Aurino Djamaris

Ada satu hal menarik dari berpikir sistem:
ia tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu untuk dipanggil kembali.
Saya mempelajarinya puluhan tahun lalu,
di masa ketika belajar berarti menggambar skema di kertas,
dan memahami hubungan sebab–akibat tanpa bantuan visual interaktif.
Waktu itu, saya belum sadar bahwa yang sedang saya pelajari
bukan sekadar metode,
melainkan cara melihat dunia.

Hari ini, dunia akademik dipenuhi:
- data besar,
- alat analisis canggih,
- AI yang menjawab dalam hitungan detik.
Namun justru di titik ini saya semakin merasakan:
yang langka bukan informasi, tapi cara berpikir utuh.
Systems thinking mengajarkan saya untuk:
- tidak terburu-buru menyimpulkan,
- tidak jatuh cinta pada satu metode,
- dan tidak mengira satu solusi berlaku universal.
Mengajar Bukan Lagi Memindahkan Pengetahuan

Semakin lama mengajar, saya menyadari bahwa:
- mahasiswa tidak kekurangan referensi,
- mereka kekurangan kerangka berpikir.
Di sinilah berpikir sistem menjadi relevan kembali.
Bukan untuk membuat mereka pintar,
tetapi untuk membuat mereka tidak keliru sejak awal.
Systems Thinking dan Kedewasaan Akademik
Berpikir sistem bukan soal kecerdasan.
Ia soal kesabaran intelektual.
Kesabaran untuk:
- melihat keterkaitan,
- menerima kompleksitas,
- dan menunda jawaban cepat demi pemahaman yang lebih dalam.
Mungkin inilah sebabnya berpikir sistem
baru terasa “klik” ketika seseorang sudah cukup lama belajar.

Penutup (Reflektif)
Ilmu yang baik tidak selalu yang terbaru.
Kadang ia adalah ilmu lama
yang akhirnya kita pahami pada waktu yang tepat.
