SCM Sesi 07

Demand Forecasting: Fondasi Kecerdasan Rantai Pasok

Deskripsi Sesi: Ramalan permintaan bukan sekadar tebakan statistik. Sesi ini mengupas teknik peramalan (Time Series & Causal) sebagai input vital bagi perencanaan operasi dan mitigasi Bullwhip Effect.

Pendahuluan: The Starting Point

Semua keputusan strategis SCM—mau bangun pabrik, mau stok berapa, mau rekrut orang—dimulai dari satu pertanyaan sederhana tapi sulit: “Berapa banyak yang akan dibeli pelanggan?”

“Ramalan selalu salah. Kunci sukses bukan membuat ramalan sempurna, tapi meminimalkan error dan membangun rantai pasok yang responsif terhadap kesalahan ramalan tersebut.”

1. Empat Hukum Peramalan

Sebelum menghitung, pahami dulu sifat alami dari demand forecasting:

1. Forecasts are Always Wrong

Selalu sertakan margin of error (misal: 1000 ± 50 unit).

2. Long-term is Less Accurate

Meramal besok lebih akurat daripada meramal tahun depan.

3. Aggregate is More Accurate

Meramal “Total Penjualan Toyota” lebih akurat daripada “Total Penjualan Toyota Avanza Veloz Merah”.

4. Bullwhip Effect

Semakin ke hulu (pabrik/supplier), distorsi informasi semakin parah.

2. Taksonomi Metode Peramalan

Metode Karakteristik Kapan Digunakan?
Kualitatif Subjektif, opini pakar, survei pasar. Produk baru, data historis tidak ada.
Time Series Menggunakan data masa lalu untuk memprediksi masa depan. (Moving Average, Exponential Smoothing). Permintaan stabil, data historis banyak.
Kausal (Causal) Mencari hubungan sebab-akibat (Regresi). Misal: Demand vs Harga. Saat ada promosi harga atau perubahan ekonomi makro.
Simulasi Meniru perilaku konsumen dengan model komputer. Skenario kompleks.

3. Bedah Rumus Time Series (Adaptive)

Komponen Permintaan

Demand = (Level + Trend + Seasonality) + Random Error

🧮 1. Simple Exponential Smoothing

Digunakan saat tidak ada tren dan tidak ada musiman.

Ft+1 = α(Dt) + (1-α)(Ft)

  • Ft+1: Ramalan periode depan
  • Dt: Permintaan aktual periode ini
  • Ft: Ramalan periode ini
  • α (Alpha): Faktor penghalusan (0 < α < 1). Makin besar α, makin responsif terhadap data baru.

🧮 2. Holt’s Model (Trend Corrected)

Digunakan saat data memiliki TREN (naik/turun terus).

Terdiri dari dua persamaan: Level (L) dan Trend (T).

  • Level: Lt = α(Dt) + (1-α)(Lt-1 + Tt-1)
  • Trend: Tt = β(Lt – Lt-1) + (1-β)(Tt-1)
  • Forecast: Ft+n = Lt + n(Tt)

🧮 3. Winter’s Model (Seasonal)

Digunakan saat data memiliki TREN dan MUSIMAN (Paling Kompleks & Akurat).

Menambahkan faktor ketiga: Seasonal Index (S).

(Studi Kasus Tahoe Salt di buku Chopra membuktikan bahwa Model Winter memberikan error terendah untuk produk musiman).

4. Mengukur Kesalahan (Forecast Error)

Bagaimana kita tahu ramalan kita bagus? Gunakan metrik ini:

MAD (Mean Absolute Deviation)

Rata-rata kesalahan absolut (dalam unit).

MAPE (Mean Absolute % Error)

Rata-rata kesalahan dalam persen (%). Paling mudah dipahami manajemen.

Bias (Tracking Signal)

Apakah ramalan kita konsisten terlalu tinggi (over) atau terlalu rendah (under)?

🎥 Video: Dasar-Dasar Peramalan

Ringkasan Eksekutif Sesi 07

  • Input Strategis: Tanpa ramalan, S&OP dan MPS (Jadwal Produksi) tidak bisa berjalan.
  • Method Selection: Jangan pakai Moving Average untuk data musiman. Pilih metode yang sesuai pola data.
  • Adaptive: Perbarui parameter (alpha, beta, gamma) secara berkala seiring perubahan pasar.
  • Collaboration: Ramalan terbaik datang dari kolaborasi data (statistik) dan intuisi pasar (marketing).

Referensi:
Chopra, S., & Meindl, P. (2023). Supply chain management: Strategy, planning, and operation (8th ed.). Pearson.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *