SCM Sesi 12

Transportation: Tulang Punggung Fisik Rantai Pasok

Deskripsi Sesi: Mengubah cara pandang terhadap transportasi: dari sekadar “truk pengangkut barang” menjadi tuas strategis yang menyeimbangkan efisiensi biaya dan responsivitas layanan.

Pendahuluan

Produk jarang diproduksi dan dikonsumsi di lokasi yang sama. Transportasi adalah penghubung fisik yang memungkinkan transaksi terjadi.

“Transportation bukan sekadar memindahkan barang, tetapi menentukan biaya, responsivitas, dan struktur inventaris rantai pasok.”

1. Peran Transportasi dalam Rantai Pasok

Menurut Chopra & Meindl, keputusan transportasi memiliki dampak domino:

  • Biaya Langsung: Menyerap porsi signifikan dari total biaya logistik.
  • Dampak Inventori: Transportasi lambat = Inventory in-transit naik + Safety stock naik.
  • Dampak Layanan: Transportasi cepat = Lead time turun = Responsivitas naik.

2. Karakteristik Kinerja Moda Transportasi

Moda Transportasi Road Rail Air Sea Pipe
Ilustrasi: Berbagai opsi moda transportasi dengan karakteristik uniknya.

Jangan menghafal spesifikasi teknis, tapi pahami Trade-off Ekonomi-nya. Berikut perbandingan strategis (Disarikan dari Tabel 14-3 Chopra):

Moda Kekuatan (Pros) Kelemahan (Cons) Cocok Untuk
Air (Udara) Sangat Cepat. Biaya Sangat Tinggi. Kapasitas terbatas. Barang High-value, Emergency, Farmasi, Elektronik kecil.
Truck (Truk) Fleksibel (Door-to-door). Cepat untuk jarak pendek. Terpengaruh macet/cuaca. Kapasitas medium. FMCG, Distribusi ritel, Last-mile delivery.
Rail (Kereta) Murah untuk muatan berat. Bebas macet. Tidak fleksibel (fixed track). Waktu tempuh lama. Komoditas curah (batu bara), Mobil, Kontainer jarak jauh.
Water (Laut) Biaya termurah. Kapasitas raksasa. Sangat lambat. Risiko inventory in-transit tinggi. Global sourcing, Barang Low-value (Baju, Mainan, Furniture).
Pipeline Efisiensi tinggi untuk fluida. Investasi awal mahal. Sangat kaku. Minyak, Gas, Air.
Infografis Trade-off Transportasi Cepat vs Lambat
The Strategic Trade-off: Memilih moda bukan sekadar soal harga tiket, tapi menyeimbangkan Inventory Cost vs Speed.

3. Opsi Desain Jaringan Transportasi

Diagram Opsi Desain Jaringan Transportasi
Visualisasi skema jaringan: Dari Direct Shipping hingga penggunaan Distribution Center (DC).

Bagaimana barang berpindah dari Supplier ke Buyer? Tidak ada satu desain terbaik, yang ada adalah yang paling pas. Berikut opsi utamanya:

1. Direct Shipment

Pengiriman langsung dari Pemasok ke Toko. Cepat, tapi mahal jika volume kecil (LTL).

2. Milk Runs

Satu truk keliling mengambil/mengantar ke banyak lokasi. Menghemat biaya transport dengan menggabungkan muatan.

3. Via DC (Cross-docking)

Barang transit sebentar di DC untuk disortir tanpa disimpan lama. Memerlukan koordinasi super ketat.

4. Studi Kasus: Direct Shipping vs Milk Runs

🧮 Simulasi Biaya (Chopra Example)

Data: 8 Toko, Kapasitas Truk 40.000 unit. Biaya per truk $1.000 + $100 per stop.

SKENARIO A: Permintaan Tinggi (High Demand)

  • Direct Shipping Total Cost: $972,800 (Lebih Murah) ✅
  • Milk Runs Total Cost: $985,600 (Lebih Mahal) ❌

Alasan: Karena volume besar, truk sudah penuh (TL) meski kirim langsung. Milk run hanya menambah biaya stop dan inventory.

SKENARIO B: Permintaan Rendah (Low Demand)

  • Direct Shipping Total Cost: $233,600 (Mahal – Boros LTL) ❌
  • Milk Runs Total Cost: $166,400 (Lebih Hemat) ✅

Alasan: Volume kecil membuat pengiriman langsung tidak efisien. Menggabungkan rute (Milk run) drastis menurunkan biaya.

5. Tailored Transportation: Puncak Strategi

Perusahaan modern tidak menggunakan satu metode. Mereka menggunakan Tailored Network (Jaringan yang Disesuaikan) berdasarkan segmen pelanggan dan produk.

Matriks Keputusan (Table 14-11):

Karakter Produk Strategi Transportasi Alasan
High Value / High Demand Disaggregate Inventory + Fast Transport Stok dipecah agar dekat, transport cepat untuk hindari stockout.
High Value / Low Demand Aggregate Inventory + Fast Transport Stok dipusatkan (risiko rendah), kirim pakai kurir cepat (FedEx/DHL).
Low Value / High Demand Disaggregate Inventory + Cheap Transport Stok di mana-mana, kirim pakai truk murah (TL) karena volume besar.

6. Fenomena Agregasi Inventori

Salah satu konsep terpenting dalam logistik:

“Jika Anda memusatkan stok di satu gudang pusat (Agregasi), biaya transportasi ke pelanggan (last mile) akan NAIK, tetapi biaya inventory safety stock akan TURUN drastis (Square Root Law).”

Strategi ini cocok untuk produk yang perputarannya lambat (Slow Moving) dan bernilai tinggi.

7. Peran IT dan Manajemen Risiko

Sistem TMS (Transportation Management System) modern membantu:

  • Optimasi rute dinamis (menghemat BBM).
  • Tracking real-time (Visibility).
  • Audit pembayaran freight otomatis.

Risiko Utama: Keterlambatan, kerusakan barang, dan fluktuasi harga bahan bakar. Mitigasi terbaik adalah memiliki kontrak fleksibel dan opsi moda cadangan.

Ringkasan Eksekutif Sesi 12

  • Integral Link: Transportasi mempengaruhi Biaya, Inventori, dan Layanan sekaligus.
  • No One Size Fits All: Tidak ada moda terbaik. Yang ada adalah trade-off antara kecepatan vs biaya.
  • Demand Driven: Gunakan Direct Shipping untuk volume besar, dan Milk Runs untuk volume kecil.
  • Tailored Network: Sesuaikan jaringan transportasi dengan densitas dan nilai produk.

Referensi:
Chopra, S., & Meindl, P. (2023). Supply chain management: Strategy, planning, and operation (8th ed.). Pearson.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *