”. Gunakan pendekatan:

  • Implementasi bertahap.
  • Jalankan sistem paralel sebelum switch-over.
  • Fokus pada Value, bukan fitur yang “keren” tapi tidak terpakai.

Ringkasan Sesi 14 (Key Takeaways)

  • Foundation: TI adalah fondasi koordinasi rantai pasok modern.
  • Support Role: AI & analitik harus mendukung, bukan menggantikan keputusan manusia.
  • Expanded Goal: Sustainability memperluas tujuan SCM dari sekadar profit menjadi Profit, Planet, People.
  • Data Integrity: Metrik & data adalah kunci menghindari greenwashing.
  • Efficiency: Teknologi hijau harus hemat energi dan tepat guna.
  • Strategic Fit: Keunggulan lahir dari keselarasan antara teknologi, proses, dan nilai perusahaan.

Referensi:
Chopra, S., & Meindl, P. (2023). Supply chain management: Strategy, planning, and operation (8th ed.). Pearson.

Sebelumnya


Sesi 13

Final Module


Tamat 🎓

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *