Optimal Product Availability: The Economics of Stockout
Deskripsi Sesi: Menjawab pertanyaan fundamental: “Seberapa tinggi tingkat ketersediaan produk yang SEHARUSNYA kita capai?” Bukan berdasarkan intuisi, tapi berdasarkan hitungan profitabilitas maksimal (Cu vs Co).
Pendahuluan
Pada Sesi 10 kita membahas bagaimana mengelola persediaan. Sesi 11 membahas berapa banyak persediaan yang optimal.
“Target layanan 100% adalah bunuh diri finansial. Tingkat ketersediaan optimal bukan yang tertinggi, tetapi yang memaksimalkan profit total.”
1. Apa itu Product Availability?
Product availability mengukur probabilitas permintaan terpenuhi dari stok yang ada.
Probabilitas tidak terjadi stockout dalam satu siklus. (Fokus pada frekuensi).
Proporsi unit permintaan yang terpenuhi langsung. (Fokus pada kuantitas).
2. The Fundamental Trade-off
⚖️ The Law of Diminishing Returns
Meningkatkan service level dari 90% ke 95% biayanya jauh lebih murah daripada menaikkan dari 98% ke 99%. Biaya inventory naik secara eksponensial di ujung kurva.
| Service Level Target | Implikasi Inventory | Dampak Profit |
|---|---|---|
| Low (80-90%) | Rendah | Kehilangan banyak penjualan (Lost Sales). |
| Optimal (Sweet Spot) | Moderat | Profit Maksimal. Biaya seimbang dengan margin. |
| Extreme (99.9%) | Sangat Tinggi | Biaya simpan memakan margin profit. |
3. Menghitung Optimal CSL (Newsvendor Model)
Untuk produk musiman (seperti koran atau fashion), kita hanya punya satu kesempatan memesan. Keputusan didasarkan pada dua biaya:
- Cost of Overstocking (Co): Kerugian jika barang sisa. (Biaya Beli – Nilai Salvage).
- Cost of Understocking (Cu): Kerugian jika barang kurang. (Harga Jual – Biaya Beli).
🧮 Studi Kasus Matematika
Skenario: Anda menjual Jaket Musim Dingin.
- Harga Jual (p) = $250
- Biaya Beli (c) = $100
- Nilai Obral Akhir Musim (s) = $80
Langkah 1: Hitung Biaya Risiko
- Cu (Untung yg hilang): $250 – $100 = $150
- Co (Rugi barang sisa): $100 – $80 = $20
Langkah 2: Hitung Rasio Kritis (Critical Ratio)
CSL* = Cu / (Cu + Co)
CSL* = 150 / (150 + 20) = 0.88 (88%)
Kesimpulan Manajerial: Karena margin keuntungan ($150) jauh lebih besar daripada risiko kerugian ($20), Anda harus berani menyetok banyak. Target layanan optimal adalah 88%.
4. Tuas Manajerial untuk Meningkatkan Profit
Jangan hanya menerima nasib ketidakpastian. Gunakan strategi ini untuk meningkatkan profit tanpa harus menimbun stok:
Gunakan data AI/Market Intelligence untuk mengurangi standar deviasi error.
Kurangi lead time agar bisa melakukan replenishment di tengah musim, bukan single order di awal.
Tunda diferensiasi produk (misal: pewarnaan) sampai ada pesanan pasti.
5. Postponement: Ilustrasi Nilai Ekonomis
Strategi Benetton: Memproduksi kaos polos (gureige) dulu, baru dicelup warna saat tren warna musim itu sudah jelas.
| Manfaat (Benefits) | Dampak Operasional |
|---|---|
| Fleksibilitas (Agility) | Bisa merespons perubahan tren warna mendadak tanpa stok mati. |
| Pengurangan Risiko | Meminimalkan risiko memproduksi warna yang tidak laku (unsellable). |
| Penghematan Inventory | Stok disimpan dalam bentuk agregat (polos), yang variabilitasnya lebih rendah daripada stok per warna. |
6. Alokasi Kapasitas Terbatas
Jika kapasitas produksi terbatas dan permintaan melebihi suplai, jangan bagi rata. Alokasikan kapasitas ke produk yang memiliki Expected Marginal Contribution (EMC) tertinggi.
Ringkasan Eksekutif Sesi 11
- Economic Decision: Tingkat ketersediaan adalah keputusan ekonomi (Profit vs Cost), bukan target emosional.
- Critical Ratio: CSL optimal ditentukan oleh perbandingan biaya Understocking vs Overstocking.
- Aggregation Benefit: Strategi seperti Postponement memanfaatkan agregasi untuk menurunkan ketidakpastian.
- Smart Allocation: Saat langka, prioritaskan produk dengan kontribusi margin tertinggi.
Chopra, S., & Meindl, P. (2023). Supply chain management: Strategy, planning, and operation (8th ed.). Pearson.